Apakah Sajadah & Buah Kurma Jalan Halalnya Cinta?…

Kisah cinta memang tumbuh dengan jalan yang berbeda. Ada yang karena benci tingkat tinggi jadi bener-bener cinta. Ada yang awalnya cinta mati ujungnya benci tanpa henti. Semua memiliki awal yang berbeda dan ahir yang berbeda. Tapi kalau awalnya baik biasanya berahir baik juga. Kisah cinta seperti inikah yang akan kita jalani?…

Semoga apa yang tertulis dan terbaca ini akan membuka awal banyaknya kebaikan bagi penulisnya dan pembacanya?

Inilah kisah kang Dwa Dan teh Desra, mereka dipertemukan tanpa diduga, dipertemukan dalam alam nyata dan di sebuah alam do’a.

Awalnya sang Teh Desra mengikuti kemping yang bersamaan dengan kang Dwa. Setelah kemping beres dan semua kembali ketempat kediamanya masing-masing. Teh Desra  merasa kehilangan sajadahnya. Dan untungnya ada yang menemukan dan mengembalikannya dialah kang Dwa.

Mereka pun ditakdirkan bisa ngobrol. Untuk bertemu ditempat kerjakah, di masjidkah atau ditempat lain? Ternyata mereka sepakat untuk bertemu di masjid.

Awalnya kita bertemu ditempak kerja, lalu mereka bertemu di pegunangan yang sejuk dan ahirnya sering bertemu di masjid yang suci. Sempurnalah tempat-tempat pertemuan itu.

Sajadah yang hilang dan ditemukan telah terbungkus rapi. Teh Desra tersenyum manis dan gembira saat menerima sajadah yang diberikan kang Dwa. Inikah awal baik keduanya?…

Diantara tempat terhubungnya hamba dengan tuhannya ialah melalui do’a yang terucap diatas sejadahnya. Semoga sejadah itu menjadi tempat awal saling mengenal dan menyatukan hingga ahir dalam sujud ketaatan.

Kisahnyapun berlanjut, kang Dwa ingin lebih mengenal Teh Desra dengan berbagai cara. Baik mengenal hatinya, keluarganya, ilmunya, pekerjaannya dan lainnya. Untuk menemukan jalan yang sama apakah kang Dwa dan Desra ditakdirkan menempuh jalan yang sama bernama jodoh. Lihat kisahnya dan ciri-ciri mereka berjodoh atau tidak.

Dari kata atau panggilan nama, Kang Dwa dan Desra memiliki nama yang sama pada kata depan dan belakangnya. Kang Dwa & Desra, awalnya huruf (D) dan ahirnya huruf (A). Udah sama namanya apakah akan ditakdirkan untuk bersama?

Teh Desra gadis kelahiran Cirebon yang merantau ke Bandung, kang Dwa anak kecil yang dibasarkan di Bandung. Keduanya dari arah timur merantau menuju barat dipertemukan di daerah tempat merantaunya. Mereka memiliki sejah merantau yang sama, apakah ini ciri mereka akan hidup bersama?

Selain itu dari jejak menuntut ilmu, mereka memiliki guru yang sama, suka mendengarkan radio yang sama, banyak yang sama juga ya. Semoga ini pertanda jalan untuk bersama.

Lalu apakah ada yang sama lagi? Ada kadang motornya teh Desra (D 3895) sering parkir berdekatan walaupun tidak janjian dengan motor kang Dwa (D 4775). Bukan hanya orangnya yang saling mendekat ternyata motornyapun ingin berdekatan.

Kang Dwa dan teh Desra mereka pernah bertemu di tempat wudhu diwaktu malam isya, diwaktu subuh sebelum menuju masjid di tempat perkempingan.  Mereka dipertemukan ditempat wudhu, tempat mensucikan diri, dan dipertemukan menjelang subuh diawal hari. Sangat istemewa mereka dipertemukan waktu dan tempatnya.

Kisah selanjutnnya mereka saling mengenal lebih dekat.Awalnya kang Dwa pura-pura beli kurma, ternyata ada misi kisah cinta didalamnya. Jual belipun menjadi awal jalan mengenal Teh Desra yang sesungguhnya. Karena ada pepatah Arab, jika engkau ingin mengenal seseorang maka lakukanlah perjalanan yang panjang dengannya atau hendaklah sering berjual-beli denganya.

Sebelumnya kang Dwa juga sudah mengenal Teh Desra, tapi belum mengenal seutuhnya. Awalnya kang Dwa mengenal teh Desra ditempat kerjanya, saat ingin terapi islami.

Diingatan kang Dwa pertama ketemu dengan teh Desra. Telihat teh Desra seperti wanita yang cenderung pendiam atau hemat bicara. Namun sikap itu mencerminkan wajah yang penuh ketegasan, pribadi yang mampu menjaga diri, dan kehormatan.

Tak lama dipertemukan ditempat terapi. Takdir mereka dipertemukan kembali di acara penyembelihan hewan qurban di Pasir Keramat.

