Sebotol Air Segar Di Gurun Pasir

  • Whatsapp
banner 768x98

OOleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Kemarau setahun dihapuskan hujan sehari.” Pribahasa populer ini artinya kebaikan yang banyak bisa terhapus oleh kejahatan yang sedikit. Atau kebaikan yang panjang dihapus dengan kejelekan yang pendek. Ungkapan ini pun menyimpan pesan kewaspadaan agar kita tidak sembarangan berperilaku.

Bisa jadi perbuatan baik kita. Nama baik kita yang sudah bertahun-tahun dirintis bisa lenyap sehari karena satu kesalahan yang dianggap fatal. Terutama perbuatan kriminal, korupsi dan perbuatan melanggar hukum lainnya. Ungkapan ini pernah Saya terima dari seorang guru honorer. Gara-gara Saya mendukung satu pasangan Capres dan terlontar kata yang salah terkait keberadaan guru honorer.

Saya salah membuat diksi terkait guru honorer. Walau pun faktanya benar. Ini masalah diksi dan terkait masalah dukungan politik. Guru honorer di Kota Sukabumi baik-baik dan tidak ada yang ditangkap seperti di daerah lain karena menebar ancaman dan kebencian yang sangat. Sejumlah guru honorer di Kota Sukabumi mendukung satu pasangan Capres yang memang sudah berjanji mau memperbaiki nasib guru honorer.

Wilayah Jawa Barat adalah kantong pendukung satu pasangan Capres sejak tahun 2014. Ini sah-sah saja. Termasuk guru PNS dan guru honorer mayoritas adalah pendukung satu pasangan Capres yang menjanjikan guru honorer menjadi PNS dan menjanjikan gaji Rp.20 juta bagi PNS. Janji kenaikan gaji dan perbaikan status dari satu pasangan Capres sangat menggoda. Wajar dan nalar.

Nah yang menarik adalah sejumlah kritik pedas ditujukan pada Saya sebagai Ketua PGRI yang dianggap menjilat, opset, lolos rem terkait politik. Sejumlah orang berkomentar pedas, keras dan sangat lada, seuhah kata orang Sunda namanya. Bahkan ada yang mengatakn Saya akan stroke pasca 17 April. Guru ASN, birokrat Disdik, guru honorer dan sejumlah orang tak dikenal mengkritik Saya. Bahkan beberapa sudah melaporkan ke KASN. Sekali lagi wajar dan nalar. Saya memang tidak benar.

Saya ASN wajar dikritisi karena keberpihakan politik. Bukankah Ustadz Abdul Somad pun melakukan hal yang sama dengan Saya. UAS lebih parah. Ia terang-terangan mendukung satu pasangan Capres. Bahkan ditayangkan di televisi. Sekali lagi UAS lebih parah dari Saya bila dilihat dari kacamata ASN. Aa Gym dan Ustadz Adi Hidayat bukan PNS tidak masalah. Saya dan UAS adalah ASN, terlihat bermasalah.

Sejumlah kritikan dan hujatan pada Saya karena selalu terlihat apresiasi lebih condong pada satu pasangan Capres. Ini memang benar dan sengaja Saya lakukan. Saya lakukan narasi apresiasi untuk mengimbangi narasi hujat terhadap pasangan yang menurut Saya lebih baik. Faktanya, masih Presiden Saya. Fotonya bergantung di setiap ruang kelas. Walau pun ada satu dua tulisan yang Saya buat memberi narasi pada satu pasangan Capres lainnya. Namun sangat sedikit.

Suruhan mundur dari Ketua PGRI. Suruhan membuka baju PGRI. Suruhan menghentikan tulisan terkait dinamika politik. Suruhan membaca aturan pemilu dan sejumlah suruhan lainnya cukup memberikan tekanan. Bahkan sejumlah pelecehan pribadi pun dialamatkan pada Saya. Makanya kadang Saya tidak balas komen di FB. Banyak komen nampak keras dan kasar tetapi pada dasarnya mereka semua berbuat demikian karena beberapa hal.

Pertama karena kecewa Saya sebagai Ketua PGRI terlalu lebay dan terlalu depan terlihat mendukung satu pasangan Capres yang berbeda dengan mereka. Kedua narasi yang saya buat bisa merugikan pasangan Capres yang mereka kagumi dan puja puji. Ketiga idealnya Saya mendukung para guru honorer memberikan dukungan pada satu pasangan Capres yang menjajinkan PNS dan gaji besar. Setidaknya itu alasannya.

Kalau Saya ingin pujian dan populer gampang. Ikuti saja arus politik Jawa Barat. Arus politik Jawa Barat adalah ke pasangan Capres tertentu. Pasangan Capres yang sangat serius siap membela guru honorer dan Ia bicarakan dalam debatnya. Sebagai pejuang organisasi Saya berhadapan dengan buah simalakama. Mendukung pasangan A dihujat, mendukung pasangan B pasti kalah. Serba salah.

