Lima B, Plus Satu H

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Dalam ilmu sejarah dikenal ada rumus unsur dasar sebuah berita (kisah) yakni 5W + 1H (what, who, when, where, why, how). Narasi dan deskripsi sebuah kisah sejarah (berita) akan jauh lebih efektif dan faktual bila menggunakan rumus tersebut. Apa? Siapa? Kapan? Dimana? Kenapa? Bagaimana?

5W + 1H menjelaskan tentang apa yang terjadi? Melibatkan siapa saja? Waktunya? Tempatnya? Sebabnya dan kronologinya? Bila ke enam unsur ini dipenuhi sebuah kisah sejarah atau berita dan pengkabaran bisa lebih terang benderang dimengerti. Terhindar dari hoaxs dan berita bohong.

Nah sahabat pembaca ada lagi sebuah unsur yang penting juga terkait kehidupan kita. Ini bukan masalah sejarah atau berita melainkan sebuah kiat sederhana agar hidup kita lebih “bersejarah” dan menjadi “berita” baik. Bersejarah dan berita baik artinya sejenis success story dalam kehidupan kita.

Unsur apa saja? Sederhana saja yakni unsur Lima B, Plus Satu H. Boleh juga dituliskan 5B + 1 H. B pertama adalah keberanian. Sukses hidup itu lebih dominan ditentukan oleh keberanian. Semua orang sukses adalah pemberani dalam melakukan sesuatu yang Ia impikan. Keberanian adalah mentalitas pejuang dan ketakutan adalah mentalitas pecundang.

Berani itu benar-benar satu kata tetapi dampaknya ribuan pengalaman terbaik akan diraih. Best practice seseorang terlahir dari keberanian melakukan sesuatu. Bahkan seseorang harus berani gagal. Bahkan gagal berkali-kali pun harus siap. Orang berani adalah orang yang laki banget. Berani itu identik dengan lelaki. Penakut itu identik dengan wanita. Bahkan bukankah para wanita pun ada yang berani.

Jangan-jangan yang panakut itu bukan lelaki dan bukan pula wanita. Apa itu jenis kelamin para penakut? Jangan-jangan tak jelas jenis kelaminnya. Wow malu kan? Ayo beranilah kita untuk melakukan sesuatu sebagai tangga kehidupan. Dalam ajaran agama mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah maka Ia akan berani menghadapi apa pun”

Sebaliknya “Siapa yang tidak takut kepada Allah maka banyak hal yang akan membuatnya takut.” Serem kan? Masa kita menjadi penakut tetapi tidak yakin kepada Allah. Artinya para pemberani itu dipastikan memiliki kekuatan Ilahi dalam mentalitasnya. Yakin pada Allah yakin pada reisiko apapun. Lakukan! Kerjakan! Dan siap menerima risiko apapun.

B kedua adalah berilmu. Pepatah bijak mengatakan hidup dengan ilmu menjadi mudah. Ilmu itu adalah petunjuk akan sesuatu. Berilmu berarti “berpetunjuk” menuju sesuatu yang akan kita lakukan. Tanpa pengetahuan, informasi, keahlian dan cara-cara melakukan sesuatu sulit bagi kita untuk lancar dan sukses. Berilmu adalah ciri kemanusiaan kita.

Hanya karena ilmu pengetahuanlah diantaranya mengapa manusia menduduki “tangga tertinggi” dari rantai-rantai makanan dan “politik” kehidupan. Manusialah yang menjadi khalifah di muka bumi. Pengetahuannya yang bersumber dari potensi nalar dan rasa. Sejak Nabi Adam A.S. diciptakan Tuhan sudah mengetes prototyfe manusia dihadapan para Malaikat dan Ia lulus.

Karena berilmu, berbudaya dan beradablah manusia mendapatkan “respektasi” dari para Malaikat dan Jin yang Tuhan sudah ciptakan lebih dahulu. Mengapa manusia disekolahkan dan diwajibkan belajar? Agar Ia berilmu. Ilmu adalah petunjuk bagaimana manusia melangkah lebih baik dan manusiawi. Ilmu adalah pembeda mana antara basic insting dan basic learning.

B ketiga adalah berkorban. Banyak hal yang harus kita korbankan menuju sebuah kesuksesan. Berkorban itu syarat agar mendapatkan sesuatu. Ada yang didapat ada yang dikeluarkan atau dikorbankan. Korban perasaan, pikiran, tenaga, harta, waktu dan korban lainnya. Ibarat bila kita membeli sesuatu mesti ada yang dikeluarkan dalam bentuk uang dari dompet.

Berkorban bahkan dilakukan dalam ajaran agama. Ajaran kehiduoan pun “memerintahkan” kita untuk berkorban. Terutama harta, tenaga dan berani korban perasaan menunda kesuksesan dan kebutuhan pragmatis. Pandai menunda kesenangan demi kesenangan yang lebih besar pada masa yang akan datang.

Orang sukses adalah orang yang mau berkorban perasaan untuk sabar menunda kesenangan. Hal yang sangat baik bila kita “berpusa” dahulu mengorbankan perasaan dan nafsu untuk menikmati sesuatu demi sesuatu yang lebih baik pada masa yang akan datang. Bukankah kepongpong sangat sabar berdiam diri sebelum bisa bertranformasi diri menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa terbang?

