Catatan Lapangan Pembelajaran Jarak Jauh

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Ade Siti Sahidah,S.Pd.Gr
Guru SMAN1 Parungpanjang

Tulisan ini adalah catatan lapangan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan di SMAN 1 Parung Panjang. Pada awal terjadi pendemi semua orang termasuk penulis mengalami kepanikan dalam melaksanakan pembelajaran, apa yang akan dilakukan? dengan segala kondisi dan medan yang berat. Kenapa Parung Panjang disebut medan yang berat ? Dalam pembelajaran saya mulai mencoba memetakan dan menguraikan kondisi dan medan Parung Panjang mulai dari pengamatan saya sendiri juga hasil pendapat dan temuan dari kawan-kawan seprofesi, dimulai dari unsur sosial ada beberapa karakter siswa yang mungkin agak berbeda dengan karakter siswa pada umumnya terutama yang ada di kota-kota besar.

Siswa-siswa disini cenderung belum memiliki kemandirian dan tingkat ketergantungan terhadap teman sebaya sangat tinggi, ini akan memberikan gambaran awal akan sulitnya untuk memberikan tugas atau pembelajaran secara mandiri, sedangkan PJJ ini dituntut kemandirian itu.

Dilihat dari kondisi ekonomi sebagian besar orang tua peserta didik memiliki tingkat ekonomi yang masih rendah, kemudian dari aspek budaya sebagian masyarakat masih anti dengan tehnologi gadget karena dampak jelek yang lebih dulu muncul dimasyarakat akibat penggunaan gadget yang disalahgunakan dan tidak terarah.

Tidak adanya pengawasan dan pembatasan yang berarti dari pemerintah terhadap konten-konten yang tidak bermanfat menjadi racun bagi generasi muda, kaum muda lebih dahulu mengenal konten-konten tersebut dibanding konten-konten pendidikan, dan ini juga mungkin kesalahan dari Pendidikan di Indonesia bahwa industri tekhnologi lebih dahulu masuk kemasyarakat dibanding ke dalam arena Pendidikan.

Masalah-masalah diatas adalah tantangan yang pasti akan dihadapi dalam pelaksanaan PJJ. PJJ ini harus terjadi suka tidak suka iklas tidak iklas karena virus korona yang terus menyebar dan sulit untuk dikendalikan, tidak ada alternatif lain kalau tidak dikerjakan yang akan dipertaruhkan adalah nyawa sungguh dahsyat memang kondisi ini, mungkin ini kehendak tuhan agar perubahan harus terjadi dengan cepat dan perubahan itu harus dilaksanakan secara serempak.

Pada awalnya masalah ini terasa menjadi sebuah beban kenapa beban karena mungkin pada dasarnya hati kita belum bisa menerima dengan iklas kondisi korona ini dan belum betul-betul siap apalagi siap untuk berubah. Dalam kegelisahan ini ada hal yang patut disyukuri yaitu program pemerintah PPG yang telah dilaksanakan sebelum bencana virus ini terjadi. Sebagian materi yang disampaikan dalam PPG itu mengenai pembelajaran abad 21 yaitu pengenalan terhadap aplikasi dan bentuk-bentuk pembelajaran yang menggunakan alat-alat dan tehnologi yang sangat mungkin untuk dilaksanakan di kondisi PJJ, yang jadi masalahnya adalah siap mentalkah menerapkan tehnologi ini dengan resiko benturan-benturan yang akan terjadi dengan kondisi sosial, ekonomi dan kondisi mental siswa itu sendiri, ataupun benturan dengan teman sejawat. Naluri guru pada saat itu mungkin yang berbicara ada kata kunci yang membuat keputusan untuk mencoba yaitu Adaptasi.

Penggunaan tehnologi daring ini hal yang baru, hal yang baru sangat wajar untuk tidak dapat diterima begitu saja tetapi harus dicoba untuk mengimbangi kondisi pandemik dan untuk mengimbangi tehnologi yang sudah berkembang diluar sana dan agar hak anak untuk tetap belajar dapat terpenuhi.

