Regim Gila, Pemimpin Gila!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Setidaknya ada lima “orang gila” yang memimpin pemerintahan di negeri ini. Ungkapan Nadiem Makarim cukup gila. Ia mengatakan, “Jangan jadi Menteri kalau tujuannya mencari uang”. Artinya jangan “setor mulu” ke partai politik. Dalam perspektifnya negeri ini akan jalan ditempat bila dipimpin oleh orang-orang yang orientasinya adalah uang.

Memang kalau seorang trilyuner berbicara bisa seenaknya karena Ia tak butuh uang. Kita? Pejabat rendahan? Bahkan setingkat para gubernur, walikota dan bupati masih banyak yang menjadi “pengepul” uang. Bukankah sejumlah pejabat di negeri ini bila ingin karirnya naik harus “setor mulu”?

Ahaa, Nadiem bagi Saya termasuk pemimpin gila. Ia sangat muda, trilyuner dan menyatakan diri sebagai “pembantu”. Pembantu dalam pikiran Saya bagaikan pembantu yang ada di rumah. Bagaikan babu, budak negara, abdi negara. Ia punya konsep pejabat itu harus melayani bawahan bila tidak maka Ia dianggap gagal sebagai pemimpin. So berkuasa, so penguasa udah jadul, muka loe jauh dari rakyat!

Orang gila ke dua adalah Erick Thohir. Ia adalah trilyuner juga. Muda, cakep dan tak butuh uang. Pejabat seperti Erick Thohir yang memerankan Si Tukang Baso dalam sebuah acara komedi moral cukup menarik. Bahkan Ia pun membuat gebrakan dengan membongkar kasus Harley Davidson dan memecat sejumlah pimpinan di maskapai Garuda.

Erick Thohir generasi muda yang pernah “memiliki” Inter Milan. Ia menjadi generasi muda Indonesia yang “nyeleb” di dunia sepak bola ternama dunia. Sejumlah bisnisnya di luar negeri Ia kembangkan. Anak muda yang kaya raya dan menjadi pebisnis dunia itu adalah “orang gila”. Erick Thohir sedikit orang muda yang wow di negeri ini.

Orang gila ke tiga adalah Sri Mulyani. Ia adalah perempuan gila. Entah terbuat dari apa otaknya. Sangat cerdas dan kecerdasannya membuat bank dunia meminangnya sebagai “karyawan”. Ia wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Sebuah jabatan bergengsi di tingkat dunia. Tentu gajinya wow!

Sri Mulyani bagaikan BJ Habibie sa’at Ia digunakan pemerintah Jerman. Gaji tak terhitung namun demi negeri dan bangsa BJ Habibie dan Sri Mulayani “pulang kampung.” Kalau negara memanggil mereka pulang. Kalau negara dan bangsa nyinyir dan malah membuli Ia bisa kembali mengabi untuk warga dunia yang lebih luas.

Sri Mulyani termasuk orang gila juga. Bahkan Ia baru-baru ini “menampar” para pejabat bahkan sampai para kepala sekolah yang dianggapnya “mengerat” uang BOS. Uang BOS seharusnya untuk oprasional sekolah malah “disunat” oleh sejumlah birokrasi di daerah. Kepala daerah dan para kepala sekolah disentil oleh Sri Mulyani.

Orang gila ke empat adalah Ahok. Kini Ia menjadi orang penting di BUMN. Kalau berbicara gila memang sulit menemukan orang lebih gila dari Ahok. Namun mungkin sa’at ini Ia sudah mulai merubah pola gilanya. Ia tidak terlalu gila lagi. Ia mencoba lebih santun dan mengubah gaya dalam “melabrak” dunia mafia. Kehadirannya di BUMN Pertamina akan membuat sejumlah orang pro kontra. Itulah Ahok orang gila tergila di negeri ini.

