Manajemen RSUD Soreang Berikan Klarifikasi Palsu Atas Meninggalnya Pasien RR

Pewarta : Tim Liputan Khusus

Koran SINAR PAGI, Kabupaten Bandung,- 
Saat Tim liputan Koran Sinar pagi juara konfirmasi tentang adanya dugaan kelalaian dalam menangani pasien hinga pasen tersebut meningal, pihak RSUD memberikan jawaban kepada yang di dampingi beberapa Perusahan PERS, Buser bayangkara74, Jabar Online, Dan SKU Tugas Bangsa pada awal pertemuan Jum,at tanggal 14 Februari 2020 lalu, RR pasien asal Kampung Cicukang RT 05/01 Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung, menghembuskan nafas terakhir di Instalasi Gawat Darurat RSUD Soreang pada pukul 10,30 wib, awalnya almarhum dibawa ke RSUD dalam posisi sehat, dikutip dari orang tua korban RD kepada Tim liputan Koran Sinar pagi almarhum RR masuk sebagai pasien umum dalam kondisi sehat, penanganan pertama ungkap RD di Oksigen tetapi tidak di Infus, dalam posisi kalut Emergency waktu itu belum ada tindakan dokter, sempat datang dokter ys bahkan kepada orang tua almarhum, ada bahasa yang tidak menyenangkan kepada orang tua kurban” anda jangan mengatur saya, gimana saya ucap sang dokter ys sambil memberikan resep untuk di tebus di Apotek, lagi – lagi RD selaku orang tua bingung, ternyata di apotek RSUD Soreang obatnya tidak lengkap bahkan beli keluar, masih dalam ungkapan RD ketika RR masih di rawat, di penanganan perawat ada Slang dimasukkan ke kemaluan RR tanpa persetujuan RD selaku orang tua, mirisnya lagi tak sehelai pakaian pun di badan RR, sementara di ruangan banyak pasien, infus di pasang lalu pindah ruangan setelah RD gebrak meja, RD juga sempat menyapa dr. Ys tapi tidak diindahkan oleh beliau padahal kondisi RR sekarat, muntah dalam penutup oksigen hingga sampai ke hidung, menyakitkan bagi RD tak satupun perawat membantu padahal sedang ngumpul ungkap RD dengan penuh penyesalan, itu juga disaksikan banyak orang, ada bahasa keluar dari perawat asal banjaran, kepada RD bahwa dr. YS itu tuli kurang pendengaran orangnya tempramen gampang tersinggung, dalam keadaan emergency detik – detik RR sakaratul maut, baru perawat dengan dokter menyikapi RR sambil mencari alat sedotan, tragisnya waktu itu slang sedot tidak ada, termasuk penyedotan tidak manusiawi pungkas RD kepada pewarta Koran Sinar pagi tidak di tambah tidak di kurang.

Diduga terjadi kelalaian terhadap pasien hingga nyawa RR tidak tertolong, mengacu pada UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, pasien harus diselamatkan dalam kecacatan dan kematian, diduga RSUD Soreang melanggar UU kesehatan, termasuk dalam UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran ada indikasi pelanggaran sang dokter disiplin etik profesi atau SOP, dan dituangkan dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang RS yang mengatur berbagai perbuatan, juga sanksi pidana bagi siapa saja tenaga medis khusus kesehatan dengan dokter, sengaja melakukan tindak pidana kesehatan di dalam pasal 201 UU kesehatan pasal 63 UU rumah sakit, selain pidana akan terjadi denda Administrasi berupa pencabutan Izin Usaha, pasal 359, 360 akan menjerat yang di duga pelaku melakukan pelanggaran etik disiplin profesi disengaja atau kelalaian termasuk malpraktek pidana 5 tahun denda Rp. 100.000.000.00.

