Mari Afirmasi Pemimpin Muda

Oleh : Dudung Nurulah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Menarik saat pelantikan Ketua PGRI Provinsi Riau. Apa yang menarik? Usia ketua terpilih adalah 38 tahun. Rada mirip saat Nadiem Makarim dilantik menjadi Mendikbud. Muncul wajah muda. Ia bernama Dr. M. Syafei. Terpilihnya saudara Syafei menjelasakan PGRI Provinsi Riau membuka peluang pada yang muda untuk memimpin. Saudara Syafei bila bertemu Mendikbd Nadiem Makarim sama-sama muda. Kemistrinya dapet. Satu zaman!

Para pengurus muda di PGRI adalah modal masa depan PGRI. Faktanya PGRI saat ini masih kesulitan merekrut pengurus muda untuk masuk di jajaran inti PGRI. Mayoritas guru muda tak mau menjadi pengurus inti PGRI. Perlu sebuah upaya, usaha dan kiat efektif agar para guru muda mau menjadi anggota, pengurus dan bila perlu menjadi ketua PGRI. Mulai dari Ketua Ranting, Ketua Cabang, Ketua Kokab, Provinsi dan PB PGRI.

PGRI perlu mengendorse setiap pengurus muda yang mau aktif dan dedikatif di PGRI. PGRI oleh sejumlah orang disebut organisasi Pensiunan Guru Republik Indonesia (PGRI). Ungkapan ini adalah kritik positif yang harus direspon oleh para pengurus PGRI. PGRI harus menjawab tuntutan perubahan. Kritik eksternal dan internal adalah “bahasa kode” tuntutan perubahan. Setiap kritik positif dan faktual harus direspon sehat oleh organisasi.

Prinsip representative proporsional harus jadi pertimbangan saat Kongres, Konprov, Konkab dan Koncab. PGRI harus menunjukan wajah kolaborasi, sinergi, ramah perempuan dan diisi semua jenjang Pendidikan. Tidak ada dominasi jenjang dalam organisasi yang kolektif kolegial. Bahkan bila perlu kolektif kolegial, milenial dan kenyal menjawab tuntutan perubahan. Idealnya volume pengurus inti dari guru lebih dominan! Tidak hanya di jenjang PC saja. Mulai naik ke kokab, prpv dan PB. Minimal suatu saat kejadian.

Kedepan bisa dibuat sebuah penghargaan atau afirmasi khusus. Misal PB PGRI atau PGRI Provinsi dalam acara HGN dan HUT PGRI memberikan penghargaan kepada para pengurus muda. Dipilih dari 33 provinsi sebanyak 33 orang pengurus termuda dari tingkat cabang usia dibawah 25 tahun. Ini adalah “modus” organisasi agar para guru muda milenial potensial mau menjadi pengurus PGRI ditingkat cabang. PGRI Provinsi yang memilih. Kriteria utamanya adalah siapakah pengurus termuda dari setiap PC.

Memperbanyak apresiasi, silaturahmi dan motivasi langsung pada para pengurus cabang adalah hal yang kurang dilakukan. Kadang Kongres, Konprov, Konkabkot hanya rame untuk menduduki ketua atau pengurus. Selanjutnya kurang peduli pada arus bawah, yang penting bisa nebeng terhormat jadi ketua atau pengurus. Ini bahaya! Apalagi bila yang terpilih tidak ada kaitannya dengan dunia guru dan pendidikan. Bukan GTK!

Lebih berbahaya lagi bila memilih dan menjadi Ketua PGRI karena tujuan politik modus dan karir pribadi semata. Demi mendapat pujian, nilai politik dari kepala daerah maka seseorang mati-matian ingin menjadi ketua PGRI. Menjadi Ketua PGRI demi kepentingan pribadi dan pesan sponsor dari kepala daerah bukan dorongan kebatinan anggota cukup berisiko. Bahaya! PGRI hanya akan dijadikan “portofolio” karir pribadi. Kasihan anggota hanya jadi korban pemilihan yang tak murni rasa guru.

