Terminal BL Limbangan Dinilai Tidak Representatif

Pewarta : Agus Lukman
Koran SINAR PAGI, Garut

Kepala Terminal BL Limbangan, Kabupaten Garut, Sutisna
Kepala Terminal BL Limbangan, Kabupaten Garut, AM Sutisna AS,SE

Akibat tidak representatifnya lokasi terminal BL Limbangan Kabupaten Garut, banyak kendaraan umum Angkutan Perkotaan dan Pedesaan memilih parkir dijalan raya sekitar terminal untuk menunggu maupun menurunkan penunpang, sehingga kemacetan di ruas jalan itupun tak bisa dihindarkan. Seperti yang terjadi di UPTD wilayah VII terminal BL Limbangan, kendaraan umum tidak bisa masuk semua akibat sempitnya lahan terminal.

Menurut Kepala terminal BL Limbangan, AM Sutisna AS,SE, kondisi tersebut terjadi sejak Pasar Limbangan dibangun, karena terjadi penyempitan lahan terminal maka kendaraan umum tidak bisa masuk ke lokasi dalam terminal,”Lahan terminal jadi sempit sejak dibangunnya pasar yang baru, sehingga kendaraan ada yang menurunkan dijalan raya, akibatnya sering terjadi kemacetan,” ucapnya pada Koran Sinar Pagi, Selasa (10/01) saat ditemui diruang kerjanya.

Ia menjelaskan, dengan sempitnya lahan terminal, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut akan membangun terminal di lokasi Puskesmas Limbangan yang berdampingan dengan terminal saat ini,”Bupati Garut H.Rudy Gunawan, berencana untuk membangun terminal baru yang lokasinya di Puskesmas Limbangan, sedangkan Puskesmas akan dipindahkan ke wilayah Cepu Desa Cigagade sebelah barat terminal,” papar Sutisna.

Dijelaskan, luas tanahvPuskesmas yang akan dipergunakan untuk membangun terminal sekitar 2.200 m3, dan itu cukup untuk menampung kendaran Angkutan Pedesaan (Angdes) dan Elp, tandasnya.

Kendati demikian ia mengaku tidak tahu persis kapan pembangunan terminal di lahan Puskesmas tersebut direalisasikan,”Saya belum tahu pasti kapan pelaksanaannya, tapi sudah mulai diukur oleh dinas terkait,” ucapnya.

“Terminal yang dipergunakan saat ini, harus menampung angkutan desa sebanyak tujuh jurusan dan kendaraan Elp dari luar daerah yang transit di terminal, namun karena lokasi terminal tak cukup untuk menampung, maka sebagian kendaraan diluar, sementara karcis restribusi harus ditarik untuk target pendapatan daerah,” Kami tidak menarik restribusi diluar karena dikawatirkan pungli, yang kini sedang tren diperbincangkan,” tandasnya.

Sutisna berharap, pembangunan dapat segera dilaksanakan, agar kendaraan umum dapat menaikturunkan penumpang didalam terminal, sehingga masyarakat merasa aman dan nyaman, yang lebih penting kemacetan dapat dihindarkan,pungkasnya.

(62)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *