Gus Solah, Selamat Jalan

Oleh : Dudung Nurulah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, kini telah wafat. Ia termasuk tokoh nasional yang sangat kontributif terhadap pembangunan kebangsaan Indonesia. Gus Solah adalah adik Gus Dur yang hampir sama cemerlangnya.

Cucu KH Hasyim Asy’ari ini keduanya telah tiada. Bangsa Indonesia kehilangan. Lentingan pemikirannya cukup menggetarkan dunia pemikiran publik. Ia pernah mengatakan, “NU Mati di Tangan Politisi.” Menurut Gus Solah, NU harus dikembalikan kepada maqomnya civil society, keummatan, membela rakyat sipil. Ini yang harus diperankan NU sebagai Ormas Islam, ormas keagamaan. NU harus bersama-sama dengan dunia kampus, akademisi, dan profesional.

Selanjutnya Ia mengatakan, “Dalam konteks Indonesia, adalah NU dan Muhammadiyah. Muhadiyah itu masih setia berada di masyarakat sipil. Sementara NU di tengah, satu kaki di masyarakat sipil, satu kaki di politik. Dan ingat! NU tidak boleh menjadi alat partai. Ini tugas bapak-bapak semua.” Setidaknya perspektif beliau akan menjadi rujukan tokoh-tokoh NU ke depan.

Terkakit dunia pendidikan Gus Solah mencubit dengan keras. Ia mengatakan, “Beberapa penyebab turunnya mutu pendidikan Indonesia. Salah satunya yakni kesejahteraan pendidik dan tenaga pendidik. Bahkan bisa dikatakan di bawah standar.” Gus Solah menghendaki martabat pendidik dan tenaga kependidikan diperbaiki. Diperbaiki dengan peningkatan kesejahteraan.

Bagi Gus Solah dunia pendidikan tidaklah mungkin akan membaik bila kesejahteraan GTKnya bermasalah. Mensejahterakan para guru diantaranya adalah satu paket dengan meningkatkan mutu pendidiikan. Demikian setidaknya persepsi Gus Solah terkait pentingnya kesejahteraan tenaga pendidik dalam berkerja sebagai aparatur pendidikan.

Satu lagi sindirannya pada prioritas pendidikan kita. Ia mengatakan, “Saat ini perhatian pemerintah dalam pendidikan lebih tinggi terhadap aspek kognitif dibandingkan afektif.” Pendapatnya ini sangat tepat! Bukankah dunia pendidikan kita terlihat memuja angka? Bukankah dulu UN menghasilkan angka-angka yang kemudian menentukan kelulusan. UN 100 persen dulu menentukan kelulusan.

Bagi Gus Solah sisi afektif (attitude) juga penting. Jangan sampai pencapaian kognitif tinggi tetapi perolehan afektif rendah. Kita sepakat dengan Gus Solah bahwa pencapaian kognitif penting apalagi pencapaian afektif. Afektif itu terkait sikap dan kemampuan beradaptasi menjawab tuntutan dan tantangan disekitar kehidupan. Gus Solah adalah sosok yang berkarakter. Ia orang kuat dalam mempertahankan perspektifnya.

Pernah “bertengkar” antara dua Gus. Gus Dur dan Gus Solah. Ia lahir dari Bapak yang sama, Ibu yang sama. Mereka keluar dari rahim yang sama, tetapi pemikirannya tidak selamanya sama. Walau pun demikian mereka tetap harmoni dalam keluarga besarnya. Sebuah “pertengkaran” intelektual antara Gus Dur dan Gus Solah ibarat panggung dialektika bagi umat. Sungguh sajian yang wow.

Salah satu perdebatan besar di antara keduanya terjadi di Koran Media Indonesia pada tahun 1998. Perdebatan sengit lewat tulisan ini berawal saat Gus Dur pada tanggal 8 Oktober 1998 menulis sebuah artikel dengan judul A. Wahid Hasyim, Islam dan NU. Gus Solah hadir sebagai penyeimbang dialetika di kalangan nahdliyin. Ia pun menulis dengan narasi berbeda terkait eksistensi KH Wahid Yasyim.

Perdebatan intelektual dua begawan NU ini mampu memberikan dua warna pemikiran yang baik. NU tidak monolog versi Gus Dur yang melahirkan “kaum Gusdurian” melainkan ada versi ke dua lentingan pemikiran Gus Solah. Ini sangat baik dalam memberikan keragaman berpikir di kalangan NU. Terutama dalam perdebatan itu tentang sosok KH Wahid Hasyim, sekuler atau non sekuler?

Delamat jalan Gus Solah. Beruntung menjadi pribadi seperti anda. Cucu dari ulama, anak ulama dan menjadi tokoh nasional yang hidup bermanfaat bagi jutaan umat. Sungguh keteladanan dan nama besar keluarga anda patut menjadi “referensi” bagi umat bangsa Indonesia. Kau lahir dari rahmat Allah. Hidup berkhidmat karena rahmat Allah dan kembali pada rahmat-Nya. Surga bersamamu!

(6)