Tinta Merah Dan Hitam Hiasi Bentangan Kain Putih
Pewarta : Maman K
Koran SINAR PAGI, Kuningan,-Ratusan masyarakat dari beberapa Desa Di wilayah Kecamayan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Minggu (30/06) kembali melakukan aksi unjuk rasa di waduk Cileueweung. Pasalnya massa yang berjalan dari Desa Kawungsari menelusuri jalan sepanjang hampir 3 km ini berakhir di pintu gerbang Waduk tersebut, mereka merasa kesal karena pemerintah hanya janji dan janji saja tanpa ada bukti pembayaran ganti rugi tanah mereka yang akan ditenggelamkan oleh waduk.
Aksi ini kali menyusul aksi Penutupan pengerjaan sebelumnya pada tanggal 20 Mei 2019 lalu, tak kurang dari 200 san massa, bersama aparatur pemerintahan Desa Kawungsari melakukan aksi tanda tangan masal dengan tinta warna merah sementara warga dengan tinta warna hitam.
Tandatangan tersebut sebagai bukti kesepakatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat 3 desa, antara lain Desa Kawungsari, Randusari dan Desa Tanjungkerta, mereka menuntut kepada pemerintah agar secepatnya merealisaikan janjinya kepada para pemilik tanah dan rumah yang belum dibayar.
Untuk Desa tanjungkerta hingga saat ini belum ada yang di bayar, juga desa Cihanjaro Kecamatan Karangkancana tanah seluas 7 hektare di 2 RT Dusun Wana Asih 72 bidang, yang sudah dibayar hanya baru 13 bidang saja, jelas Kades Kawungsari Kasto, yang di benarkan Asep Markus dan Camat Cibeureum.
Aksi massa dengan Penandatanganan bersama diatas bentangan kain putih sepanjang tak kurang dari 20 meter itu “sebagai bentuk penguat tuntutan, yang di selenggarakan oleh Forum masyarakat peduli dampak pembangunan Waduk Cileuewung Kuningan, karena hingga saat ini tidak ada keputusan pasti pembayarannya,” tegas Asep Kusnara yang akrab di panggil Markus kepada Sinar Pagi dan awak media lainnya.
Aksi massa dari berbagai elemen masyarakat lainnya ini di ikuti sedikitnya 200 orang lebih menulusuri alur Waduk yang masih dalam kondisi kering karena pembangunan yang sudah mencapai 90 persen itu dipaksa harus bethenti oleh ribuan massa waktu itu, tandas Ketua Forum peduli dampak Waduk Cileueweung Asep Markus.
“Pokoknya saya minta kepada pihak pelaksana pembangunan proyek Waduk ini, jangan coba coba mengeluarkan mekanik atau alat alat yang masih ada di dalam lingkungan Waduk ini, atas nama siapapun, pemerintah sekalipun, tidak boleh mengeluarkan apapun, kami tidak akan mengijinkan keluar satu barangpun tegas Runedi
Terkait Kunjungan presiden Jokowi pada waktu itu, sama sekali tidak ada manfaatnya
untuk masyarakat Desa Kawungsari, waktu masyarakat dialog dengan persiden di tengah areal Waduk, itu bukan warga desa Kawungsari tetapi warga Desa Tanjung kerta dan desa Randusari, sementara warga kawung sari termasuk aparat pemerintahan desanyapun tidak diperbolehkan masuk untuk turut berdialog dengan presiden.

Jadi waktu pertemuan masyarakat dengan presiden, itu merupakan setingan dari lembaga pemerintah dan dinas terkait, sehingga presiden percaya, padahal sesungguhnya rakyat Jokowi menderita. Lucunya ketika jilid kedua ini kepala negara ingin kembali memangku kekuasaannya rakyat di Kecamatan Cibeureum pada saat pencoblosan pilpres memilih jokowi. Memilih jokowi karena di dasari adanya isu yang sempat menjadi teror, dengan kata “kalau tidak memilih Jokowi proses ganti rugi dikhawatirkan terbengkalai,” kata isu yang tidak jelas sumbernya itu, “kata Markus.




