Dewan Hisbah Persis Bahas Tentang Pengobatan Jarak Jauh

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kabupaten Bandung)-, PC Pemuda Pemudi Persatuan Islam Katapang melaksanakan kajian rutin dengan narasumber Ustadz Amin Muchtar anggota dewan hisbah PP Persis. Acara berlangsung pada ba’da asar jum’at 20 Desember 2019 di masjid Al-Idhar Rt 1 Rw 8 Desa Cilampeni Kecamatan Katapang. Dengan tema kajian “Pengobatan Jarak Jauh”

Saat menyampaikan isi dakwahnya Ustadz Amin Muchtar menjelaskan “pengobatan itu pada dasarnya harus memenuhi dua unsur. Yang pertama harus teruji secara medis yang terbebas dari unsur haram, lalu ke 2 tidak ada unsur syirik, Khurafat dan takhayul. Seperti pengobatan jarak jauh judul kajian ini dengan mengunakan bantuan jin itu dilarang” jelasnya kepada jama’ah yang hadir.

Lebih lanjut Ustadz Amin mengingatkan lebih baik sakit di dunia dari pada kita menggunakan pengobatan yang membawa dosa. Sakit di dunia pada ahirnya ada obat terahir yaitu kematian. Beda dengan kalau kita sembuh tapi ada unsur syariat yang dilanggar dan menjadi dosa. Kita akan menderita di ahirat.

Contohnya kita mengunakan metode Ruqiah atau jampe-jampe. Yang dibacakan sama ayat-ayat suci Al-qur’an, cuman keyakinannya dan caranya beda dengan yang nabi contohkan. Itu bisa membawa kita kedalam kesyirikan.

Ustadz Amin juga melarang kepada jam’ah agar tidak mengkolaborasikan atau inovasi tentang pengobatan yang diajarkan nabi. Kita harus mampu membedakan mana pengobatan nabi yang sifatnya prefentif dan kulatif. Itu harus dipisahkan tidak boleh disamakan atau ditambah. Kunci pengobatan itu kita melakukan apa yang nabi contohkan.

Pada kesimpulan dakwahnya Ustadz Amin mengarahkan agar umat muslim mempelajari ilmu kedokteran yang sifatnya fardu kifayah. Diantaranya kita belajar ilmu kedokteran dari perguruan tinggi. Ya pada dasarnya ilmu kedokteran yang ada itu induknya ajaran islam. Jadi kalau kita belajar ilmu psikologi dari barat atau pengobatan dari Tiongkok itu tidak apa-apa, asal ilmu yang kita pelajari tidak bertentangan dengan ajaran islam.

Misalnya teori barat menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir itu seperti selembar kertas putih yang kosong tanpa catatan. Tapi islam menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir itu sudah memiliki catatan tentang takdir, rizki, jodoh dan kematiannya.

(25)