PENGEMBANGAN SIKAP PROFESIONAL GURU UNTUK MENYONGSONG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Oleh : Imas Ida, M.M.Pd.


Kedudukan Guru

Dalam UU Guru dan Dosen (pasal 1 ayat 1) dinyatakan bahwa : “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.”

“Dari sudut pandang sistemik, guru adalah sebuah prototype teladan yang hidup. Maknanya, guru disamping mengajarkan ilmu, juga perlu memberikan teladan kepada peserta didiknya. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, peran guru harus mampu berfungsi sebagaimana orang tua.” (Ismail Yusanto, 2011, hlm.115).

Guru sebagai sosok pribadi yang selayaknya menjadi panutan atau yang kita kenal dengan istilah digugu dan ditiru “Guru dalam pandangan Islam lebih tepat dikatakan sebagai “Da’i”, pendakwah yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nilai-nilai Islami. Seorang guru berperan penting dalam melaksanakan misi amar ma’ruf nahi munkar.” (Halimah, 2012, hlm. 4)

Dari berbagai pengertian dan pendapat dengan demikian, jelaslah bahwa kedudukan guru sangat mulia dan terhormat. Guru merupakan sebuah predikat bagi mereka yang sedang berjuang membenahi dunia pendidikan dan karakter anak bangsa menjadi lebih baik dan mampu berkembang sesuai hakikat dirinya.

Tantangan Globalisasi

“The socio-political processes at work in the career development field contribute signicantly to well-being of nation, and the world”, demikian ungkapan dalam awal tulisan John Mc Carty (2008) yang berjudul : “Interrelatedness of education, economy, and employment” dalam Journal Career Developments Vol. 25 No. 1 Tahun 2008. Ia mengatakan bahwa di era globalisasi sekarang ini 3E (education, employment, and economy) memiliki keterkaitan yang kompleks dalam menentukan kualitas kesejahteraan suatu bangsa. Selanjutnya Craig Barret, pimpinan “Intel” sebuah perusahaan pembuatan elektronik chip terbesar di dunia, mengatakan bahwa : “nation are as strong as their education system. The rest of the emerging world recognizes this is as the key to staying competitive. Every country I visit recognizes the important of education and strives to raise their level of education capability. If you look at Eastern Europe, China, Russia, India, Latin America, there is an increasing focus on education. Goverment leaders see that the education on their young people.” (Mc Carty, 2008). Pernyataan itu menyiratkan satu pesan bahwa kekuatan suatu bangsa sangat tergantung pada kekuatan sistem pendidikannya, sebagaimana telah dibuktikan di beberapa negara di kawasan Eropa Timur, Rusia, Cina, India, dan Amerika Latin yang mengalami kemajuan pesat karena pemerintahnya sangat peduli dalam mempersiapkan generasi muda melalui pendidikan. Semua telah membuktikan bahwa pendidikan merupakan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia dalam bentuk menghasilkan tenaga kerja yang produktif dan terampil yang ada pada gilirannya akan meningkatkan kualitas kesejahteraan individu serta bangsa secara keselurahan. Hal itu dibuktikan melalui berbagai penelitian di berbagai belahan dunia.
Sehubungan hal itu, system pendidikan yang kuat akan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang pada gilirannya akan menjadi tenaga kerja yang terampil dan produktif. Secara langsung ataupun tidak langsung hal itu akan menunjang pertumbuhan ekonorni individu, masyarakat dan bangsa serta Negara secara kelseruhan.

John Mc Carty (2008) menyatakan bahwa pengembangan karir dapat berkontribusi terhadap kualitas tenaga kerja dan pertumbuhan ckonomi, khususnya dalam hal : (1) Efesiensi penggunaan dalam pendidikan dan latihan dengan meningkatkan pencapaian program, (2) Efesiensi pasaran kerja dengan peningkatan penematan dan ritensi kerja dan mengurangi penantian kerja pengangguran; (3) belajar sepanjang hayat, pengembangan tenaga kerja, kesinambungan kerja dengan meningkatkan partisipasi dalam pendidikan dan latihan; (4) Pencapaian tujuan social, dengan peningkatan kegiatan dalam semua elemen penduduk dalam pendidikan, pelatihan, dan kerja; (5) Keadilan social; dengan membantu individu dan kelompok dalam mengatasi kedalam jender, etnik, usia, kecacaran, kolas social dun kelompok dalam mengatasi kendaraan dalam jender, etnik, usia, kecacatan, kelas social, kelembagaan untuk belajar dan bekerja.

