Dosen Faperta Uniga Lakukan Pengabdian Kepada Poktan Mukti Tani III

Pewarta : Fitri

Koran SINAR PAGI, Kab.Garut,- Dosen Fakultas Pertanian Universitas Garut (FAPERTA UNIGA) Hanny Hidayati Nafi’ah,SP.,MP dan Mega Royani,S.Pt.,MS, melakukan pengabdian kepada kelompok tani Mukti Tani III yang diketuai oleh H.Suganda, berlokasi di Desa Kersamenak Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut.

Pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan dilakukan oleh Hanny Hidayati Nafi’ah dengan tema “Meningkatkan Potensi Hasil Padi dengan Aplikasi Pupuk Hayati” dan dalam bentuk pelatihan dilakukan oleh Mega Royani dengan tema “Amoniasi Jerami Padi untuk Pakan Ternak”.

Dalam kesempatan tersebut dari UPT Kecamatan Tarogong Kidul hadir juga penyuluh THL TB PP APBD Siti Nurul Hidayah,SP. dan THL POPT Heru Saleh,SP.,MP., sebagai pemateri dari penyuluh Dinas Pertanian hadir juga Hilmi Hardimansyah,SP.

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan ini di danai oleh Kemenristek Dikti melalui Dana Hibah Pengabdian dengan Skema Program Kemitraan Masyarakat tahun pelaksanaan 2019.

Awal mula terlaksananya pengabdian ini adalah hasil survey yang menunjukkan anggota kelompok tani belum mengetahui apa itu pupuk hayati dan fungsinya untuk meningkatkan produksi padi serta bagaimana cara mengolah jerami dengan metode amoniasi untuk pakan ternak.

“Pupuk hayati adalah pupuk yang berisi mikroba hidup untuk meningkatkan kesuburan tanah, mikroba ini yang akan mengelola ketersediaan unsur hara yang merupakan makanan bagi tanaman,” papar Hilmi.

Dosen Paperta Uniga, Hanny Hidayati Hafi’ah, mengatakan Penyuluhan ini dimaksudkan untuk menabah pengetahuan bagi kelompk tani khususnya Mukti Tani III dalam mengoptimalkan produksi padi dengan penggunaan pupuk hayati.

“Pupuk yang diberikan ke dalam tanah tidak cukup hanya pupuk organik dan pupuk anorganik, tetapi harus juga diberikan pupuk hayati. Dapat dikatakan pupuk organik dan anorganik adalah bahan baku unsur hara, sedangkan pupuk hayati adalah pekerja yang menyediakan unsur hara bagi tanaman” jelas Hanny.

Kegiatan pengabdian selanjutnya adalah pelatihan amoniasi jerami, pelatihan ini bertujuan untuk menambah keterampilan petani dalam mengelola limbah pertanian.

“Saat ini masih dilakukan pembakaran jerami padi di lahan sawah setelah panen, hal tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkukan karena asap yang ditimbulkan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka harus dilakukan pengelolaan limbah jerami salah satunya dengan amoniasi.” papar Mega.

Menurutnya, Amoniasi adalaha proses fermentasi jerami dengan menggunakan urea, pelaksanaannya dapat membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu, jerami yang teramoniasi memiliki nutrisi yang lebih tinggi dan lebih cepat dicerna oleh sapi dibandingkan jerami tanpa amoniasi.

Pengabdian ini diharapkan dapat diterapkan oleh petani terutama anggota Mukti Tani III dalam meningkatkan potensi hasil padi dan pengelolaan limbahnya.

Jika dari pembaca ada yang berminat untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pupuk hayati dan amoniasi, dapat datang langsung dan bersdiskusi dengan Hanny atau Mega di FAPERTA UNIGA.

(31)