Diduga Program BSPS Desa Samar Melenceng

Pewarta : Ok

Koran SINAR PAGI, Kab. Tulungagung,- Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kabupaten Tulungagung tahun 2019 menimbulkan banyak komentar beragam dari kalangan penerima bantuan maupun warga netizen pengguna media sosial.

Banyak hal yang ditulis oleh netizen di beberapa grup yang ada di media sosial. Sebagian besar netizen mengkritisi terkait pelaksanaan BSPS sekarang, terutama dari bahan bangunan yang diterima oleh penerima bantuan.

Bahkan baru-baru ini ada postingan terkait hal tersebut yang diunggah salah satu akun di grup Masyarakat Kritis Tulungagung (MKT) .Unggahan tersebut menulis tentang kondisi bahan bangunan yang diberikan kepada penerima bantuan di desa samar Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung.

Hasil penuelusuran di Desa tersebut didapati kenyataan yang tidak berbeda jauh dengan unggahan tersebut. Diduga kondisinya hampir sama dengan penerima bantuan di wilayah Kauman dan Tanggunggunung. Banyak komentar beragam yang dikeluarkan oleh penerima disana.

Batako terlalu rapuh, pasir nglebo (kandungan lumpur terlalu tinggi)” kata beberapa penerima bantuan disana. Bahkan ada penerima bantuan disana menyatakan agar pasir yang dikirim kualitasnya bagus berani memberikan biaya tambahan kepada sopir truk yang mengangkut. Tapi ada juga yang tidak memakai pasir yang didatangkan.

“Untuk pasir terpaksa beli sendiri karena yang didatangkan kurang begitu layak” kata penerima bantuan di Dusun Gading Desa Samar sambil menunjuk tumpukan pasir yang tidak digunakan.
Untuk batakonya, penerima bantuan sudah menyampaikan ke pendamping tentang keluhan tersebut. Ada perbedaan perlakuan yang didapat oleh penerima bantuan yang berada disekitar jalan raya dengan penerima bantuan yang berada di pelosok.

“Batako tidak diganti tapi dikirim lagi dengan kualitas sedikit lebih bagus” ujar beberapa warga penerima di sekitar jalan raya Desa Samar.

Sedangkan penerima dipelosok Desa menyatakan perihal yang berbeda. “Batako dikirim lagi tapi kualitas masih sama” kata beberapa warga sambil menunjukkan batako yang didatangkan.

Untuk besi juga tidak luput menjadi sorotan para pekerja. “Sudah menjadi hal biasa kalau diameter besi kurang dari keterangan yang ada” kata beberapa pekerja. Menurut mereka istilahnya besi banci.

(150)