Hal yang membuat Saya bertahan dalam hujatan dari para guru honorer adalah karena Saya memaklumi. Mereka tidak salah, Saya yang salah. Tidak ada anak yang salah. Semua kesalahan itu ada pada orangtua. Walau pun Saya belum terlalu tua tetapi dalam organisasi guru Saya adalah orangtua. Mereka tidak salah dan Saya yakin apa yang Saya lakukan adalah modus untuk mereka juga.

Mengapa modus? Karena suatu saat Saya akan memperjuangkan nasib guru honorer lebih leluasa karena jejak digital Saya adalah apresiatif dan tidak menghujat pemerintah. Kalau Saya penghujat pemerintah dan pendukung Capres yang kalah. Saya akan lelah tak punya modal mental. Perjuangan nasib guru masih jauh. Guru PNS dan honorer masih banyak yang harus diperjuangkan.

Sebenarnya Saya sudah melakukan “Bom Bunuh Diri Politik.” Andaikan pasangan yang Saya dukung kalah. Apa yang terjadi? Saya akan terus dihujat. Saya akan terus dianggap pengkhianat perjuangan guru. Saya akan dianggap bodoh. Saya akan dianggap “Hujan setahun habis karena kemarau sehari”, Maaf salah, “Kemarau dua tahun, habis karena hujan satu jam”. Saya berkorban bukan untuk pribadi.

Kalau Saya ingin aman untuk pribadi cukup diam dan duduk manis, pujian akan mengalir. Jabar dan Kota Sukabumi adalah gudang Capres tertentu. Apalagi bila Saya mengacungkan jari pada mereka sebagaiman mereka mengacungkan jarinya. Catat!!! Saya tidak pernah mengacungkan kode jari saat pra Pilpres. Saya hanya “mengacungkan” narasi melalui opini apresiasi. Alhamdulilah Pilpres telah usai. Mari rekonsiliatif. Maafkan Saya dan Saya pun memafkan anda.

Sebagai catatan akhir. Sebuah catatan indah bagi Saya. Bagai sebotol aqua di padang pasir Arabia. Saat cacian, kritik dan nyinyiran ditujukan pada Saya. Sungguh indah Saya mendapatkan pujian dari seseorang. Seseorang ini sangat spesial. Seribu orang mencaci Saya. Cukup pujian dari satu orang ini maka cacian itu hilang sudah. Mengapa seseorang ini begitu bermakna dan sangat berarti. Jawabannya karena seseorang itu adalah anak didik. Anak didik adalah muara dedikasi para guru. Anak didik adalah sisi lain kehormatan seorang guru.

Saat rekan sejawat mencaci karena ulah politik yang Saya lakukan dan dianggap salah maka anak didik hadir memberi dukungan. Subahanllah. Bagi guru yang paling mahal itu adalah apa kata anak didik. Walu pun Cuma beberapa orang sungguh bermakna. Bagaikan satu botol aqua saat kehausan di padang Pariaman, maksud Saya di padang pasir Jajirah Arabika. Terimakasih anak didikku yang telah memberi apresiasi. Terimaksih sahabat guru yang sudah memberi kritik dan nyinyiran. Karena keduanya adalah sama jenis perhatian dalam kemasan berbeda.

Sebagai bentuk rasa syukur atas apresiasi anak didik. Saya tulisan pesan aslinya sebagai berikut; “Iya pak makasih pak saya dri kemaren bner2 kesel pak knp di setiap tulisan yg bapak buat selalu aja nyempil orang orang yg nyinyir apalagi terkadang commentnya terlalu keterlaluan pak, ampe nyuruh bapak lepas jabatan ketua pgri, bner2 kesel bgd sama bgt sifatnya sama junjungannya pak, emosian,selalu pesimis,dan negatif, kalo pak DNK wajar pilh pakde karena orangnya selalu positif,, hehehehe,, sehat2 trus y pak biarin semakin banyak dihujat ngurangin dosa y pak,, semangat pak DNK ,, saya alumni smansa 2008 pak dan saya salah satu penikmat dan fans semua tulisan yg bapak buat,trus berkarya pak,, bangga pernah jadi murid bapak..

Tulisan selanjutnya, “Alhamdulillah kalo apresiasi saya bisa menambah semangat bapak…😁 Justru bapak salah satu guru favorit saya pak..hehehe. Setiap buka fb pasti saya cek postingan bapak..hehehehe”.

Demikian apresiasi anak didik yang telah memberi “minuman” segar bagi motivasiku sebagai guru. Saya doakan semoga anak didikku hidupnya lebih berkah dan sukses jauh melintasi guru-gurunya. Saya doakan para guru honorer dan rekan ASN tetap semangat dan berkhidmat bagi pendidikan, Wassalam.

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90