Dalam teori evolusi jerapah saja harus memanjangkan lehernya agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya, Burung di kepulauan Galapagos harus terbang bermigrasi agar bisa bertahan hidup apakah manusia akan kalah dengan kemampuan para hewan dalam melakukan adaptasi ?,

Proses adaptasi memang akan sulit tapi begitulah mungkin rumus kehidupan apabila masalah pembelajaran seperti kurang sinyal dan tidak ada kuota tidak dicarikan solusi atau anak itu sendiri tidak mau melakukan perubahan pada dirinya, dan inipun didukung oleh para gurunya untuk jadi yang gampang-gampang saja, tidak mau keluar dari zona nyaman apakah keberhasilan mereka baik sekarang atau dimasa depan akan sanggup mereka capai ?, apabila anak terus-terus dimanjakan dan dininabobokan dengan kesulitannya dibiarkan tanpa dilatih untuk berjuang akankah mereka sanggup bersaing dengan anak-anak lain yang sudah maju diwilayah yang telah maju ?, sepertinya tugas guru diwilayah ini bukan hanya mendidik untuk menambah pengetahuan peserta didik saja tapi juga mendidik bagaimana meningkatkan daya juang, semangat juang agar bisa hidup dengan cara yang lebih baik.

Pada masa PJJ, penulis menjatuhkan pilihan pada pembelajaran daring ada dua perusahaan besar yang memberikan fasilitas dalam pembelajaran daring yaitu Microsoft dan Google.

Microsoft dengan Microsoft kaizalanya dan perusahaan Google dengan googleclassroomnya, media masa lebih condong mempopulerkan googleclassroom sehingga sangat populer sebagai sarana pembelajaran daring, pilihanpun jatuh pada googlecalssroom untuk diuji cobakan.

Sungguh sangat beruntung bagi penulis karena sebelumnya telah mengenal beberapa aplikasi hasil dari pelatihan PPG sebelumnya yaitu Quiziz dan padlet, quiziz memfasilitasi soal-soal evaluasi yang sifatnya PG dan padlet memfasilitasi sarana diskusi yang sangat cocok untuk pembelajaran bahasa, semua siswa dapat menuliskan pendapatnya di hp dan nanti akan muncul di layar monitor PC atau proyektor gurunya.

Berbekal pengalaman tersebut ternyata apalikasi googleclassroom tidaklah sesulit yang dibayangkan dan perkataan bahwa sebenarnya aplikasi tercipta untuk memudahkan manusia bukan untuk menyulitkan kerja manusia itu benarlah adanya, pada percobaan pertama banyak siswa yang tidak paham penggunaannya sehinngga dengan sabar dan telaten harus diajarkan, dan siswa yang telah paham di tugaskan untuk menjelaskan pada temannya yang belum paham cara ini terbukti efektif jumlah siswa yang telah masuk kelas memenuhi target minimal yaitu diatas 15 orang walaupun masih dalam hitungan belasan ini merupakan kebahagiaan tersendiri ternyata menempuh jalan yang lebih sulit dari biasanya itu belum tentu akan mengalami kegagalan yang total.

Pelaksanaan daring walaupun telah dilaksanakan dalam waktu yang agak lama tapi masih ada siswa yang enggan untuk mengenal aplikasi baik segan untuk bertanya ataupun tidak sanggup keluar dari kesulitan yang dihadapi keluarganya, apabila membahas kesulitan, ini pasti terjadi disemua tempat dalam kadar dan kesulitan yang berbeda tapi ada catatan penting yang ditemukan, untuk pengadministrasian guru semua sudah terselesaikan, dengan aplikasi ini hampir tidak ada kesulitan yang berarti baik dari absensi ataupun penilaian siswa bagi siswa yang menyerahkan tugasnya, tapi setelah membaca hasil dari kerja siswa sungguh sangat terkejut karena isi dari tugas itu jawabannya banyak yang sama.

