Dirut Rumah Sakit Kebon Jati Bantah Tolak Pasien BPJS

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta : liputan khusus

Koran SINAR PAGI, Bandung,- Direktur Rumah Sakit Kebon Jati Bandung, Junandi Surjautama,dr.SH.MM dengan tegas menjelaskan, kejadian terkait video yang beredar penolakan pihak rumah sakit kebon jati terhadap pasien BPJS berinisial (Ddn) warga melong kota Cimahi, Kamis (12/07) lalu.

Dalam video yang berdurasi (04:12) menit tersebut, dengan jelas seolah menyalahkan pihak rumah sakit kebon jati yang menolak menerima pasien BPJS dengan alasan kamar penuh, padahal masih tersedia ruangan apabila mengunakan pasien umum, hingga akhirnya terjadi perselisihan dengan keluarga pasien.

Junandi, mengatakan sejauh ini pihaknya telah melakukan pelayanan dan penangganan pasien dengan S.O.P yang benar, tidak pernah membedakan pasien, bahkan sesuai dengan rujukan.

” Ini sebenarnya hanya salah paham, pasien telah kami tangani sesuai dengan prosedur, pasien sudah menjalani perawatan sebelum mendapatkan kamar, karena dalam surat rujukan harus di rawat di ruang ICCU, sedang disini tidak ada ruangan itu, apalagi menurut diagnosa pasien mengalami penyakit jantung, kita harus lebih berhati – hati,” kata junandi.

Direktur RS.Kebon Jati, Junandi saat jumpa pers (sabtu,21/7) kemarin.

Masih kata dia, seharusnya pihak rumah sakit yang memberikan rujukan bisa lebih selektif dan berkoordinasi terkait rumah sakit, jangan asal memberikan rujukan.

” Kita juga menyayangkan, sebelum memberikan rujukan seharusnya pihak rumah sakit yang menangani pasien tersebut konfirmasi dulu, kemana harus di berikan rujukan ?.. jangan pasien menjadi korban sementara pihak rumah sakit terbatas pada fasilitas, ini pembelajaran bersama,” tuturnya.

Lebih lanjut, Direktur Rs Kebon jati Junandi menegaskan, tidak benar pasien (Ddn) tidak diterima melalui BPJS karena sebagian pasien disini merupakan pasien anggota BPJS.

” Kenapa terhambat dilayani pasien (Ddn) saat itu, karena saat dicek keanggotaan peserta BPJS oleh petugas rumah sakit, ternyata kartu keanggotaanya sudah tidak aktif, jadi tidak benar kita menolak, semua dilayani karena itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami,” tegasnya.

Sementara itu, dr. Linda yang menangani pasien tersebut menjelaskan, pihaknya dalam menangani pasien sudah sesuai prosedur dan mekanisme.” Saat itu pasien datang jam 20:30 wib, langsung kita tangani, bahkan kita sudah pasang oksigen dan diagnosa pertama, karena terjadi perselisihan, pasien sendiri yang mencabut oksigen dan keluar (jam 22:30) malam, bukan kita yang memaksa, yang jelas kita sudah tangani pasien itu…” , ungkapnya di saksikan Humas Dinkes provinsi Jabar dan media Koran Sinar Pagi. (sabtu,21/7) kemarin.

Pos terkait

banner 468x60