Dan tak lama beberapa tahun selanjutnya juga dipertemukan kembali di kampung Cipanganten. Ada yang menarik dan istimewa dipertemuan itu. Karena bukan hanya dipertemukan dalam dunia nyata tapi berupaya dipertemukan dalam sebuah do’a. Pada penutupan acara kang Dwa berdo’a semoga dia (teh Desra) jadi jodohnya.

Kang Dwa serius menghadirkan teh Desra dalam do’a:

Ya Alloh, aku mohon pada-Mu. Jadilah dia wanita yang menyempurnakan agamaku, membawa kebaikan untuk hidup hingga matiku. Satukan kami dalam ketaatan kepada-Mu.

Doa yang selalu dingat dan diucap kang Dwa untuk teh Desra.

Dan buah terbaik yang nabi anjurkan untuk umatnya ialah buah kurma. Semoga buah kurma yang mengantarkan mereka saling mengenal buah itu mengantarkan mereka  menemukan sesuatu yang terbaik yang selama ini mereka saling mencari. Seperti kisah Adam dan Hawa.

Kalau ditanya sejauh mana kang Dwa mengenal teh Desra. Seperti ini kisah mengenal sikap sebenarnya teh Desra. Waktu hujan gerimis mereka bertransaksi kurma, dan terlihat tenang teh Desra waluapun air hujan membasahi tubuhnya. Disaat wanita lain gelisah saat tertimpa hujan. Teh Desra bisa diartikan wanita yang menyakini hujan itu berkah dan waktu dikabulnya do’a. Sehingga tidak perlu ditakuti dan dijauhi? Subhanalloh ini wanita istimewa.

Kisah selanjutnya jalan mengenalnya. Dan saat transaksi dimalam hari, teh Desra sempat menyinari pakai cahaya HP uang kembalian yang diberikan kang Dwi, ini menjadi bukti teh Desra teliti dan memastikan uang kembaliannya tidak tertukar atau kurang.

Teh Desra juga terlihat adil saat berbarengan berkomunikasi dengan kang Dwa dan Kang Hasadikin (Pria bersuami). Teh Desra telihat hati dan menjaga diri saat kominikasi dengan pria bersuami. Tapi saat berkomunikai dengan Pria yang belum beristri dia bisa lebih istimewa ini rahasia yang disembunyikan kang Dwa, tidak ditulis disini agar yang tau hanya persaan teh Desra dan kang Dwa.

Ada yang menarik juga saat teh Desra pada suatu hari sempat bertanya ke kang Dwa, tentang asal usul rumahnya, pekerjaannya, keluarganya dan lain-lainnya. Perasaan kang Dwa ternyata teh Desra juga ingin mengenal lebih kang Dwa. Apakah ini pertanda mereka ada jalan untuk ditakdirkan hidup bersama?….

Apakah ayat Al-qur’an ini juga yang sedang mereka pikirkan dan ingin amalkan bersama?…

Bismillahirrohmanirrohiim…

“Dan nikahkanlah orang-orang yang membujang diantara kamu dan juga orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahaya yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Alloh akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunianya dan Alloh maha luas pemberiannya dan Maha mengetahui (Q.S An-Nur 32)

Jika kang Dwa mengucapkan niat nikah dan konsep keluarga sakinah seperti ini, seperti apa persaan, hati dan sikap teh Desra?…

1.Ingin menyempurnakan agama

2.ingin melaksanakan sunah umat Nabi

3.Menambah dan melipatkan pahala dengan menikah

4.Mempraktekan konsep keluarga sakinah

  1. Membangun kebutuhan psikologis dan biologis

Dengan Konsep Keluarga Sakinah Yang Akan Dibangun melalui:

1.Setia membimbing untuk lebih sholehah calon istri

2.Setia menjaga jasmaninya tetap sehat dan hatinya tetap bersih

3.Setia menjemput nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga

4.Setia menjaga nama baik, kehormatan, dan keharmonisan keluarga

5.Setia untuk tidak memukul, membentak, dan berkata kasar jika sang istri ada kekhilafan

  1. Setia untuk tidak tidur sebelum sang istri tidur agara sang istri merasa nyaman dan aman ada sang suami yang menjaganya

7.Setia bangun pagi sebelum sang istri bangun, karena sang suami ingin hadir disetiap awal hidupnya

8.Setia berdakwah suami kepada istri setiap ba‘da subuh dan malam selama minimal 15 menit setiap harinya sebagai wujud bimbingan kasih sayang kepada keluarga

9.Setia mengajak dan menghafal memahami al-qur‘an dan hadist minimal 2jam setiap harinya.

10.Setia menjadikan musyawarah dalam setiap keputusan jangka panjang.

“Segala apa yang diniatkan cenderung banyak kekurangan, tapi kang Dwa yakin kehadiran wanita sholehah akan membawa berkah”

Merka saling mengenal karena sajadah yang tertinggal dan ditemukan. Saling mengenal lebih melalui buah kurma yang kau jual dan ku makan hingga mendarah daging dalam jasad ini.

Apakah sajadah dan buah kurma pertanda halalnya cinta. Mari kita lihat kisah selanjutnya?…

(Penulis cerpen bersambung: Dwi Arifin)

 

(19)