Petani Akan Lakukan Aksi Jika Tak Ada Ganti Rugi PT KAI

Pewarta : Fitri

Koran SINAR PAGI, Kab.Garut,- Diduga adanya reaktifitas rel kereta api menjadi sumber kekeringan petani, seperti yang terjadi di Desa Sukamulya Kecamatan Pangatikan Kabupaten Garut yang saat adanya kegiatan reaktifitas tersebut kurang lebih 20 hektar lahan pertanian warga alami poso (gagal panen).

“Sebelum ada reaktifitas kami para petani tak pernah kekeringan air kendatipun di musim kemarau, namun setelah adanya reeaktivasi menjadi kekeringan,” tandasnya salah satu petani Ganjar di dampingi Ketua RW 13, Dindin di kediaman Ketua RW 13, Jumat (09/08/19).

Menurutnya, sebelum melakukan reaktifitas, biasanya selalu ada perencanaan seperti berapa anggaran, titik yang harus di perbaiki, dan dampak lingkungan yang tergangu serta cara penanggulangannya Yang akhirnya tak menjadi bahan keributan.

“Warga yang awalnya aman tentram, namun setelah kekeringan menjadi bahan keributan yang saling perebutan air,” ucapnya.

Dikatakannya, para pertani meminta PT KAI membangunan TPT di tempat sipon, sebagai ganti rugi pertanian yang terkena poso sekitar 20 hektar.

“Sekarang talang air dipasang oleh swadaya warga petani untuk lahan pesawah,” ujarnya.

Pihaknya akan berkoordinasi ke dinas pertanian setempat, yang nantinya akan berkoordinasi ke tingkat Kabupaten.

Dengan adanya reaktifasi rel Kereta api jangan sampai ada dua belah pihak yang di rugikan, karena petani bagian dari ketahanan pangan.

“Jika tak adanya ganti rugi dari PT KAI, nantinya kami bersama warga akan melakukan aksi damai dengan menduduki rel keteta api,” pungkasnya.

(11)