Massa Pandemi Covid-19, Disdik Sumedang Siapkan Strategi Pendidikan Komplementer

  • Whatsapp
banner 768x98

Pewarta : Jeky

Koran SINAR PAGI, Sumedang,- Di tahun ajaran baru yang dimulai pada 13 Juli 2020 ini Disdik Sumedang menyiapkan strategi pembelajaran dengan tujuh strategi. Pasal nya di massa pandemi ini, kini para siswa masih belum bisa bertatap muka langsung karena masih menunggu keputusan dan arahan dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sumedang. Dan untuk ke tujuh strategi itu diberi nama strategi komplementer.

Selain itu juga mengacu kepada keputusan bersama empat menteri, diantaranya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteti Kesehatan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama, bahwa yang diperbolehkan bertatap muka yaitu yang termasuk zona hijau dan selain itu tidak boleh. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan ( Disdik) Kabupaten Sumedang, H. Agus Wahidin kepada media, diruang kerjanya, Jum’at ( 3/7/20).

“Saya sudah meyampaikan hal itu kepada Gugus Tugas bahwa tahun pelajaran semester ganjil tahun 2020/2021 dimulai pada tanggal 13 Juli. Namun tentunya bukan berarti kita membebaskan para siswa bertatap muka langsung karena disana ada peraturan empat menteri juga yang menyatakan yang bisa bertatap muka hanya di daerah zona hijau saja”, ujar nya.

Dengan begitu tambah dia, untuk mengantisipasinya Disdik Sumedang menyiapkan strategi pembelajaran dengan tujuh langkah strategi yang diberi nama Strategi Komplementer atau saling melengkapi diantara tujuh langkah tersebut.

“Ketujuh langkah itu merupakan hasil kajian UPI Bandung”, ujar nya.

Tujuh langkah dimaksud yaitu, ke-satu, teknik Virtual, tapi karena teknik ini bergantung pada signal internet, juga isi kuota yang cukup mahal, maka kegitan virtual ini paling dilakukan maksimal tiga kali dalam sebulan.

“Dalam virtual ini penggunaan quota bisa mencapai 2 GB per mata pelajaran, dengan harga Rp 20 ribu. Jadi kalau per hari ada lima mata pelajaran dikali seminggu bahkan sebulan sudah berapa jumlah biaya yang dikeluarkan. Jadi untuk virtual ini dibatasi”, jelas nya.

Ke-dua, pembelajaran projek, kegiatantanya berupa anak diberikan praktek dilapangan, misalnya anak PAUD, TK, SD, untuk kelas 1, 2,3, diberi pelajaran misalnya, menanam, dan dari tanaman itu anak akan belajar memperhatikan mulai ranaman tumbuh, mengukur tanaman tersebut, juga lainya.

Ke-tiga, anak diberikan modul LKS, yang dibuat oleh pihak sekolah dengan tidak boleh diperjualbelikan dan dibuat sesederhana mungkin.

Ke-empat, home visit, guru melakukan kunjungan kepada rumah siswa.

Ke-lima, pembelajaran melalui media, ke-enam, pembelajaran melalui grup sosial media.

Ke-tujuh, teknik pembelajaran penugasan berkala dan terukur.

“Harus ada ukuran berkala dan terukur karena sebelum nya, seperti di awal pademi Covid, guru memberikan tugas, dampaknya anak kelabakan karena dirasa memberatkan, hal itu tidak boleh terjadi lagi”, jelas nya.

Ditambahkan Agus, implementasi nya akan berbeda ditiap sekolah, “jadi semuanya yang tujuh poin tersebut bisa saling melengkapi antara satu dengan lainya”, pungkas dia.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90