Love You Bapak Supriano, Bapak Wisnu

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Mengawali tulisan ini layak Saya tuliskan, “Love you Pak Dirjen Supriano, love you Pak Setdijen Wisnu, love you Ketua PGRI Sumut Pak Abdul Rahman, Love you Ketua PGRI Simalungun Pak Albert Pancasila Sipayung”. Mereka terlah berjuang langsung melakukan pembelaan terhadap 1.695 guru yang “dipecat” dari jabatan terhormat fungsionalnya sebagai guru. Pokonya love you semua pihak yang sayang pada guru dengan segala kendala dan keterbatasannya.

Saya membaca ada “kemistri” antara Kemdikbud (Dirjen GTK), guru yang dipecat dan PGRI. Sebuah irama rasa yang sama tentang betapa pentingnya layanan pendidikan tetap berjalan dengan baik. Betapa pentingnya tenaga pendidik “dimanusiawikan”. Jangan sampai terjadi seperti di salah satu SDN Situbondo Jawa Timur sejumlah 4 guru meningalkan anak didiknya karena kecewa tidak jadi PNS. Sejumlah anak didik hak belajarnya menjadi terganggu. Haruskan demikan?

Apapun tentang guru akan terkait tentang hak anak didik. Anak didiklah pemilik masa depan. Jangan main-main dengan entitas guru karena Ia pelayan anak didik pewaris masa depan bangsa. Masalah guru adalah masa depan bangsa. Sebaiknya para Kepala Derah lebih cermat, persuasif, afirmatif dan lakukan pendekatan perlindungan dan kesejahteraan pada guru. Bukan pendekatan horor!

Membaca “surat perintah” Dirjen GTK kepada Bupati Simalungun bernomor 5873/B.Bl.3/GT/2019 agar membatalkan SK Bupati Simalungun JR Saragih Nomor 188.45/5929/25.3/2019, 188.45/5927/25.3/2019 dan 188.45/5928/25.3/2019. Artinya kementerian pendidikan menyarankan Bupati JR Saragih “Mengembalikan guru PNS dalam jabatan fungsional guru, serta memberikan hak tunjangannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Selanjutnya Kemdikbud dalam suratya menghendaki, “Pemerintah wajib memberikan dukungan antara lain memberikan ijin belajar dan atau tugas belajar serta bantuan pendidikan atau beasiswa untuk peningkatan kualifikasi akademik S-1 atau D IV. Pemeritah daerah wajib menjamin pemberian layanan pendidikan di Kabupaten Simalungun berjalan dengan baik, sebagai hak konstitusional setiap warga negara. Kode keras dari surat ini adalah, “Layani guru dengan serius dan lebih baik”.

Kok tidak sejalan Kepala Daerah dengan Kemdikbud, dengan PGRI dan kebathinan para guru? Wahai para Kepala Daerah waspadalah terhadap nasib para guru. Bukan pendekatan “teror” yang harus diberikan kepada para guru namun pendekatan persuasif, edukatif dan motivatif. Bahkan “Tragedi Cianjur” dan sejumlah daerah lainnya nasib guru rawan terkena “teror bom kebijakan” para Kepala Daerah. Plus politiasi dan sejumlah konspirasi lainnya.

Wahai para Kepala Derah waspadalah! Guru adalah “makhluk” pembicara. Bila terjadi ketidakadilan kepada para guru maka Ia bisa “membicarakan” kepada Tuhannya di mesjid. Berbicara kepada rekan sejawatnya di organisasi profesi PGRI. Berbicara di media cetak dan maya mengadu kepada publik. Membentuk opini publik. Siapa yang bisa lawan opini publik kalau sudah terbentuk? Bisa juga berbicara di ruang kelas dan mengatakan pada anak didiknya, “Nak kamu suatu saat jadilah Kepala Daerah yang sayang guru, jangan sembarangan memecat guru”.

Selanjutnya para guru mungkin berkata, “Nak kamu jangan jadi Kepala Daerah seperti di Simalungun ya”? Bila ada oknum Kepala Daerah memecat guru dan memperlakukan secara tidak adil. Mutasi, rotasi, sanksi dan kosnpirasi lainnya sama dengan memperlihatkan seorang Kepala Daerah bagai Malin Kundang.

Malin Kundang adalah anak yang durhaka pada orangtuanya. Guru pada hakekatnya adalah orangtua dari semua kepala daerah atau semua pejabat di negeru ini. Bukankah mereka semua pernah belajar dan bersama guru?

Sebaliknya seorang guru bisa saja berkata, “Jadilah Kamu seperti Bapak Dirjen GTK Dr.Supriano,M.Ed.dan Bapak Wisnu Ph.D. Ia adalah pelayan guru yang handsome, humble dan kooperatif. Jadilah kalian suatu saat sebagai pejabat pendidikan dan muliakan para guru. Mereka harus dimuliakan karena sejumlah keterbatasan masih menempel pada komunitas mereka. Guru bermasalah bukan dipermasalahkan tetapi diberi solusi tanpa masalah. Jangan kalah sama “Iklan Pegadian” yakni “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”.

(42)