KLB Difteri Di Kabupaten Sukabumi Telan Satu Korban

Pewarta : Avenk/Ida

Koran SINAR PAGI, Kabupaten Sukabumi,– Delapan warga Kabupaten Sukabumi dari berbagai kecamatan antara lain, Limbangan, Cisaat, Nagrak, Cibadak, Cikembar, Palabuhan Ratu dan Caringin terserang wabah penyakit Difteri, satu diantaranya yakni seorang remaja laki – laki berusia 14 tahun meninggal dunia, saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Yang menarik untuk menjadi bahan kajian dari kasus ini kata Suhendar Zulkarnaen, dari tim Survailans Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, salah satu penderita difteri adalah seorang wanita berusia 64 tahun, sementara menurut informasi yang diperoleh dari pihak keluarga, selain berusia lanjut, korban tidak pernah keluar rumah karena sudah cukup lama mengalami stroke.

“Ada berbagai kemungkinan penyebab korban mengidap difteri yakni, ada anggota keluarga lain yang terjangkit difteri atau mungkin sebelum sakit pernah berkunjung ke suatu daerah endemik difteri,” ujarnya.

Terkait KLB Difteri ini, ungkap Hendar, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi telah melakukan tindakan sesuai dengan standar penanganan yang ada yakni dengan pemberian ADS (Anti Difteri Serum) kepada penderita.

”Jika disuatu daerah ada salah satu warganya yang terjangkit difteri, maka kepada warga sekitar yang berusia antara 1 – 19 tahun harus diimunisasi ulang, sementara untuk warga yang berusia diatas itu diberi obat Propilaksis atau eritromisum baik tablet ataupun sirup,” terangnya.

Diungkapkan Suhendar, Difteri adalah penyakit menular yang menyerang tonsil, faring dan hidung, kadang menyerang pada selaput mukosa dan kulit.

Gambaran klinis difteri adalah demam tinggi hingga mencapai 38 derajat celcius, kemudian pseudomembrane berwarna putih keabu – abuan, sakit saat menelan, leher membengkak dan sesak nafas yang disertai stridor (ngorok).

Sementara penyebab timbulnya difteri adalah, Corynebackterium Diphteria dengan tiga type yaitu mitis, intermeduis dan grafis yang terdiri dari berbagai varian.

Masa inkubasi difteri antara 2 – 5 hari, sementara masa penularannya 2 hingga 4 minggu, sedangkan untuk masa penularan carriers selama 6 bulan,”Ini yang sangat berbahaya, karena penderita tidak tampak sedang sakit, sehingga penularan bisa terjadi kapan saja,” ungkapnya.

Penanganan penyakit yang sumber penularannya manusia ini dilakukan melalui langkah – langkah sebagai berikut,
1.Melakukan Investigasi yang bertujuan untuk menelusuri penyebaran kasus dan informasi apabila ada tindak lanjut,
2,Melakukan tata laksana kasus apabila ditemukan kasus baik susfect maupun probable melalui penyelidikan secara epidemologi,
3.Melakukan rujukan terhadap penderita ke rumah sakit terdekat,
4.Melaksanakan penyuluhan,
5.Membuka posko pelayanan kesehatan,
6.Memberikan pengobatan,
7.Mengambil specimen APT untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium, dan
8.Surveilans ketat.

(28)