Merawat “Rumah Ibadah” Pendidikan

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI dan Ketua FKKS 69 Jawa Barat)

Satuan pendidikan bagi Saya bukanlah sekedar tempat kerja atau taman bermain versi Ki Hajar Dewantara. Satuan pendidikan hakekatnya adalah “Rumah Ibadah”. Mengapa bisa disebut rumah ibadah? Sesungguhnya belajar adalah ibadah terbaik dan satuan pendidikan adalah rumah ibadah yang kelak akan melahirkan sejumlah orang bermanfaat.

Rumah ibadah perlu dipelihara dan dirawat bersama. Terutama semua orang yang berkepentingan ibadah di dalamnya. Di masjid sebagai rumah ibadah kita sering berinfak ada kotak yang disediakan, diedarkan. Terutama saat kita bersama-sama melaksanakan shalat jum’at. Ikhlas dan rela saat kita berinfak di masjid sebagai rumah ibadah ritual kita.

Nah di satuan pendidikan pun sebaiknya ada pola yang sama. Satuan pendidikan adalah rumah ibadah pendidikan, rumah ibadah belajar anak didik agar menjadi hamba-hamba Tuhan yang berilmu. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.“ (QS. Al-Mujadilah : 11). Satuan pendidikan adalah rumah ilmu, rumah ibadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan tidak pula uang dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mendapatkan keuntungan yang bsar.” (HR. Abu Dawud dan At-Timidzi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani). Satuan pendidikan adalah rumah ibadah tempat pewarisan ilmu.

Satuan pendidikan adalah rumah ibadah yang endingnya harus menghasilkan generasi berakhlak mulia, bermanfaat bagi bangsa dan negara. Satuan pendidikan negeri adalah rumah ibadah yang dibiayai oleh uang negara. Namun dalam Permendikbud No 75 Tahun 2016 dan PP No 48 Tahun 2008 satuan pendidikan itu menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat orangtua.

Artinya terutama pendidikan menengah SMA/SMK/SLB adalah “rumah Ibadah” yang membolehkan warga masyarakat, pengusaha, dan pihak ekternal pendidikan untuk berinfak. Berinfak dalam rangka berkontribusi serius untuk sukses indah pendidikan. Satuan pendidikan harus sejahtera dan terawatt dengan baik. Perawatan itu butuh biaya, infak pendidikan menjadi bagian dari sukses merawat “rumah ibadah” satuan pendidikan.

Saat seorang muslim akan melaksanakan shalat jumat ada kotak yang melintas. Ini adalah sebuah “fasilitas” mempersilahkan untuk berinfak, untuk menyumbang. Bagi yang punya uang di sakunya dan punya niat ibadah di hatinya, maka Ia akan memasukan uang ke kotak infak. Begitu pun dalam dunia pendidikan kita. Bagi yang punya uang dan punya niat mulia kontributif pada dunia pendidikan silahkan menyumbang. Tidak boleh ada paksaan, dan tidak ada boleh ada ketentuan jumlah nominal. Tradisi infak saat shalat jumat bisa diduplikasi dalam rumah ibadah pendidikan.

Siapa saja bisa berinfak untuk rumah ibadah satuan pendidikan. Tentunya bagi yang punya dan tidak ada ketentuan nominal, waktu dan tidak ada paksaan. Namun secara etika dan moral yang kaya sejahtera “wajib” berinfak secara maksimal. Bagi orang yang tak mampu tidak perlu berinfak malah Ia harus diberi. Subsidi silang dalam dunia pendidikan kita adalah proporsional.

Tidak sedikit orang kaya membangun tempat ibadat dan mewakafkan tanah untuk kepentingan ritual publik. Mengapa tidak orang-orang kaya membangun satuan pendidikan yang sama-sama bermanfaat sebagai tempat ibadat menuntut ilmu. Bahkan bila perlu ada fasilitas perpustakaan yang mewah dari orangtua siswa kaya raya. Bila perlu Gedung perpustakaan itu diberi nama “Gedung Udin” misalkan. Karena Pak Udin seorang konglomerat yang menginfakan hartanya untuk perpustakaan sekolah.

Atau ada sebuah kendaraan sekolah hasil pemberian seorang pengusaha showroom sukses. Mengapa tidak. Satuan pendidikan adalah rumah ibadah tempat menuntut ilmu. Dimana calon-calon penghuni masa depan ada didalamnya. Mereka adalah harta paling berharga milik bangsa yang harus difasilitasi dengan maksimal. Ayo para peduli pendidikan, para hartawan kita berinfak pendidikan!

Infaq adalah berasal dari kata anfaqa–yunfiqu yang artinya membelanjakan atau membiayai yang berhubungan dengan usaha realisasi perintah-perintah Allah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, infaq adalah pemberian (sumbangan) harta dan sebagainya (selain zakat wajib) untuk kebaikan. Ayo kita infak pendidikan untuk satuan pendidikan! Kesukaan belanja di mall dan hidup konsumtif, imbangi dengan belanja di jalan Allah. Infak untuk rumah ibadah di dunia pendidikan!

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90