Idealnya setiap Ketua PGRI dari semua jenjang adalah pengurus atau ketua terbaik dari jenjang dibawahnya. Menjadi ketua PGRI sebaiknya menjadi karir organisasi bagi para pengurus yang dedikatif. Bukan menjadi karir “mendadak dangdut” dari orang luar pesanan pihak-pihak tertentu. Ini sangat bahaya bagi pemberdayaan internal PGRI. PGRI bukan berdaya malah bisa terpedaya dan pralaya. Pengurus PGRI yang datang ujug-ujug dari langit, volume kebathinan gurunya akan lemah. Kurang menghargai guru, termasuk derita pilu guru honorer.

Mengutip konsep budaya nasional bahwa kebudayaan nasional adalah kebudayaan terbaik dari setiap daerah. Kebudayaan terbaik daerah akan menjadi kebudayaan nasional. Konsep ini ke depan harus dicobakan di PGRI. Hindari memilih ketua atau pengurus yang ujug-ujug. Ketua atau pengurus yang datang secara “ghoib” dari langit modus dan langit politik. Bahaya! Hindari memilih ketua atau pengurus dari figur yang tidak ada kaitan bathin dengan guru dan Pendidikan.

Sampai detik ini masih ada pengurus atau ketua organisasi PGRI yang “rasa” kebathinan gurunya tak sesuai harapan. Daya respon, sensitifitas dan jiwa bela gurunya rendah. Sejumlah anggota kesulitan menghubungi dan berdialog langsung dengan para ketua yang rasa gurunya rendah. Bahkan kadang mereka lebih aktif dan serius pada pekerjaan formalnya. Atau manggut-manggut pada atasannya di kantor non PGRI. Sementara anggota sulit menemui. Anggota dipunggungi.

PGRI adalah organisasi profesi guru. Sekali lagi guru! Perbanyak pengurus muda dari guru. Perbanyak forum dan dialog yang melibatkan guru formal. PGRI harus mengendorse dirinya kepada publik, pemerintah dan guru anggota bahwa PGRI adalah “Wajah Guru Indonesia”. Bukan dominasi wajah yang lain selain guru. Kebathinan guru dalam tubuh PGRI harus mengendepan, mengemuka, bermuka guru dan kolaborasi dominan guru. Ini penting difahami dan sangat prinsip.

Mengapa PGRI anggotanya sulit bayar iuran? Mungkin karena satu dua hal yang kita lupakan. Diantaranya adalah para pengurus kurang mengenal, jarang silaturahmi dan menyentuh kebathinan anggota di setiap PC dan ranting. Dari merekalah iuran itu mengalir ke atas. Berlaku pepatah, “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Pepatah ini akan berlaku pada organisasi yakni “Tak Kenal Maka Tak Bayar Iuran”.

Iuran adalah masalah mental, emosi dan kebathinan. Jumlahnya sangat sedikit, bariernya adalah rasa dan kedekatan! Mari kita para pengurus PGRI, mulai dari PB sampai PC menguatkan komunikasi, silaturahmi dan membangun kebersamaan. Kuatkan afirmasi, bukan penghakiman pada pengurus atau anggota yang masih belajar. Minimilasiri konflik internal dan friksi. Coba lebih apresiatif dan ikram.

Ingat organisasi PGRI masih dianggap organisasi berwajah tua, mari kita mulai membuka peluang pada generasi guru milenial. Merekalah masa depan kita. Kita yang sudah berumur hanya menunggu “panggilan” Ilahi, yang muda menunggu panggilan Ibu Pertiwi. Konprov, konkabkot dan koncab adalah momentum “menjerat” guru muda milenial. Bila tidak! Maka organisasi lain siap menawarkan kebaruan!

(46)