Menyoal Efektifitas Kegiatan Study Tour Sekolah

Oleh: Idris Apandi M.Pd
(Praktisi Pendidikan, anggota Dewan Pendidikan Jabar, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan)

Dalam konteks proses pembelajaran, karya wisata (study tour) merupakan salah satu metode yang bisa digunakan oleh guru dalam mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode study tour juga bisa masuk ke dalam kategori pembelajaran di luar kelas (outing class). Secara teknis, peserta didik dengan didampingi oleh guru berkunjung ke suatu tempat yang terkait dengan materi yang dipelajari oleh siswa seperti musium, cagar budaya, bangunan bersejarah, kebun raya, kebun binatang, kampung adat, rumah sakit, pasar, kantor pemerintahan, bursa efek, dan sebagainya.

Harapannya, pembelajaran bisa menjadi lebih kontekstual dan lebih menyenangkan bagi siswa. Para siswa biasanya selain mendapatkan paparan berkaitan dengan tempat yang dikunjungi, juga bisa melakukan wawancara dan observasi lingkungan sekitarnya. Lalu membuat laporannya, baik secara individu maupun secara berkelompok.

Pada dasarnya tujuan dari metode ini baik, yaitu supaya siswa bisa melihat secara langsung suatu tempat, objek, mendapatkan informasi secara langsung dari sumber yang bisa dipercaya atau para pelaku di lapangan. Walau demikian, kegiatan ini kadang mengundang keberatan atau protes dari orang tua siswa, karena pelaksaaan kegiatan ini tidak lepas dari biaya yang tidak sedikit. Apalagi kalau tujuannya jauh, bahkan sampai ke luar kota.

Walau secara langsung tidak ada paksaan bagi siswa untuk mengikuti kegiatan study tour, tetapi secara psikologis, siswa yang tidak ikut merasa malu, tertekan, dan terancam tidak mendapat nilai dari guru. Pada akhirnya, para siswa yang tidak mampu meminta kepada orang tuanya untuk tetap ikut study tour. Akibatnya, orang tua yang kurang mampu pusing mencari biaya agar anaknya bisa ikut study tour.

Menyikapi hal tersebut, ada orang tua hanya bisa menggerutu, tapi ada juga yang kritis, menyatakan keberatan, atau minimal meminta keringan kepada sekolah. Sebenarnya di sinilah peran komite sekolah diperlukan sebagai mediator dan fasilitator antara sekolah dan orang tua siswa agar tidak terjadi gejolak berkaitan dengan kegiatan study tour.

Walau pada dasarnya metode study tour bisa digunakan oleh guru, tetapi guru dalam hal ini guru harus cermat untuk memutuskan apakah pada materi pelajaran tersebut diperlukan study tour atau tidak? Sepanjang masih bisa mengoptimalkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar, sebenarnya study tour tidak diperlukan. Misalnya belajar tentang makhluk hidup, siswa bisa mengamati jenis-jenis makhluk hidup yang ada di lingkungan sekolahnya, mencatat ciri-cirinya, dan mempresentasikannya di depan teman-temannya.

Kalau pun misalnya diperlukan study tour, maka perlu dicari tempat yang paling dekat dan paling ekonomis dari sisi biaya, supaya tidak memberatkan orang tua siswa. Misalnya, jangan sampai hanya untuk belajar tentang jenis-jenis batuan, siswa dari sebuah kota atau provinsi datang ke kota atau provinsi lain. Hal tersebut tentunya sangat tidak efektif, baik dari sisi waktu, biaya, maupun tenaga.

Saya ingat dulu waktu kuliah, seorang dosen mengatakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, disamping siswa dapat dibawa ke dunia nyata, misalnya dengan kegiatan study tour atau outing class, juga dunia nyata bisa dibawa ke dalam ruang kelas dalam bentuk gambar atau video.

Misalnya. untuk mempelajari masalah pencemaran sungai, selain siswa dibawa ke lokasi sungai yang tercemar, juga guru dapat menampilkan foto atau memutar video sungai yang tercemar. Dengan sangat mudah gambar atau video dapat diunduh di internet atau youtube. Dengan kata lain, guru harus kreatif dan inovatif dalam menentukan strategi, metode, alat peraga/ media pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran. Prinsipnya harus murah meriah, tapi efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Apakah study tour perlu dilarang secara tegas oleh pemerintah? Menurut saya, kurang bijak juga jika dilarang sama sekali, karena siswa pun perlu “melihat” dunia luar, menambah wawasan di luar kelas, dan mengaitkan teori yang mereka pelajari dengan di lapangan. Kalau istilah Sunda, jangan sampai “kurung batokeun” yang artinya hanya diam disitu-situ saja, hanya tahu daerah sendiri saja, tidak tahu daerah lain.

Yang perlu dilakukan adalah analisis kebutuhan dan relevansi dan tidak memberatkan orang tua siswa. Perlu ada komunikasi antara sekolah dan orang tua dengan dijembatani oleh komite sekolah. Dinas Pendidikan juga perlu melakukan pembinaan dan pengawasan jangan sampai kegiatan yang bertujuan baik, justru menjadi polemik di sekolah. Wallaahu a’lam.

(35)