Untuk Bapak Hamid Muhammad

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Beberapa kali Saya diadukan oleh sejumlah guru SMK. Terkait keluarnya Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 07/D.D5/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 tentang Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

Sejumlah guru sejarah yang mengajar di SMK merasa dipandang sebelah mata. Merasa diperlakukan tidak adil oleh kebijakan Dirjen Dasmen. Bagi guru sejarah di SMK Bapak Hamid Muhammad sebagai Dirjen seolah telah “melenyapkan” mata pelajaran sejarah di kelas 11 dan 12 SMK.

Entah apa alasan Pak Hamid Muhammad “melenyapkan” mata pelajaran sejarah. Apakah alasan Pak Hamid Muhammad yang sebenarnya? Demikian kata sejumlah guru sejarah di jenjang SMK. Menurut Saya sebagai Ketua PB PGRI yang sering menerima curhat para guru pun rasanya kurang bijak bila pelajaran sejarah dihilangkan di kelas 11 dan 12.

Setidaknya ada dua alasan logis mengapa pelajaran sejarah penting. Pertama dalam Nawa Cita Presiden Jokowi jelas disebutkan dalam butir ke 8. Ditulisakan “pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Pak Hamid Muhammad nampaknya tidak menangkap pesan Presiden Jokowi bahwa pelajaran sejarah justru perlu lebih dikuatkan dengan pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Aneh memang bila pelajaran sejarah dihilangkan di kelas 11 dan 12. Presiden Sukarno menyebut Jas Merah. Presiden Jokowi menyebutnya dalam Nawa Cita. Keduanya presiden ini membawa pesan “utamakan pelajaran sejarah.”

Pesan Bapak Bangsa, Bung Karno dan Presiden Jokowi terkait pentingnya pendidikan sejarah idealnya menjadi prioritas. Pesan “orangtua” kita Bung Karno dan pesan Presiden Jokowi terkait pentingnya pelajaran sejarah mesti dipahami oleh para pejabat pendidikan. Bila tidak bahaya! Bisa kejadian generasi muda pelajar “amnesia” sejarah.

Pengaduan sejumlah guru sejarah SMK pada Saya bukan semata kepentingan jam mengajar. Atau kepentingan administrasi untuk pencairan TPG. Melainkan kepentingan yang jauh lebih utama yakni sesuai amanah Presiden Jokowi dalam Nawa Citanya. Apa? Pentingnya nilai-nilai patriotisme, cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti.

Apa jadinya lulusan SMK, apalagi bekerja di luar negeri minus fanatisme dan nilai-nilai cinta tanah air. Hal penting lainnya adalah terkait budi pekerti. Terkait sikap mental atau attitude. Sejumlah pengusaha mengatakan bahwa lulusan SMK secara keahlian atau vokasi tidak ada masalah.

Mereka kalau masih kurang cakap masih bisa didiklat atau di ditraining. Namun hal yang paling penting dari lulusan SMK adalah attitude. Bagaimana mentalitas lulusan. Mentalitas lebih penting dari keahlian.

Sejumlah pengusaha sepakat pada satu hal penting dari lulusan SMK adalah terkait mentalitas. Kejujuran, disiplin, kerja keras dan sifat-sifat kepahlawanan sebagai pekerja harus ditumbuhkan dengan maksimal. Para lulusan SMK pada hakekatnya adalah para pahlawan pekerja dan devisa bagi negara. Lulusan SMK harus diinspirasi, dikuatkan mentalitasnya. Tidak hanya pelajaran vokasi semata.

Kita semua tahu saat ini Gubernur Jawa Barat sedang “galau” terkait banyaknya pengangguran lulusan SMK. Tidak dapat dibayangkan bila lulusan SMK yang nganggur nilai-nilai cinta tanah airnya rendah. Bila mentalitas dan attitude lulusan SMK belum terbangun dengan baik karena misal pelajaran penting seperti sejarah dihapuskan maka bahaya. Bisa jadi kriminalitas dan tawuran.

Disejumlah SMK swasta dan negeri di berbagai daerah terkadang ada sejumlah alumni atau lulusan yang menjadi provokator tawuran antar SMK. Ini sangat bahaya. Pelajaran sejarah setidaknya menjadi bagian dari upaya membentuk karakter generasi muda yang cinta tanah air, toleran dan memiliki nilai-nilai kepahlawanan. Jas Merah Pak Hamid Muhammad!

Segera kaji ulang Perdirjen No 07 tahun 2018 terkait “lenyapnya” pelajaran sejarah. Bila perlu kembalikan pelajaran sejarah seperti sebelumnya. Ada di kelas 10, 11 dan 12 sehingga setiap tahun anak didik “discan” dengan nilai-nilai kepahlawanan dan budi pekerti kesejarahan. Plus para guru sejarah semoga makin serius dan kompeten mengingat betapa pentingnya pelajaran sejarah bagi gerasi muda.

(35)