Pergemi & IDI Kupas Tuntas Vaksin Covid19 & Nutrisi Untuk Lansia

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta: Dwi Arifin
Koran Sinar Pagi (Bandung)-, COVID-19 memang mempengaruhi segala usia, namun warga lansia menjadi kelompok paling rentan terdampak. Jumlah lansia (di atas 60 tahun) di Indonesia kini mencapai 28,7 juta jiwa atau 10,6 persen dari total jumlah penduduk di Tanah Air dan tak jarang di antaranya memiliki penyakit penyerta atau komorbid dan berisiko tinggi. Oleh karena itu, kelompok masyarakat ini memerlukan perhatian khusus agar terlindung dari berbagai risiko COVID-19 dan tetap sehat. Meskipun pemerintah telah mencanangkan program vaksinasi untuk kelompok lansia, namun masih banyak yang perlu dilakukan untuk melindungi mereka, salah satunya menjamin asupan nutrisi protein berkualitas tinggi sejak persiapan vaksinasi hingga setelah vaksinasi agar daya tahan tubuh lansia tetap optimal.

Hal tersebut dibahas secara khusus pada acara KALBE Nutritionals melalui brand Entrasol dengan produknya yaitu Entrasol Senior – nutrisi harian untuk membantu meningkatkan imunitas agar lansia tetap aktif–berkolaborasi dengan Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyelenggarakan kegiatan Health Talk (Bincang Sehat) bertema Entrasol Kupas Tuntas Vaksin COVID-19 & Nutrisi untuk Lansia yang berlangsung secara virtual dan terbuka untuk umum pada Minggu, (07/03/21).

Prof. DR. dr. Siti Setiati, SpPD-KGer, M-Epid, FINASIM, Dokter Penyakit Dalam Sub Spesialis Geriatric FKUI RSCM Ketua PERGEMI menekankan pentingnya mempersiapkan lansia agar vaksinasi bekerja dengan optimal.

“Hal yang perlu dipertimbangkanterkait vaksinasi pada lansia adalah terjadinya immunosenescence atau disfungsi imunitas karena usia. Hal ini berhubungan dengan respon terhadap vaksin yang kurang maksimal. Karena immunosenescence biasanya sudah terjadi inflamasi kronis level rendah akibat dari kombinasi penurunan imunitas tubuh, paparan terhadap antigen terus menerus, peningkatan produksi sitokin proinflamasi dari senescent T cells dan makrofag,”

Prof. Siti menjelaskan, Adanya penyakit penyerta atau komorbid juga meningkatkan terjadinya inflamasi kronis. Akibatnya akan ada peningkatan risiko infeksi, peningkatan risiko kanker, peningkatan risiko penyakit autoimun, penurunan respon terhadap imunisasi dan penurunan respon terhadap pengobatan infeksi.

Lebih jauh, Prof. Siti juga mengingatkan kondisi khusus yang memengaruhi keefektifan vaksinasi pada lansia. “Faktor-faktor yang memengaruhi keefektifan vaksinasi pada lansia adalah faktor intrinsik yaitu usia dan jenis kelamin, dan faktor ekstrinsik yaitu penggunaan obat-obatan. Kebiasaan seperti merokok, lingkungan sekitar, serta kecukupan nutrisi pada lansia berperan penting dalam keefektifan vaksin tersebut, ”papar Prof. Siti.

Terkait nutrisi Prof. Siti juga mengingatkan energi, protein, dan mikronutrien penting untuk tulang, otot, dan fungsionalitas. Untuk itu direkomendasikan agar energi minimal di atas 21kcal/kg BB, protein 1.0-1.5 g/kg BB/hari (25-30g) tiap kali makan, dan suplementasi apabila perlu, tetapi tetap perlu dicek dengan dokter.

Di acara yang sama, dr. Muliaman Mansyur, Head of Medical KALBE Nutritionals mengatakan bahwa selain skrining riwayat penyakit dan kesiapan psikis, tentunya kondisi fisik juga diperlukan dalam persiapan sebelum, selama, dan sesudah vaksin.

“Sepanjang proses ini, sebaiknya lansia mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang dengan kandungan tinggi protein, vitamin, dan mineral, khususnya vitamin C, D dan Zinc. Jika lansia kurang mendapat asupan nutrisi protein, maka risiko malnutrisi dan sarcopenia atau berkurangnya massa dan kekuatan otot akan mudah terjadi, selain itu imunitas yang terbentuk pasca vaksinasi menjadi kurang optimal. Setelah divaksinasi pun, lansia memerlukan nutrisi memadai untuk menjaga imunitas, khususnya lansia yang masih aktif berkegiatan, baik secara profesional maupun secara sosial,“ ujar dr. Muliaman.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90