Hanya karena Ahok jutaan manusia menyemut di Monas. Munculnya stigma aliran Monaslian adalah gara-gara Ahok. Hanya zaman Ahok orang jutaan shalat di Monas. Tidak ada tokoh di negeri ini paling dibenci oleh aliran “Monaslian” selain Ahok. Ahok adalah fenomena politik dan agama yang luar biasa. Pengentalan politik identitas dan politik “jual agama” menguat karena Ahok. Ahok telah membangun “solidaritas” di sebagian penganut agama.

Bahkan sampai sa’at ini sebagian orang Jakarta masih bernostalgia dengan Ahok. Sa’at Banjir nama Ahok sering dikomparasi dengan Anies Baswedan yang sa’at ini berkuasa. Penanganan banjir Jakarta seolah saling klaim Ahok lebih baik, Anies lebih baik. Ahaa, perdebatan gegara politik. Hal yang jelas Ahok mulutnya kasar, Anies mulutnya manis. Ahok tidak mencla mencle, Anies diplomatis manis.

Ke lima adalah Jokowi. Ia Presiden paling gila sepanjang sejarah Indonesia berdiri. Ia Presiden yang paling dibuli dianggap manusia got, planga-plongo, culun, gak ada potongan. Sejumlah orang bahkan menjadi gila gara-gara Jokowi. Ada Nenek Sarumpet, Nenek Warisman, Kakek Amien Rais dan sejumlah tokoh lain jadi terlihat gila karena Jokowi.

Tidak sedikit rakyat jelata dan bahkan ASN yang nyinyir nyengir anyir kepada Jokowi, Bahkan sampai sa’at ini. Jokowi adalah pemimpin gila yang membuat sejumlah tokoh nasional kebakaran kumis dan gila. Membuat sejumlah oknum ASN dan BUMN menjadi tak nyaman. ASN pemalas dan BUMN korup klejotan dibuatnya. Hanya zaman Jokowi ada cebong, kampret, kadrun dan togog. Sebuah “dehumanisasi” sosial yang terbentuk karena kebawa gila.

Dalam sejarah kepresidenan hanya Jokowi yang merintis karir dari Walikota, gubernur dan akhirnya menjadi RI 1. Sosok gila seperti Jokowi hanya ada dalam periode tertentu dalam kilasan sejarah. Sepanjang negeri ini berdiri hanya Jokowi yang dianggap tokoh lokal dari daerah yang “merampok” Istana Merdeka di pusat ibukota. Inilah yang menyebabkan sejumlah tokoh nasional cemburu “buta ijo”.

Tidak heran sejumlah grand desig politik dibuat dengan masif untuk menjatuhkan Jokowi. Oknum rakyat jelata, sejumlah ASN dan para karyawan BUMN yang kadar wawasannya lemah termakan design tokoh-tokoh nasional. Ada teori “rumput kering” masyarakat didesign bagai rumput kering di musim kemarau panjang. Pada sa’at yang tepat dibakar dengan provokasi, hoaxs dan menghujat Jokowi. Rakyat yang nalarnya “slow” terkena teori bakar rumput.

Jokowi memang gila. Ia menggunakan lawan politik menjadi sahabat. Prabowo malah diangkat jadi Menhan. Jusuf Kalla malah jadi wakil Presiden. KH.Ma’ruf Amin malah jadi Wakil Presiden. La padam, la Nyala maksud Saya, Nyebelin, maksud Saya Ngabalin malah jadi jubir dan sahabat politik. Aha, gila memang Jokowi. Itulah pembelajar politik gila dari Jokowi. Ada ungkapan, “Seseorang belum menjadi pemimpin besar, bila belum menjadikan lawan sebagai kawan”. Ahaa, Jokowi memang wower!

Setidaknya sa’at ini kita sedang dipimpin oleh sejumlah orang gila. Setidaknya lima orang gila di atas semoga dapat mengurangi beban negeri ini agar bangkit lebih baik. Kasus korupsi dimana-mana, semoga dapat diminimalisir.

Pemimpin yang “tak butuh uang” adalah syarat diantara pembenahan agar sebuah regim tidak makin korup. Stop budaya “setor mulu”! Bersihkan ruang publik Indonesia dari maling, sampai ke bawah karpet!

(6)