Ada ketidak wajaran korban meninggal disinyalir akibat kelalaian dr bersama perawat di RSUD Soreang, Selasa tim liputan koran sinar pagi bersama awak media lainnya, mengkonfrontir Kabid Kemedikan Mulja munadjat, didampingi Bagian Layanan Medis Pebyana Rosarianto, bersama Humas RSUD Arif, pertama klarifikasi dr, Peby hanya membacakan surat klarifikasi tertulis, yang menurutnya surat kronolgis di buat tulis tangan oleh sdr Dr YS, di kertas polio, tapi sangat tidak sesuai dengan klarifikasi dari orang tua korban RD ikut hadir waktu itu, lalu Arif selaku Humas RSUD Soreang beliau hanya mencatat apa yang di Konfrontir di sanggahkan oleh orang tua RR, hal tidak menarik ketika sedang dalam audensi, Kabid Kemedikan Mulja hanya menyikapi menelaah untuk menampung yang di Konfrontir oleh beberapa awak media, mulja hanya menjawab manusia tidak luput dari salah, Insya Allah kami akan memanggil dokter bahkan perawat yang diduga melakukan pelanggaran disiplin profesi etik, kami akan telusuri apakah ini betul kelalaian pelanggaran SOP atau sebaliknya, bahkan sangat disayangkan terakhir dari konfirmasi tim Liputan Koran Sinar pagi dengan awak media lain meminta copy klarifikasi dr Ys secara tertulis tidak diberikan oleh mulja dengan alasan kita ketemu lagi hari Kamis.

Tanggal 20 Februari kamis 2020 tim, liputan Koran sinar pagi kembali datang bersama awak media lainnya menghadiri undangan pihak management RSUD Soreang, hadir Dr, Ys, Dr, Sbr, Kabid Kemedikan, Mj, sejumlah pejabat RSUD, juga perawat waktu kejadian dihadirkan, miris bagi orang tua almarhum keterangan dr YS berbelit – belit tidak sesuai dengan klasifikasi dari RD selaku orang tua almarhum, bahkan dihari pertama tim liputan mengkonfrontir ada secarik kertas polio yang dibacakan oleh Dr FB, kembali di Konfrontir ke dr,YS pada pertemuan kedua, anehnya Ys kebingungan tidak merasa membuat atau menulis klarifikasi tertulis pada pertemuan pertama yang di bacakan Fb, sambil melihat ke beberapa pejabat RSUD yang mendampingi, sisi lain yang disikapi gabungan awak media sudah jelas bahwa pihak RSUD Soreang dalam hal mengklarifikasi dugaan kelalaian meninggalnya RR di samping memberanikan diri tanpa sepengatuahan dr, YS, management RSUD diduga merekayasa membuat keterangan kejadian dari awal pasen masuk hinga pasen Meningal di palsukan.

Hal yang sangat menarik ketika dr YS memberikan keterangan bahwa penangan pertama di lakukan oleh dr, SBR di Intalasi unit Gawat darurat, dan dr YS dari hasil diagnosa awal bahwa pasien harus ada penangan serius ,( ada di zona merah), dari kesimpulan jawaban dan keterangan yang di berikan dr YS ia sudah melakukan penangan sesuai SOP, artinya dr YS melakukan tindakan tindakan sesauai aturan bahkan menurut beliau sebelum melakukan tindakan terhadap pasien melakukan kordinasi dengan para Dokter yang ada pada saat itu.
Di akhir kata dr YS meminta maaf kepada pihak kekuarga, turut berduka cita atas meningal nya pasien RR, juga permintaan maaf yang di utarakan Kabid Mulja Munajat sekaligus mewakili pihak RSUD Soreang turut berduka cita atas meningal RR, dan hanya menyampaikan kata maaf atas segala kekurangan dari pihak RSUD Soreang.

Namun di benak awak media masih ada ganjalan siapa Oknum yang sudah berani menulis kronologis dari awal pasien masuk hingga meninggal, , pertanyaannya siapa yang merekayasa keterangan itu? Sedangakan dr YS tidak pernah membuat surat kronologis kejadian dari awal pasien masuk hingga menghembuskan nafas terahir, kuat dugaan ada kelalaian terindikasi malpraktek yang merenggut nyawa pasien RR pada hari Jum’at tanggal 14 Februari 2020 lalu, orang tua korban meminta agar Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, kepolisan Polresta Soreang dan Polda Jabar menginvestigasi melidik penyebab kematian RR apakah ini murni ajal yang menjemput beliau atau sesuai dengan fakta video kejadian terhadap anak saya, RD orang tua korban berharap kedepan jangan sampai pihak RSUD atau Dokter jaga yang sudah di bayar oleh pemerintah semena – mena terhadap Pasien, RD juga meminta melalui pemberitaan di media koran Sinar pagi dan media laninya ini agar ada sanksi kepada Dr Ys, dr, Sbr, oleh Direktur RSUD Soreang Dr.H. Ipong Suripto W,spA,MH,kes, terhadap dugaan kelalaian meninggalnya RR Kami sebagai orang tua korban meminta kepada pihak yang berkompeten khususnya intitusi POLRI segera turun tangan untuk menginvestigasi ada nya duagaan kelalaian terhadap penaganan pasein hingga mengakibatkan pasen meningal.

(201)