Mengapa Penjara Dan Rumah Sakit Penuh ?

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Ada dua hal menarik yang layak kita telaah dalam kehidupan sosial kita. Pertama penjara penuh dan kedua rumah sakit pun penuh pasien. Dua hal ini menarik bagi Saya untuk dituliskan. Mengapa penjara penuh sampai kelebihan beban penghuni atau overcrowding? Mengapa rumah sakit pun penuh sampai sejumlah pasien kurang tertangani?

Di negeri yang maju idealnya penjara dan rumah sakit kosong. Sangat mengerikan bila rumah sakit dan penjara selalu penuh. Ada apa dengan bangsat kita ini, bangsa kita ini maksudnya. Sungguh sebuah fenomena sosial yang harus kita kaji lebih mendalam. Apakah banyaknya pelaku tindak melawan hukum dan melawan “hukum” kesehatan ada kaitan dengan dunia pendidikan?

Andaikan pasien dan penghuni penjara sangat terkait dengan latar belakang pendidikan maka dunia pendidikan harus bertanggung jawab. Siapa yang paling bertanggung jawab di dunia pendidikan? Bila kita urut kacang maka yang bertanggung jawab adalah Mendikbud, para kepala daerah, para Kadisdik, para kepala sekolah dan para guru.

Terutama para guru! Para guru lah yang punya andil besar bagaimana mengenggineering anak didik sehingga saat dewasa tidak menjadi penghuni rumah sakit dan rumah pemasyarakatan. Sungguh tanggung jawab guru sangat-sangat berat. Mendikbud Nadiem Makarim menyebut sebagai tugas guru tersulit namun termulia. Sulit karena kompleksitasnya luar biasa. Mulia karena mengurus akhlak dan karakter manusia.

Penjara penuh dan rumah sakit penuh adalah indikasi gagalnya masyarakat kita dalam menjalani kehidupan civil society yang lebih baik. Sehat jasmani, sehat rohani akan menjauhkan kita dari rumah sakit dan rumah pemasyarakatan. Tujuan pendidikan kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, berakhlak mulia dan meningkatkan SDM agar unggul dan kompetitif. Faktanya rumah sakit penuh dan penjara penuh sesak.

Saat Saya melihat sebuah rumah sakit di Australia, terlihat sepi. Hanya nampak para orangtua renta yang masuk rumah sakit. Sakit karena factor U, sangat alami. Di rumah sakit kita, mulai bayi sampai ABG banyak yang sakit. Pasien kadang kesulitan mencari kamar rawat inap karena penuh. Walau ada gossip, katanya disebut penuh agar ruang VVIP terisi. Faktanya memang penuh.

Lihat tempat parkir rumah sakit begitu sulit untuk parkir, penuh pasien. Sejumlah rumah sakit baru terus dibangun. Makin banyak yang sakit makin baik bagi bisnis rumah sakit. Bisnis orang sakit di Indonesia sangat menjanjikan. Bahkan sekolah menjadi dokter sangat diminati. Jadi dokter pasti kaya raya karena pasien makin banyak. Bahkan cukup buka klinik, orang sakit ngantri masuk klinik.

What hapend bangsat kita, bangsa kita maksud Saya? Kenapa dengan bangsa kita? Kok pada tidak sehat secara jasmani dan rohani? Bukankah bangsa kita adalah bangsa beragama dan terkenal religius? Ribuan pesantren, jutaan mesjid, gereja, vihara dan sejumlah tempat ibadat lainnya ada di negeri ini. Bahkan ada daerah yang dijuluki seribu mesjid dan seribu gereja.

Kasihan bangsa kita ini. Betul kata Jokowi harus ada revolusi mental. Hidup sehat, sederhana, jujur dan akhlak mulia harus jadi prioritas. Melihat ratusan kepala desa, ratusan kepala daerah masuk rumah pemasyarakatan dan bahkan ada yang pura-pura sakit masuk rumah sakit, sungguh menyedihakan! Plus kejahatan yang dilakukan masyarakat kita.

Sungguh getir dan tragis fenomena masyarakat kita. Beberapa bulan yang lalu dan pekan ini bahkan muncul kejahatan sadistik. Istri-istri muda membunuh suaminya sendiri. Plus sejumlah tindak krimial lainnya. Kejahatan yang terjadi menyumbang rumah sakit dan rumah pemasyarakatan. Korban masuk rumah sakit, pelaku masuk penjara. Makin penuh rumah sakit dan penjara kita.

Di negeri Belanda, negeri yang pernah menjajah kita rumah sakit tidak penuh. Penjara pun kosong, bahkan banyak sipir penjara yang di PHK. Belanda termasuk berhasil membangun kehidupan civil society yang lebih sehat jasmani rohani. Bukankah Belanda adalah kafir? Negara kecil yang pernah menjajah kita? Mengapa negara penjajah kehidupannya lebih maju? Mengapa sejumlah negara kafir malah lebih sehat?

Fenomena banjir yang dahsyat baru-baru ini hanyalah sesaat. Namun fenomena menyemutnya pasien di rumah sakit dan rumah pemasyarakat harus lebih diperhatikan pemerintah. Banjir orang sakit dan pelaku kriminal, korupsi, narkoba dan kecelakaan lainnya adalah realitas sosial kita. Harus dibenahi dengan serius. Cius sekali! Ini urgen!

Ada pepatah yang mengatakan, “Bila kita beragama dengan baik maka kita akan jadi orang baik”. Kita akan terhindar dari tindak yang melawan hukum. Penjara akan kosong. Faktanya penjara penuh. Pepatah selanjutnya mengatakan, “Orang yang imannya baik, pikirannya baik akan hidup sehat” Sakit itu dari pikiran dan keyakinan. Jadi orang yang masuk penjara dan rumah sakit ada kaitannya dengan iman dan pola hidup yang tak sesuai ajaran agama dan budaya.

Jutaan guru, jutaan ustad ternyata belum maksimal “bekerja” di negeri ini. Bahkan jangan sampai guru malah melahirkan anak didik tak jujur seperti tragedi UN saat menentukan kelulusan. Jangan sampai ustad salah mengajarkan pemahaman agama malah menebarkan politik identitas dan fanatisme SARA. Mari kita reflektif kolektif, teruatam para orangtua dan pendidik.

(7)