Peran Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat Dalam Pembangunan Kehutanan

Oleh : Sugama
(Penyuluh Kehutanan CDK III Sukabumi/ IPKINDO DPW Jabar)

Penyuluhan Kehutanan merupakan suatu kegiatan yang unik jika dibandingkan dengan kegiatan penyuluhan pada sektor lainnya. Kegiatan penyuluhan kehutanan tidak hanya bertujuan untuk “Helping People to Help Themselves” atau menciptakan mayarakat yang berdaya dan dapat memberdayakan dirinya sendiri, melainkan juga untuk membangun dan melindungi ekosistem (Konservasi Lahan/Hutan).

Kegiatan Konservasi dengan kegiatan produktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, merupakan kegiatan yang kontradiktif satu sama lainnya. Dimana kegiatan Konservasi mengarah kepada perlindungan lahan / hutan, sedangkan untuk meningkatkan kesejahteraan mengarah kepada pemanfaatan alam yang destruktif dan biasanya kegiatan konservasi ini akan dikalahkan oleh kegiatan produktif untuk urusan perut yang sesaat.

Kreativitas seorang penyuluh sangat dibutuhkan dalam menangani masalah ini. Bagaimana caranya menggabungkan antara kegiatan konservasi tapi sekaligus produktif agar kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat juga terpenuhi. Sehubungan dengan susahnya bagi masyarakat untuk menerima inovasi baru. Masyarakat menginginkan contoh yang sudah terbukti dan terasa sebelum mau mengerjakannya, dalam kata lain “Seeing is Believing”.

Dengan ketiadaan dana taktis dan kurangnya sarana dan prasana untuk mengadakan demplot (Demontrasi plot) kegiatan Kehutanan sebagai percontohan, serta terbatasnya Personil Penyuluh Kehutanan sendiri, mendorong berkembangnya opsi-opsi alternatif untuk berkolaborasi dan memberdayakan masyarakat setempat, melalui pemberdayaan dengan menggunakan lahan masyarakat sebagai sarana percontohan, untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan inovatif di Bidang Kehutanan.

Pendekatan dan pembelajaran secara intensif kepada masyarakat tersebut tentunya sangat dibutuhkan. Diharapakan kader tersebut dapat menjadi seorang mediator untuk dapat menghubungkan komunikasi antara Penyuluh Kehutanan dengan Masyarakat. Kader Pembangunan Kehutanan itu adalah Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM).

Menurut H.Maman Suparman, Ketua PKSM Wilayah Sukabumi, ketika ditemui di kediamannya di Jl. Arif Rahman Hakim No. 59 Kota Sukabumi, tekad seorang PKSM harus berangkat dari itikad sebuah pengabdian tanpa pamrih dan seorang pencinta alam yang mempunyai keinginan kuat untuk melestarikan lingkungan alam.

Seorang PKSM harus berasal dari pelaku usaha tani yang berhasil. PKSM juga harus mempunyai sifat kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi dan teladan bagi masyarakat, serta harus mendapat pengakuan dari masyarakat sekitar bahwa yang bersangkutan memiliki kemampuan sebagai penyuluh kehutanan, imbuh Haji Maman disela-sela ngopi bareng dirumahnya.

Selanjutnya, Inovator yang memperkenalkan konsep Usaha Tani Terpadu Lahan Kering (saat ini disebut Agroforestry) pada tahun 1980-an ini menjelaskan, “Bagaimana mungkin mengajarkan kepada masyarakat tentang tata cara bertani yang baik, bila dirinya belum pernah melakukan hal yang sama, atau sudah melakukannya tapi tidak berhasil”.

Tokoh tani yang mendapatkan Tanda Kehormatan “Satya Lencana Pembangunan” dari Presiden Republik Indonesia ini juga memaparkan, bahwa seorang penyuluh harus mengenal dan mempelajari potensi wilayah binaannya serta mengetahui kekurangan dan kelemahannya, sehingga dapat menyusun rencana dan program kerja yang benar–benar dibutuhkan sesuai dengan karakter masyarakat dan berdasarkan kesesuaian lahan wilayah setempat.

Dijelaskannya pula bahwa konsep Usaha Tani Terpadu Lahan Kering (Agroforestry) yang dilakukan di areal usaha taninya di Waluran Sukabumi, adalah konsep usaha tani yang memadukan tanaman tahunan (kayu-kayuan), tanaman setahun (buah-buahan), tanaman semusim (palawija dan sayuran) dengan peternakan (domba dan ayam). Setiap kelompok tanaman ditanam sesuai dengan keadaan dan karakter lahan, “Dengan konsep tersebut Konservasi lahan dapat dikerjakan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat juga terpenuhi,” terangnya.

Dalam mengerjakan Usaha taninya PKSM Senior yang sering diundang sebagai nara sumber oleh kementerian terkait, juga memberdayakan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja sekaligus mengajarkan teknik bertaninya, dengan harapan masyarakat tersebut dapat menguasai tata cara bertani secara baik dan benar sehingga mampu berusaha secara mandiri untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Jika eksistensi dan aktivitas PKSM terus didorong dan diberdayakan, diharapkan program peningkatan kapasitas terkait issu Kehutanan akan berjalan lebih efektif dan efisien dan dapat mencetak agen-agen pelestari Kehutanan di level wilayah pedesaan, sehingga berdampak positif terhadap situasi ekonomi keluarga petani serta kelestarian fungsi hutan dan lingkungan.

(70)