Warkop Elisabeth Digusur, Pedagang Menangis Histeris

Pewarta : Ester

Koran SINAR PAGI, Kota Medan,– Puluhan kios pedagang Warung Kopi (Warkop) di kawasan Taman Ahmad Yani, Jalan H Misbah, tepatnya di depan RS Santa Elisabeth, Kelurahan Jati kecamatan Medan Maimun Kota Medan, digusur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Medan pada Kamis (01/08/19).

Tidak kurang dari 300 personel Satpol PP menertibkan kios-kios yang menjajakan makanan tersebut. Melihat tempatnya mencari nafkah yang sudah berusia puluhan tahun itu rata dengan tanah, tiang-tiang penyangga tenda tak lagi berdiri kokoh akibat dicopot oleh petugas Satpol PP dan meja-meja yang biasanya ramah menyambut tamu dengan hidangannya tak lagi ada, para pedagang pun tertunduk lesu dan berlinang air mata.

Tak rela sumber kehidupannya dirusak, sejumlah ibu-ibu tangguh pun memberikan perlawanan kepada para personel Satpol PP. Mereka pun menangis histeris, memukul aspal seolah menghentak bumi sembari mengucapkan sumpah serapah dengan teriakannya yang sudah terdengar parau.

“Kami ini rakyat kecil, kami sudah berjualan di sini puluhan tahun. Yang kami jual itu yang halal, kami jual makanan untuk para pengunjung yang datang. Kami juga membantu para keluarga pasien yang sakit di RS Elisabeth untuk bisa membeli makanan dengan mudah karena posisinya yang dekat. Sekarang kami mau jualan dimana?” teriak salah seorang ibu-ibu pedagang di sana.

Lihat anak-anak kami ini, mereka butuh makan. Apakah setelah ini kami harus jual narkoba biar anak-anak kami bisa makan? Kami semua di sini pedagang baik-baik, yang kami jual juga yang baik-baik,” teriaknya lagi.

Begitu pun dengan kaum ayah, mereka berusaha mempertahankan lapak dagangannya, namun tetap kalah dengan jumlah personel Satpol PP yang berjumlah ratusan orang.

“Kalau tak boleh kami jualan di sini, jadi kami mau jualan dimana? Kenapa tak disediakan lokasi jualan kami yang baru? Lantas dari mana kami hidup? Ini cara kami menyambung hidup dan menyekolahkan anak-anak kami. Tolong bantu kami, di mana pemerintah? Dimana?” teriak pria yang menggunakan lobe sambil dirangkul anak lelakinya yang masih remaja.

Tak lama, dua anggota dewan Kota Medan hadir dalam penertiban lapak warkop itu. Mereka adalah Boydo Panjaitan dari Komisi III dan Parlaungan Simangunsong dari Komisi IV. Keduanya sepakat akan membantu persoalan yang dihadapi oleh para pedagang dengan segera memanggil sejumlah OPD terkait dalam hal ini.

“Kami akan bantu bagaimana caranya agar dapat tempat yang baru, apakah kiosnya nanti akan dimasukkan ke dalam lapangan atau bagaimana, yang penting tidak berjualan di atas parit lagi. Sebenarnya warkop Elisabeth ini adalah salah satu ikon Kota Medan. Tapi sudahlah, nanti akan kita carikan solusi lain, segera. Sabar lah inang,” ucap keduanya sambil menenangkan ibu-ibu yang menangis.

Di sisi lain, Kasatpol PP kota Medan, M Sofyan menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya untuk menegakkan Perda. Sebagai aparat penegak Perda, Sofyan hanya berusaha profesional dalam menjalankan tugasnya.

“Kami sudah beri surat peringatan sebanyak 3 kali, terakhir dua hari yang lalu sudah kami beri surat untuk pengosongan. Para pedagang kooperatif, justru tadi kami mendapatkan sedikit perlawanan dari pihak-pihak yang kami tahu bukan pihak pedagang tapi oknum lainnya dan saat ini sudah ditangani oleh teman-teman dari kepolisian” ujar Sofyan.

(5)