Menyemai Damai di Kampung Nusantara Pangandaran

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta : Herry

Koran SINAR PAGI, Pangandaran,- Yayasan Darma Bakti Karya menggelar festival dan dialog publik dengan tema Menyemai Damai di Kampung Nusantara, Pangandaran.

Program ini terselenggara bekerjasama dengan Droupadi Kampung Nusantara yang berlokasi di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.

Ketua Panitia Kegiatan Ai Nurhidayat mengatakan, tujuan festival dan dialog publik ini untuk melibatkan para pemangku kebijakan di tingkat lokal kabupaten serta memberikan akses dan meningkatkan kesadaran individu.

“Kelompok masyarakat yang selama ini minim informasi dan pengetahuan mengenai nilai-nilai perdamaian, toleransi dan keberagaman diedukasi disini.”

“Kegiatan ini juga sebagai upaya untuk mencegah kekerasan berbasis ekstremisme, radikalisme serta intoleransi,” ujarnya kepada ruber.

Ai menuturkan, kegiatan ini salah satu tindak lanjut dari Workshop Pembentukan Task Force Jawa Barat yang dilakukan sebelumnya di Hotel Grand Sovia Bandung pada pertengahan Juli lalu.

Sementara, Aktivis sosial Ni Loh Madewanti menyatakan, salah satu tujuan pembentukan Task Force adalah mensosialisasikan rekomendasi penting dari penelitian mengenai potensi meningkatnya kekerasan berbasis ekstremisme.

“Pada tahun 2017 telah dilakukan oleh IRI (The International Republican Institute) di dua lokus berbeda di Indonesia.”

“Yaitu di Provinsi Jawa Barat yang berkerja sama dengan lembaga CSIS dan di daerah Solo Raya yang bekerjasama dengan lembaga CRCS UGM,” ucapnya.

Madewanti menuturkan, upaya untuk menyemai damai dilakukan melalui upaya pemantauan dan meminimalisasi ujaran kebencian (Hate Speech) serta menghapus Kampanye Hitam (Black Campaign) di masyarakat.

“Baik yang menyebar secara langsung, maupun melalui media massa cetak dan eletronik yang berkembang melalui sosial media,” tuturnya.

Termasuk, kata Madewanti, perlombaan film singkat semi dokumenter tentang isu perdamaian, toleransi dan keberagaman.

Madewanti menyebutkan, pihaknya memilih Pangandaran sebagai penerapan berkesinambungan soal toleransi di Jawa Barat bahkan Indonesia. Alasannya, Pangandaran ini, sangat berpotensi menjadi contoh.

“Sebab, niat baik para aktivis dan masyarakat patut diapresiasi dan diterapkan,” sebutnya.

Festival dan dialog publik dihadiri sekitar 150 orang peserta dengan pembicara utama Ketua Forum Pembauran Kebangsaann Usep Ependi.

Acara diakhiri dengan penilaian mading oleh peserta, pemutaran film karya pemuda Pangandaran, pertunjukkan teater dan berbagai permainan khas perayaan kemerdekaan.

Pos terkait

banner 468x60