Saya mulai menyelidiki apa yang menyebabkan tugas mereka bisa hampir sama sedangkan nama mereka dalam layar berbeda-beda dan semua ditulis menggunakan dokumen PDF, ternyata dalam prakteknya anak-anak yang dianggap sudah pandai dikelasnya mereka menulis di word dan menyebarkan hasil kerjanya atau diminta oleh temannya mengirimkan melalui HP, dan dalam HP itu terdapat aplikasi yang dapat mengedit tulisan PDF sehingga mereka hanya tinggal mengedit nama tanpa mengerjakan tugas yang telah diberikan. Disini ada perasaan sedih bercampur gembira dan juga luar biasa, anak didik telah lebih dahulu tahu tentang pemanfaatan HP dibanding dengan gurunya sendiri walaupun digunakan dalam tujuan yang negatif, dan ini juga menyadarkan penulis bahwa sebagus apapun aplikasi tidak akan bisa menggantikan posisi guru dalam pembelajaran, ada hal-hal yang tidak bisa berubah hal mendasar dari karakter manusia yaitu kejujuran, walaupun telah di fasilitasi dengan aplikasi yang paling bagus sekalipun hal dasar ini akan kembali pada diri mereka sendiri.

Disinilah penulis menemukan juga nilai religius kenapa alqu’ran hanya 30 juz saja karena mungkin ada hal yang mendasar dalam diri manusia baik yang positif atau negatif yang tidak akan pernah berubah sehingga masalah yang akan timbul juga tidak akan berubah-rubah dan akan mengerucut pada itu-itu juga.Tehnologi harus tetap dalam pengawasan dan pengarahan karena kalau tidak bukannya menjadikan anak didik yang berprestasi dan mandiri malah menciptakan generasi baru yang tersesat penuh kecurangan.

Keberadaan guru sangat penting, tehnologi tidak dapat menggantikan guru dari aspek pembelajaran karakter. Googleclassroom menerima begitu saja tugas-tugas yang dikirimkan siswa tanpa menyeleksi apakah itu hasil pekerjaannya sendiri atau hasil dari mencontek sedangkan guru bisa menyeleksi, bisa menasehati dan bisa menegur. Sungguh sangat penting pengawasan dan pengarahan jangan sampai apa yang didengungkan pemerintah tentang kehebatan tehnologi diaplikasikan tanpa ada kritikan dan masukan sama sekali tentang bahaya yang mungkin timbul dan penyelesaian dari bahaya yang mungkin timbul tersebut.

Walaupun dengan kendala yang demikian beragam dan rumit penggunaan aplikasi ini sangat efektif untuk dilakukan terutama untuk pengorganisiran dan pengadministrasian, lalu bagaimana dengan anak-anak yang tidak bisa menjangkau aplikasi ini yang tidak sanggup keluar dari kesulitanya? disinilah kembali guru harus legowo dengan pilihan mana yang harus dibuat untuk mulai berpikir ulang tentang arti ideal. Apakah ideal itu? apakah ideal itu harus seragam dengan metode yang sama dan modern? mengharapakan hal yang ideal dalam kondisi yang tidak ideal mungkin adalah hal yang tidak bijaksana bukan? Tapi apabila di masa pandemik ini menggunakan yang biasa-biasa pun tanpa pengenalan sentuhan tehnologi apakah itu bijaksana, sedangkan diluar sana tuntutan pekerjaan sudah sangat kompetitif dalam penggunaan tehnologi ?

Disinilah penulis mengambil kesimpulan bahwa pembelajaran yang disebut ideal pada saat pandemi di tempat yang masih transisi adalah menggabungkan antara pembelajaran daring dan luring, berbeda dengan dikota-kota besar yang sudah memiliki kemampuan tehnologi dan ekonomi yang mapan, pendidikan yang ideal dimasa pandemi itu ya daring. Perubahan tidak bisa dilakukan dengan cepat disini tapi anak-anak yang sudah memiliki kemampuan daring mudah-mudahan akan menjadi agen of change dimasa yang akan datang dan siapa tahu mungkin dalam waktu yang cepat dan tepat wilayah Parung Panjang ini kelak akan menjadi wilayah dengan pelakasanaan pembelajaran paling ideal dan modern di Indonesia ini.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90