Sejumlah orang gagal karena “kikir” tak berani berkorban. Berkorban itu adalah memberi. Bahkan tak harap kembali. Ikhlaskanlah setiap apa yang kita korbankan. Apa yang kita berikan demi sebuah visi dan harapan pribadi. Beranilah berkorban karena apa yang kita korbankan adalah syarat untuk mendapatkan sesuatu. Tidak berkorban tidak mendaptakn sesuatu. Percayalah!

B ke empat adalah berkhidmat. Berkhidmat artinya identik dengan mengabdi dan melayani. Berkhidmat adalah mentalitas wow yang hanya ada pada para manusia mulia. Khidmat itu memuliakan kehidupan dan orang lain. Hidup ini pada dasarnya adalah tabur tuai. Siapa yang menanam pohon A maka akan menerima buah A. Siapa yang berkhidmat maka alam pun akan berkhidmat.

Pepatah bijak mengatakan, “Siapa yang banyak mengurus kepentingan orang lain maka kepentingannya akan diurus oleh Tuhan”. Artinya siapa yang selalu berkhidmat untuk kehidupan dan kehidupan orang lain maka dirinya akan dikhidmat alam jagat raya. Tuhan saja tidak tidur. Alam jagat raya pun sama punya mekanisme hidup yang memberi reaksi atas aksi setiap orang. Reaksi pada orang yang berkhidmat adalah keberkahan.

Khidmat itu satu kata yang sangat mulia. Berbeda terbalik dengan khianat. Khianat adalah satu kata yang bernilai terbalik dari khidmat. Khidmat mendatangkan berkah namun kalau khianat mendatangkan musibah. Musibah kehidupan dan musibah kemanusiaan. Sikap khidmat itu ibarat ketaatan Malaikat pada Tuhannya. Khianat itu ibarat ingkarnya Syeitan pada Tuhannya.

Dunia ini akan terus membaik tatkala orang-orang pengkhidmat jumlahnya terus bertambah. Sukses kehidupan publik pun karena sejumlah orang berani berkhidmat pada kehidupan atas dasar Lillah atau natural karena karakter. Berkhidmat itu taat berbuat baik jauh dari diam pasif atau pun merusak. Melainkan melayani dan berbuat baik pada kehidupan dimana kita berkerja.

B kelima adalah beradab. Beradab artinya berbudi dan berbahasa yang baik. Punya potensi sopan santun yang wow. Terlihat humble dan sederhana. Kematangan lahir bathin melahirkan keberadaban. Peradaban pun terlahir dari mentalitas kolektif bangsa yang sudah menemukan puncak terbaiknya. Sukses pun lahir dari keberadaban diri dari sebuah proses panjang seorang manusia memanusiakan dirinya.

Pikiran, perkataan, perbuatan, karya dan penampilan manusia beradab akan terlihat berbeda dengan manusia lainnya yang belum menemukan beberadabannya. Jiwa manusia yang beradab bisa terlahir karena setidaknya tersentuh pengalaman terkait ilmu pengetahuan, agama dan seni. Tahu yang terbaik. Mau melakukan yang terbaik dan menikmati indahya (seni) hidup lebih baik.

Sedangkan apa 1 H nya? Satu H nya adalah husnudzon. Arti dari husnudzon adalah berbaik sangka. Berbaik sangka itu sangat positif bagi kehidupan. Kecilkan potensi suudzon maksimalkan potensi husnudzon. Be positive thinking! Pepatah bijak mengatakan, “Perbanyak husnudzon, seringkan istighfar dan hilangkan suudzon” Ini tidaklah mudah mengingat kita manusia adalah makhluk multi rasa.

Pepatah bijak lain mengatakan, “Hati-hati dengan apa yang kita yakini karena akan menimpa diri”. Bahkan bukankah dalam ajaran agama dikatakan, “Tuhan pun tergantung apa yang kita prasangkakan”. Apa yang diyakini akan menimpa diri. Biarkanlah diri kita ini “tertimpa” keberkahan. Bukan kesialan dan musibah.Tanamkan dalam alam sadar dan bawah sadar kita bahwa hidup kita akan terus lebih baik.

Yakini seyakin-yakinnya bahwa Tuhan melahirkan kita ke muka bumi ini bukan untuk menyiksa dan membuat kita gagal dan menderita. Tuhan punya rencana ajaib tentang diri kita. Setiap kita adalah unic man. Maka yakinilah bahwa kita sedang didesign Ilahi agar hidup berkah, bermanfaat dan sukses besar. Sukses dan berkah itu adalah hak kita. Tinggal mental tasyakur dan kedekatan kita dengan Ilahi menjadi penentunya.

Hidup itu bukan hanya masalah kerja keras. Melainkan kerja lembut dari hati yang maha halus menangkap getaran-getaran nurullah dalam diri. Dikeheningan malam kita bisa mendayu-dayu, melow dan meleleh rasa karena tersentuh nurullah. Siangnya kita bisa menjadi pekerja keras dan tetap optimis.

Hidup yang sebentar bukan untuk disia-siakan melainkan dimanfatkan untuk kebahagiaan kita dan sesama. Sebelum menua, sakit dan kembali pada Ilahi. Mari kita bahagia bersama dan menikmati hidup. Kita lahir dari rahmat Allah. Hidup menikmati rahmat Allah dan kembali pada rahmat Allah. Siklus kerahmatan, nikmati saja!

(18)