Masyarakat Ekonomi Asean : tantangan dan Peluang
Association of Shoutest AsianNations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 berdasarkan Deklarasi Bangkok olch Indonesia, Malaysia, Pihpina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bcnujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan stabilitas di ungkat regionalnya, serta rneningkatkan kesempatan urrtuk membahas perbedaan di antara anggotanya dengan damai.

Sebagai suatu kesepakatan dan komitmen, maka para anggota Asean siap atau tidak siap harus rnelaksanakan seluruh program MEA sesuai dengan kondisi masing­ masng. Kehadiran MEA harus dipandang sebagai suatu tantangan namun di sisi lain juga sebagai ‘peluang untuk kemajuan masing­masing anggota. Sebagai tantangan maka sernuanya hams mcmpcrsiapkan diri dan dengan segala konsekuensinya, dan sebagai peluang MEA harus dipandang sebagai kesempatan untuk memajukan masing­masing anggota,

Bagi Indonesia, secara cultural bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, Dalam mengahadapi tantangan dan peluang itu kata kunci utama adalah scbuah kompetisi dan kompetensi yang berbasiskan pada potensi yang di miliki masing­masing Negara, Kompetensi merupakan suatu arena persaingan dalam kelima bidang tersebut diatas yang harus diwujudkan secara positif. Demi memperoleh sebuah kemenangan itu masing­masing harus memiliki keungulan kompentensi baik potensi maupun prestasi yang dapat dibanggakan.

Bagaimana dengan posisi Indonesia dalarn kompetensi itu ? Jika kita melihat dari kornpetensi dan potensi yang kita mikiki, scharusnya Indonesia akan unggul dalam arena MEA itu, Harns disadari benar sesungguhnya Indonesia memiliki keungggulan potensial dalam berbagai bidang yaitu geografis, demografis, sumber daya alarn, sumber daya manusia, social, budaya, dsb. Secara geografis Indonesia memiliki kawasan yang paling luas jika dibandingkan dengan Negara peserta kompetisi lainnya, dan secara demografis dihuni oleh 251 juta penduduk, dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Secara social budaya Indonesia terdirit atas 300 etnis dengan keragaman budaya dan adat istiadat, agama, dan 117 bahasa local. Dari segi srruktur pemerintahan, Indonesia terdiri atas 34 provinsi, 403 kabupaten, 98 kota, 6.879 kecamatan, dan 81 .248 desa/kelurahan. Bagaimana dengan potensi sumber daya manusia? Dari segi kuantitas terlihat jelas Indonesia unggul sesuai dengan jumlah penduduknya, namun dari segi kualitas masih harus dipertanyakan, karena dalam kompetensi ini kualitaslah yang mcnjadi andalan bukan hanya sekedar kuantitas.

Sikap Profesional Guru dalam Menyongsong MEA

Dengan melihat potensi yang sedemikian besarnya, Indonesia mestinya mampu unggul dalam kompetensi diera MEA sepanjang mampu mendayagunakan serta mengoptimalkan semua potensi itu dengan tepat. Inilah yang menjadi tantangan agar MEA menjadi peluang besar demi kemajuan dan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia. Kata kuncinya ialah pendidikan dengan gurulah sebagai sumber daya yang paling central. Posisi guru dalam menyongsong MEA adalah terletak dalam kemampuan kompetitif guru itu sendiri serta bagaimana upaya tanggung jawab dan peran dalam pendidikan untuk memperisiapkan kualitas anak-anak bangsa Indonesia agar memiliki kualitas kompetitif dengan bangsa-bangsa di kawasan Asean. Dengan kata lain, guru menjadi andalan dan ujung tombak dalam mempersiapkan manusia Indonesia yang unggul dan mampu berkontnbusi dalam tantangan kehidupan di era MEA. Bahkan lebih dari itu guru harus mampu mempersiapkan manusia Indonesia menghadapi tahun emas 2045 yakni dimana seratus tahun Indonesia merdeka dalam era globalisasi ini.
Dalam era MEA guru berpeluang untuk mengajar di Negara-negara anggota asean, dan guru-guru dari Negara anggota Asean berkesempatan untuk mengajar di Indonesia. Dengan melihat semua potensi tersebut seharusnya guru Indonesia mampu tampil percaya diri dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara ini, baik di dalam maupun di Negara-negara anggota Asean lainnya.

