Polres Banjar Sosialisasi Pencegahan Ekploitasi Seksual Pada Anak di Bawah Umur

Pewarta : A Y Saputra

Koran SINAR PAGI, Kota Banjar,- Dengan maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi belakangan ini, dimana tidak lagi hanya mengancam para remaja yang rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks.

Eksploitasi seks pada anak dibawah umur nyatanya juga sering terjadi oleh orang-orang terdekat yang bahkan dilakukan oleh keluarga korban sendiri.

Untuk mencegah hal tersebut Kapolres Banjar, AKBP Yulian Perdana didampingi Kasat Lantas, AKP Dadang Supriadi memberikan sosialisi atau pengarahan kepada ibu – ibu yang tergabung dalam orang tua murid RA Al Kausar Desa Jajawar, Kota Banjar.

Kegiatan tersebut dilaksanakan atas kerja sama Sat Lantas Polres Banjar dengan melibatkan sebanyak 51 peserta orang tua RA Al Kausar yang dilaksanakan di Aula Timur Polres Banjar,Kamis (27/9/2019)

Kapolres Banjar menyampaikan bahwa dirinya menyampaikan hal tersebut bukan semata – mata tugas kepolisian, namun sebagai orang tua, dirinya wajib menyampaikan pentingnya pendidikan seks bagi anak yang disampaikan oleh orang tuanya

Kapolres menjelaskan, meningkatnya kasus kekerasan merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka peroleh dari tahun pertama oleh orang tuanya.

“Persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih menganggap tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama untuk membekali anak melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai hal termasuk seksualitas.” ujarnya.

Seperti yang terjadi pada beberapa kasus pencabulan anak di bawah umur yang sekarang sudah ditangani oleh Sat Reskrim Polres Banjar, tambahnya.

Dijelaskan, pendidikan seks seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak dalam menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya, terlebih bagi seorang perempuan.

Pendidikan seks menjadi penting mengingat banyaknya kasus-kasus yang terjadi mengenai tindak kekerasan seksual terhadap anak dan remaja, tetapi yang terjadi di lapangan justru orangtua bersikap apatis dan tidak berperan aktif untuk memberikan pendidikan seks sejak usia dini kepada anaknya.

“Mereka seolah menyerahkan pendidikan seks kepada pihak sekolah sebagai sumber ilmu bagi anaknya, padahal pendidikan seks sendiri belum diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah,” ujarnya.

Untuk itu Kapolres Banjar menyampaikan pentingnya orangtua berkomunikasi atau melakukan pembicaraan kepada anak – anaknya.

Menurutnya, pembicaraan tersebut harus diawali dengan menaruh rasa hormat, sehingga anak tidak metertawakan pertanyaan atau kata-kata yang diucapkan.

“Jika orangtua memberikan contoh bagaimana mengucapkan kata-kata “sensitif” dengan penuh hormat, maka anak akan meniru sikap tersebut,” tegasnya.

Mereka tidak akan merasa malu atau tertekan untuk membicarakan hal-hal yang masih dianggap jorok atau tabu bagi sebagian masyarakat, imbuhnya.

Lebih jauh dikatakan, selain mengatur cara berkomunikasi, orangtua juga harus bisa menjadi guru biologi bagi anak – anaknya, bukan berarti harus tahu semua pelajar biologi tapi pentingnya peran orangtua sebagai proteksi dini bagi anak.

“Tanamkan pada anak bahwa hanya ibu, dan ayah atau dokter saja apabila kamu sakit yang boleh melepaskan pakaianmu, menyentuh dan memeriksa bagian pribadi tubuhmu, itu pun harus seijin anak tersebut,” ujarnya.

Ditegaskan, Pendidikan seks kepada anak adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama yang kuat untuk membentuk karakter anak agar ketika dewasa nanti anak memiliki bekal yang kuat dalam dirinya untuk tidak terjerumus dalam pergaulan seks bebas.

“Nilai agama sangat berperan penting sebagai dasar pemahaman anak untuk dapat menjaga dirinya dengan baik,” ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut Kapolres Banjar sekaligus menyampaikan pentingnya mematuhi peraturan lalu lintas. Menurutnya penggunaan Helm tidak hanya mematuhi peraturan, tapi untuk keselamatan diri dalam berkendara, selain itu penggunaan helm dan mematuhi peraturan merupakan adab, tandasnya.

(12)