Komisi X DPR RI Arahkan Masyarakat Baca Buku Vokasi Saat Pandemi

Pewarta: D. Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung)-, Buku menjadi sumber pembelajaran yang masih tetap eksis dari dulu sampai saat ini. Disisi lain karena keterbatasan memperoleh pengetahun atau keterampilan dari seorang ahli. Buku menjadi alternatifnya.

Minggu yang lalu Komisi X DPR RI kunjungan kerja ke Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Dalam kunjungan tersebut  Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi mendorong perpustakaan nasional dan daerah lebih banyak menyediakan buku atau bahan bacaan bertema keahlian atau keterampilan (vokasi). Karena, saat ini banyak masyarakat korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19 yang mencari peluang usaha. Hal ini disampaikan kepada media setelah mengunjungi perpustakaan unggulan di daerah.

Dede meyakini, saat ini banyak orang butuh buku keterampilan ketika angka pengangguran bertambah 7 juta, orang mulai berfikir untuk melakukan kegiatan usaha. Seperti menjual masakan online, beternak lele dan lainnya. Buku keterampilan itu sangat sulit dicari, padahal di perpustakaan itu ada. Nah itu yang harus diperbanyak dan disosialisasikan pada masyarakat saat ini tentang jenis-jenis buku” kata Dede

Dede mengungkapkan saat ini banyak orang bertanya kemana mencari buku- buku vokasi atau keterampilan. Diharapkan, dahaga masyarakat akan berbagai buku bahan bacaan vokasi ini bisa disediakan oleh Perpustakaan. Selain itu, agar lebih menarik minat masyarakat untuk datang ke Perspustakaan, penataan ruangan yang nyaman dan menyenangkan.

“Saat pandemi seperti sekarang, datang ke perpustakaan rasanya menjadi tempat yang cocok. Apalagi kalau perpustakaannya nyaman, dilengkapi AC, bisa baca buku gratis dan lebih enak lagi kalau bisa sambil ngopi,” ujarnya.

Dede mengingatkan pentingnya kesinergisan berbagai pihak untuk meningkatkan minat baca masyarakat, memang menjadi pekerjaan besar bagi para penerbit buku dan pengelola perpustakaan. Mereka harus bisa membuat atau menyediakan buku-buku dengan tampilan sampul yang menarik. Selain itu juga kata-kata dalam buku sebaiknya tidak terlalu rapat. Sehingga, ketika dilihat sekilas oleh pembaca, bisa lebih cepat dipahaminya.

Sebagai wakil Ketua Komisi X yang mempunyai mitra kerja dibidang perpustakaan, tentunya menjadi salah satu fokus perhatiannya. Baik itu perpustakaan nasional maupun daerah. Pihaknya mendorong minat literasi masyarakat. Selain itu, dari sisi kearsipan perpustakaan pihaknya mendorong adanya terobosan masuk kepada industri 4.0.

“Pendidikan kita 60 persen berorientasi pada SMP dan SD. Tingkat kelulusan SMA hanya 20 persen dan D3 S1 itu hanya 10 persen. Makin tinggi pendidikan makin tinggi juga minat bacanya. Nah ini juga menunjukkan minat baca masyarakat kita masih kurang, ini bisa saja karena bukunya mahal, akses yang sulit dan lainnya,” ungkapnya.

Minat baca masyarakat Indonesia inilai masih rendah. Hal itu dibuktikan dengan angka literasi di Indonesia yang lebih sedikit daripada menonton informasi yang ditayangkan. Jadi masyarakat Indonesia cenderung lebih suka menonton ketimbang membaca buku.

Padahal salah satu indikator pendidikan di dunia adalah literasi. Karenanya, angka membaca menjadi perhatian Komisi X DPR RI. Angka ini menjadi penting di dunia, karena parameter pendidikan di dunia salah satunya literasi membaca. Di Indonesia ini angka literasi membaca memang tidak terlalu tinggi, tapi angka menonton kita tinggi. Jadi orang Indonesia lebih suka menonton ketimbang membaca,” kata Dede

Angka kelulusan di Indonesia pun didominasi lulusan SD dan SMP yang mencapai 60%. Ini menunjukkan tingkat membaca buku masih rendah, sebab semakin tinggi jenjang pendidikan maka tingkat literasi semakin baik.

“Angka pendidikan kita ternyata 60% masih berorientasi pada tingkat SD, SMP. Artinya tingkat kelulusan, SMA/SMK hanya sekitar 20%; D3, D4, Sarjana itu hanya sekitar 8-10%. Karena kalau semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin banyak membaca,” ujarnya.

Dijelaskan, ada tiga faktor yang membuat tingkat membaca di Indonesia rendah. Harga buku yang mahal, akses informasi yang sulit, hingga buku yang tidak berinovasi.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung, Tri Heru Setiati, menjelaskan animo masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan memang berkurang karena adanya pandemi virus corona. Namun dari sisi kunjungan dan aktivitas secara daring tetap tinggi.

Salah satunya terlihat dari perlombaan presentasi buku, dan bukunya bersumber dari e-book Sabilulungan. “Dengan segala kreativitasnya mereka tunjukkan melalui daring, dan sangat bagus.  Walaupun pandemi, melalui daring bisa dilakukan kegiatan peningkatan keterampilan maupun kebahagiaan untuk berliterasi,” ujar Tri.

Selama pandemi virus corona ini, lanjut Tri, Perpustakaan Daerah Kabupaten Bandung dibuka dan tertutup. Artinya, jika ada anggota yang memerlukan buku, maka bisa melalui aplikasi dan disiapkan oleh petugas.

Selain itu, perpustakaan ini juga menyediakan buku bacaan di plaza terdapat perpustakaan keliling yang dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan.Perpustakaan ini memiliki 25 ribu eksemplar buku dengan 11 ribu judul buku fisik. Kemudian e-book ada 2.500 judul buku. Kalau idealnya ada 50 ribu buku, mudah-mudahan ke depannya bisa kami penuhi, katanya. (Sumber: Pikiran Rakyat)

(1)