Guru Indonesia harus siap mengajar di Negara-negara anggota Asean di luar Indonesia, dan guru Indonesia harus siap berkompetisi dengan guru-guru yang akan datang dari Negara-negara anggota Asean untuk mengajar di Indonesia, Problemanya terletak dalam diri guru itu sendiri yaitu kemauan dan semangat juang untuk menjadi guru professional yang memiliki daya saing tinggi, karakter hebat dan kuat khususnya untuk bersaing di kawasan Asean.
Kehadiran MEA berlangsung di era globalisasi yang ditandai dengan kepesatan dan kemajuan IPTEK khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga peran dan tugas guru memiliki banyak perbedaan jika dibandingkan dengan guru di masa lampau. Guru saat ini dituntul rnenjadi guru yang professional dan guru dunia digital dengan karakterisitik scbagai berikut :
Guru masa kini bekerja dalam dunia yang berlangsung dengan cepat, perubahanpun begitu mengalir deras dalam era pengaruh media. Guru harus menjadi bagian dari perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus menjadi mitra teknologi dan menerapkannya dalam dunia pembelajaran baik di kelas maupun di kehidupan bermasyarakat.

Guru masa kini harus bekerja. bersama untuk berkreasi, berinovasi, meterpadukan, mengkordinasikan, memfasilitasi, berpartisipasi, mengadvokasi, dan berintegritas.
Guru masa kini memiliki sejumlah keterbatasan, tonomi berbagai kesempatan, dan sumber-sumber daya, namun mereka memiiki berbagai kemungkinan yang tak terbatas.

Guru masa kini mampu berkreasi menciptakan, menemukan pendekatan – pendekatan baru, penemuan baru, dan strategi efektif terbaru.

Guru masa kini, senantiasa memiliki keinginan kuat untuk terus belajar, memperluas berbagai kemungkinan, memperbanyak relasi, mengaktifkan siswa, membantu siswa dalam berpikir kreatif untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.
Guru masakini, menjadi bagian dari perubahan dan mendefinisi kembali pendidikan.

Guru masa kini, kompeten dan cakap dalam menggunakan peralatan teknologi, menyadari kepedulian global, dan memacu untuk siswa mampu menjawab tantangan dan menemukan solusi cerdas, mengakomodiasi keinginan dan berani mengubah dunia.
Selanjutnya sebagai guru yang hidup dalam abad 21, bertugas untuk membimbing siswa dalam :
Mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis.
Menerapkan pengetahuan pada situasi baru
Menganalisis informasi.
Membangun gagasan baru
Pandai berkomunikasi dan berkolaborasi.
Mempunyai kekampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara cermat
Menerapkan keterampilan dalam dunia nyata.
Mampu menggunakan alat digital untuk mengolah dan menyimpan informasi.

Menurut Surya (2015) Untuk menjadi guru di abad 21, guru harus :

Mengikuti berbagai perkembangan yang terjadi diluar ruangan kelas dan memperhatikan kondisi siswa
Belajar, berfikir, dan memimpin serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk berfikir, membangun jawaban, mengembangkan rasa keingintahuan, memperluas kemungkinan.
Menjadi creator, innovator, pembangkit gagasan, petunjuk jalan, motivator dan fasitilatator
Memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi
Mengembangkan pola-pola pembelajaran abad 21 yang berpusat pada siswa, menantang, investasi, menilai secara kritis.

(291)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *