Dari PGRI Untuk Indonesia

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Spirit HUT Ke 75 PGRI membawa pesan “Dari PGRI Untuk Indonesia” sangatlah tepat. Mengapa tepat? Karena sejak dahoeloe kala PGRI sudah mendampingi berdirinya republik Indonesia. Dari PGRI Untuk Indonesia adalah fakta. Pemerintah yang baru berdiri di 100 hari kemerdekaan dan butuh teman, hadir PGRI mendampingi.

PGRI memberikan penguatan, kontribusi dan kemitraan strategis bagi bangsa Indonesia, khusus dalam dimensi pendidikan. Sungguh sangat “harmoni” antara spirit PGRI dan tema HGN Kementerian Pendidikan yang mengusung “Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar”. PGRI sejak awal negeri ini berdiri, bahkan jauh sebelum negeri ini merdeka sudah bergerak membangkitkan semangat para guru dan mewujudkan merdeka belajar.

Spirit “Dari PGRI Untuk Indonesia, Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar” tepat. Saya sebagai Ketua PB PGRI dan sampai saat ini hampir setiap hari bersama guru-guru anggota PGRI di level organisasi terkecil yakni di ranting. Dari ranting, cabang dan seterusnya merambat ke atas PGRI terus bergeliat dengan segala keterbatasan, dinamika dan unikasinya.

Faktanya PGRI adalah organisasi profesi guru paling membumi di setiap sekolahan, terutama jenjang pendidikan dasar. Hampir tidak ada guru di Indonesia yang tidak mengenali PGRI. Ini adalah modal sosial entitas guru. Walau pun sejumlah kasus di internal PGRI masih ada saja sejumlah oknum yang menjadikan PGRI sebagai “kendaraan” kepentingan ptribadi. Dipastikan di organisasi profesi guru selain PGRI pun fenomena ini pasti ada.

Dari PGRI Untuk Indonesia dan Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar hanya akan terwujud bila para guru benar-benar berdaya. Bila para guru punya kedaulatan, keberanian, kemampuan kesadaran dan sadar kolektif baca kewarasan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, tentu akan lebih baik. Mental belajar guru, mental berorganisasi guru dan mental berkarya para guru harus terus ditingkatkan.

Guru mulia dan hebat karena terus belajar tiada henti dan menjadikan organisasi profesinya sebagai “learning community” yang menonjolkan rasa guru dan prestasi mayoritas guru. Organisasi profesi guru yang lebih dominan ritual, seremoni dan sejumlah giat “mainstream” lainnya makin lama akan makin tidak menarik. Organisasi profesi guru harus benar-benar memperlihatkan kehebatan para guru.

Hadirnya guru-guru berprestasi dalam acara HUT Ke 75 PGRI adalah hal yang sangat baik. Hadirnya wajah-wajah guru dalam sejumlah webinar PGRI sangatlah baik. Munculnya guru-guru milenial dalam gebyar acara PGRI pun sangat baik pula. PGRI membutuhkan kebaruan dan pola baru agar setiap giat dan geliatnya tersambung dengan kebatinan guru.

Raden Caca Danuwijaya dan Budi Setia Baskara sebagai guru anggota PGRI dan aktivis PGRI mengatakan, “HUT PGRI adalah milik para guru, diadakan untuk guru”. Faktanya HUT PGRI selalu menjadi semarak dan menarik bagi para guru. Menampilkan sejumlah guru juara, sejumlah guru terbaik di HUT PGRI adalah sangat efektif dan tepat untuk membangun ikatan emosional dengan anggota PGRI di seluruh Indonesia.

Setiap momen besar PGRI harus identik dengan “menapilkan” guru-guru hebat dan potensial. Bila setiap momen PGRI selalu ada guru-guru hebat yang tampil sebagai juara, narasumber, pembawa acara dll. maka ini akan menjadi daya ikat emosional kolektif guru anggota PGRI. Setiap momentum PGRI bagaikan “cermin diri” para guru. HUT PGRI, Kongres, Konferensi dan semua giat geliat PGRI adalah cermin besar wajah guru Indonesia.

Dari PGRI Untuk Indonesia adalah tepat. Dari guru, oleh guru untuk guru-guru Indonesia. Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar. Faktanya semua kampung, pelosok gunung dan gang sempit di republik ini selalu ada guru anggota PGRI. Ketika Presiden Jokowi membawa semangat “bergerak dari pinggiran” maka PGRI pun bergerak dari bawah. Berdawah, bergerak dari bawah.

PGRI di seluruh Indonesia sebaiknya “berdawah” begerak semua dari bawah ranting/cabang di setiap sekolahan dan kecamatan. Anggota PGRI faktanya ada di ranting dan di semua kecamatan. Dari ranting dan kecamatan ini lah iuran PGRI, aspirasi, dan sejumlah dinamika genuine tentang guru ada di sini. PGRI hakekatnya adalah ranting dan cabang.

Sering Saya catut pendapat Prof.Dr.Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Psikolog Universitas Indonesia mengatakan, “Mabes Kecil Polsek Kuat”. Pendapatnya ini Ia sampaikan pada reformasi birokrasi Polri. Masyarakat menilai Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia) dari pelayanan polisi-polisi yang bertugas di polsek (kepolisian sektor), bukan jenderal-jenderal atau kombes-kombes (komisaris besar) di mabes (markas besar).

Jangan lupa, masyarakat Indonesia itu bukan hanya di Jakarta, melainkan tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari desa ke kota, dari gunung ke laut, dan polisi harus bisa menjangkau masyarakat di mana pun berada. Polseklah paling dekat dan menyentuh masyarakat. Begitu pun di tubuh PGRI. Ranting dan cabanglah yang paling dekat dengan anggota “masyarakat” PGRI. Pemberdayaan ranting dan cabang harus lebih mengemuka. Berdawah, bergerak dari bawah.

Dari PGRI untuk Indonesia. Dari ribuan ranting dan cabang PGRI di seluruh Indonesia teruslah berdawah, bergerak dari bawah. Pola baru memberdayakan PGRI perlu dibangun. Apresiasi di internal PGRI harus lebih ke bawah. Di bawahlah 1001 kisah terjadi. Menghadirkan para pejabat kepala daerah yang pro guru itu baik dan akan lebih baik lagi menghadirkan para ketua ranting atau cabang terbaik. HUT PGRI milik mereka. Dari ranting dan cabang untuk Indonesia.

(4)