PANGERAN INI, TOKOH HEBAT PEMBANGUN SUMEDANG

Pewarta : Jeky E Saepudin
Koran SINAR OAGI, Sumedang

Rd.Somanagara alias Pangeran Sugih, Bupati Sumedang 1836-1882
Rd.Somanagara alias Pangeran Sugih, Bupati Sumedang 1836-1882

Misteri siapa bupati nya yang paling getol membangun Sumedang kini mulai terkuak, pasalnya kegiatan “Haulan” yang akan digelar mulai 16 hingga 24 September ini menjadi titik terang pembuka tabir itu.

Dari beberapa sumber yang dihimpun Koran Sinar Pagi sosok itu menyudut ke Pangeran Sugih yang bernama asli Rd. Somanagara yang bergelar Pangeran Surya Kusumah Adinata yang menjadi Bupati Sumedang selama 46 tahun sejak 1836 hingga akhir hayat nya di tahun 1882.

Dijamanya Pangeran Sugih lebih konsen untuk membagun wilayah Sumedang terutama di bidang pembagunan jalan, pertanian, peternakan, pengairan dan sebagainya yang prioritas saat itu untuk kepentingan kesejahteraan rakyat Sumedang.

Dalam keterangan sejarah Sumedang disebutkan jika kecerdasan pangeran itu diwariskan dari kakeknya yang bernama Pangeran Surianagara III atau Kusumadinata IX yang dikenal dengan Pangeran Kornel.

Kata Sugih ( bhs. sunda ) atau artinya kaya dalam bahasa Indonesia, memang punya sejarah tersendiri dalam kehidupan pangeran itu, pasalnya selain merupakan pangeran terkaya dari segi harta di jamanya itu, ia juga mempunyai isteri hingga 31 wanita bahkan mempunyai anak berjumlah 90 orang.
Salah satu keturunan generasi ke – 5 Pangeran Sugih, Rd. Lily Djamhur Soemawilaga saat ditemui Koran Sinar Pagi, Selasa (12/09) mengatakan,”Memang Pangeran Sugih merupakan pangeran terkaya diantara yang lainya hingga hartanyapun berada di hampir antero Sumedang dan luar Sumedang. Saking kaya nya beliau pun hingga istrinya berjumlah 31 dengan jumlah permaisuri 3 dan sisanya disebut selir”, ujar nya.

Selanjutnya turunan Pangeran Sugih generasi ke – 5 itu megatakan,”untuk kepiawaian membangun Sumedang Pangeran Sugih layak mendapat acungan jempol dan para pemimpin Sumedang saat ini perlu mencontohnya, tetapi untuk jumlah istri jangan lah, itu kan pernikahan boleh dibilang pilitis untuk memperbanyak keturunan dalam upaya melanggengkan
dan memperkuat pemerintahan Sumedang dari kuatnya pengaruh penjajahan Belanda saat itu,” ujar nya lagi.

“Kalau sekarang di praktekan kan tidak cocok karena terkendala dengan aturan yang ada kini, dan juga kurang etis lah sebab pemimpin harus memberikan contoh yang terbaik kepada rakyat nya “, pungkas nya.

(334)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *