Waspada Generasi Reynhard Sinaga

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Beberapa tahun lalu Saya menulis di koran Pikiran Rakyat terkait “Tragedi Emon” Sang Pedofilian. Hari ini kita dihebohkan dengan sosok Reynhard mahasiswa program Ph.D Universitas Leeds, di Inggris. Sungguh sangat mengejutkan seorang WNI yang terlihat baik-baik ternyata sungguh mengerikan.

Seorang anak SMAN1 favorite di Jawa Barat yang terlihat baik-baik. Melanjutkan ke UI dan selanjutnya kuliah di Inggris sampai melintasi jenjang doktoral. Kok bisa seseorang yang terlihat baik terpelajar, muka wajar tanpa dosa menjadi predator, penjahat luar biasa?

Sejak kapan seorang Reynhard yang awalnya terlihat baik, ujungnya sangat menjijikan dan berperilaku seks sadistik? Para pendidik dituntut untuk mendeteksi potensi dan gejala kecenderungam setiap anak didik. Bila tidak maka akan selalu muncul sosok Emon dan Reynhard lainnya.

Sahabat pendidik setiap potensi anak didik akan sangat dipengaruhi oleh proses pengalaman di keluarga, teman sebaya, sekolah, masyarakat dan dunia maya. Konsep Tripusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara sudah kurang relevan di zaman ini.

Apa yang terjadi pada Reynhard bukanlah produk keluarga, bukan pula produk sekolahan dan bukan pula produk kampus dimana Ia kuliah. Saya mencurigai gaya hidup, teman sebaya, dunia maya dan pergaulan serta apa yang digauli menjadi bagian dari “bibit” syeitanic Sang Reynhard.

Kajian akademik dalam tesisnya terkait dunia gay. Gay di lingkungannya, dunia mayanya, teman sebayanya bisa jadi berpengaruh pada ide menyimpangnya. Mungkin juga Ia punya kelainan sejak di sekolah dasar atau menengah. Orangtua dan guru tak melihatnya dengan jeli.

Tidak menutup kemungkinan Ia pernah mengalami perlakuan yang sama saat remaja. Orangtu dan guru tak tahu apa yang menimpa setiap anak. Waspadalah. Reynhard pada dasarnya adalah anak inklusif. Ia berkebutuhan khusus namun kita, orangtua dan guru memukul rata bahwa mayoritas anak norma-normal saja.

Anak normal, baik, terlihat beribadah konsisten di zaman ini bisa menyimpan potensi sadistik. Timbul saat Ia mulai membesar, saat punya kuasa dan kekuatan. Kompetensi pedagogik guru benar-benar harus diperdalam. Mengapa? Karena setiap guru harus menyelami apa yang sedang terjadi dalam kebathinan anak didik sampai karakteristik dasarnya.

Guru harus mampu menghapus bibit atau potensi negatif anak dan menstimulus talenta terbaik anak. Perhatian guru, kata-kata gutu, motivasi guru, keteladanan guru, kasih sayang dan penghormatan pada anak didik harus benar-benar efektif. Setiap anak adalah peniru ulung atau penduplikasi kelakuan orang dewasa di sekitarnya.

Kasus Reynhard adalah pukulan telak bagi Indonesia, para guru di Indonesia dan orangtua. Anak yang nampak baik, ceria, terpelajar dan terlihat normal ternyata berperilaku menyimpang luar biasa. Terlihat kemayu namun sesungguhnya Ia punya dunia lain yang sangat gelap dan agresif. Membuat layu dan buram masa depan puluhan remaja.

Puluhan korban dan rekaman video kejahatan dirinya menjelaskan Ia sakit jiwa. Ia nampak normal di hadapan publik namun abnormal di ruang gelap privatnya. Ia bagai binatang kamuplase yang cerdik. Bersembunyi dalam bauran kehidupan yang terlihat normal. Bagai binatang pemangsa yang menyerupai daun hijau padahal Ia bukan daun melainkan binatang menyerupai daun.

Orangtua, guru dan lembaga pendidikan disadarkan oleh kasus Reynhard. Anak yang terlihat baik, bersekolah dengan baik ternyata sangat jahat. Jangan sampai kita malah terkecoh oleh anak terlihat bandel padahal normal. Waspada bagi para pendidik. Anak baik-baik belum tentu baik. Anak bandel-bandel belum tentu bandel.

Setiap anak adalah asset bangsa. Setiap guru adalah mentor. Jadilah mentor yang feka pada tanda-tanda keberbedaan setiap anak didik. Perlakukan anak didik sebagai anak kandung sendiri. Hal ini akan jauh lebih mendalami dan mengeksplorasi talenta dan kecenderungan anak. Jangan sampai orangtua dan guru jadi orang lain dan orang lain yang tak beranggung jawab jadi guru bagi anak kita.

(20)