Konsultan DAK Merubah Jenis Pekerjaan Tanpa Kompromi, Kepsek Dibuat Bingung

Pewarta : Syam Awing

Koran SINAR PAGI, Kab.Jeneponto,- Dua ratus sekolah dasar di Kab.Jeneponto mendapat bantuan dana rehab untuk rehab ruang kelas, WC dan Perpustakaan dari program Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan tahun anggaran 2019 dengan nilai keseluruhan mencapai Rp.48 Milyar.

Namun dari ratusan sekolah penerima DAK tersebut tidak seluruhnya berjalan mulus dalam merealisasikan dana yang diterimanya, tak sedikit sekolah yang mengaku mengalami masalah dengan konsultannya, dimana dana yang diterima untuk rehab malah dirubah oleh konsultan untuk bangunan baru, akibatnya pihak sekolah harus nombok.

Muncul tudingan miring, bahwa Zaenal dan Dodi selaku konsultan diduga tidak pernah turun melihat kondisi sekolah sebelum dana anggaran DAK ditetapkan disetiap sekolah.

Seperti yang terjadi di SD N Taba Kelurahan Panaikan, Kec.Binamu dan SD N 02 Jeneponto serta SD Tabbing Tinggia, Kec,Bangkala Barat. Awalnya dana sebesar Rp.231.000.000 diperuntukan bagi rehab ruang kelas, namun Zaenal dan rekannya Dodi merubah rencana tersebut menjadi pembangunan ruang kelas baru.

Kepala sekolah mengira dengan adanya perubahan tersebut diikuti dengan perubahan jumlah awal dana awal rehab namun ternyata tidak, akibatnya pembangunan tidak tuntas, karena kekurangan dana, padahal para kepsek sudah berhutang ditoko matrial.

Kejadian lain dialami SDN I 201 Lengke Lengkese, Desa Sapanan Kec,Binamu yang mendapat rehab WC dengan dana sebesar Rp.24 juta, namun WC tersebut diperintahkan rehab, malah dipaksakan di bangun baru.

Kepala SDN I 201 Lengke, Syaripuddin, mengaku bingung padahal ada 3 unit WC, “Seharusnya itu yang dirahab, karena dipapan proyeknya tertulis rehab WC dengan dana Rp.24 juta, bukan membangun WC baru,” ujarnya.

Masih ada SD – SD lain yang bernasib sama, hal ini mendapat sorotan para penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat, mereka mengatakan seharusnya konsultan turun melihat kondisi sekolah, baru menetapkan anggaran, pungkasnya,

(62)