Bank Sampah : Dari Sampah Rumah Tangga, Menghasilkan Pahlawan Lingkungan

  • Whatsapp
banner 768x98

Oleh : Sugama Zaini

Berawal dari keprihatinan segelintir masyarakat pada sampah-sampah yang berserakan mengotori lingkungan sekitar kampungnya, di Kampung Kararangge, Rt. 01/Rw. 01. Desa Gunungguruh, Kecamatan Gunungguruh, Kab.Sukabumi. Akibatnya sampah menumpuk, lingkunganpun menjadi kotor dan kumuh, serta menyebabkan pencemaran air.

Adalah seorang ketua RT yang bernama Muhammad Ajat dan beberapa warga lainnya yang memliki pemikiran untuk membersihkan kampung dan mengelola sampah-sampah tersebut menjadi produk yang bermanfaat dan dapat menambah penghasilan warganya.

Selanjutnya terbentuklah komunitas peduli lingkungan dengan jumlah sekitar sepuluh orang. Tujuan mereka sangatlah mulia, ingin mewujudkan Kampung Kararangge bebas sampah dan menjadi Kampung Wisata Organik. Untuk merealisasikan kieinginannya itu mereka kemudian mendirikan Bank Sampah, dengan kegiatan awalnya memulai mungut sampah-sampah dari rumah tangga warga Kampung Kararangge. Sampah-sampah tersebut dipilah-pilah menjadi sampah Organik, sampah plastic dan sampah logam/besi/kaleng.

Produk Pupuk Organik

Sampah-sampah dari jenis logam/kaleng dan plastik kemasan seperti botol/gelas aqua setelah dibersihkan dapat dijual langsung kepada pengepul rongsokan. Untuk sampah organik buangan dari dapur rumah tangga diolah menjadi Pupuk Organik (Kompos).

Setelah hampir setahun berjalan, kegiatan komunitas Bank sampah mulai terasa pada masyarakat Kampung Kararangge. Lingkungan kampung mulai terlihat bersih, terbebas dari sampah-sampah yang berserakan, selokan yang biasanya mampat tertutup sampah mulai rapi, aliran air pun menjadi lancar.

Pada setiap harinya terlihat beberapa orang anggota masyarakat kampung tersebut datang ke sekretariat Bank sampah untuk menyetor sampah-sampah rumah tangga. Untuk jenis sampah plastik dan bahan-bahan dari logam dibeli oleh Bank sampah. Sebagian uang tersebut diterima secara langsung oleh masyarakat yang menyetor sampah dan sebagiannya lagi ditabung di Kas Bank sampah.

Produk Magot kering untuk pakan ikan dan unggas

Dari hasil tabungan tersebut Komunitas Bank Sampah telah mampu memiliki lahan untuk bangunan Sekretariat yang layak dan sekaligus untuk tempat pemilahan dan pengolahan sampah. Sehingga mampu mengolah sampah plastik menjadi Paving Block, serta mengolah sampah organiknya menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan Pestisida Nabati. Sebagian sampah organik juga dimanfatkan menjadi pakan Magot, yaitu sejenis larva lalat yang berukuran besar untuk bahan makanan ikan dan unggas peliharaan.

Dalam keterangannya Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas membina Desa Gunungguruh, Dedi Rosadi, menjelaskan bahwa selama ini kegiatan Bank Sampah tersebut berjalan dengan swadaya masyarakat murni, tanpa ada bantuan dana dari pihak manapun.

Sedangkan kiprah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gunungguruh sebagai Pembina kawasan, memberikann arahan dalam hal pengembangan kegiatan pengolahan sampah tersebut serta mempromosikan produk-produk yang dihasilkan oleh Bank sampah kepada masyarakat sekitar, kelompok tani dan pejabat daerah.

Selama ini BPP sendiri telah melakukan beberapa kali demplot terkait uji coba produk hasil Bank sampah yang berupa Pupuk Organik Cair. Demplot uji coba tersebut menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, dimana tanaman padi yang menggunakan pupuk organik cair ini tanpa pemberian pupuk kimia, menghasilkan panen sekitar 60 % dari hasil panen yang biasa memakai pupuk kimia, dengan frekuensi pemupukan sebanyak tiga kali per periode tanam.

Demplot pertanaman padi yang mengunakan pupuk organic cair yang dikombinasikan dengan penggunaan pupuk kimia, dimana frekuensi pengunaan pupuk organik cair sebanyak dua kali dan penggunaan pupuk kimia sebanyak satu kali, mendapatkan hasil panennya sekitar 90 %.

Hal ini menunjukkan hasil yang cukup baik dan prospektif, mengingat kerja pupuk organik memerlukan waktu yang cukup lama, dalam memperbaiki struktur tanah, penambahan mikro organisme yang mengntungkan maupun untuk meningkatkan kandungan nutrisi dalam tanah.

Kegiatan lain yang telah dilakukan BPP dalam mempromosikan hasil-hasil produk Bank Sampah ini adalah dengan menggelar lokakarya, mengundang pejabat dari pusat maupun daerah juga masyarakat setempat yang dibarengi dengan kegiatan pameran serta presentasi.

Upaya-upaya pengembangan dan penyempurnaan pupuk organik tersebut perlu dilakukan secara intensif dan terukur, agar kandungan bahan aktif, atau yang biasa disebut biang, dalam pupuk organic tersebut benar-benar efektif dan konsisten.

Penggunaan pupuk organik dalam bidang pertanian sangat lah relevan dengan kondisi saat ini, dimana pupuk kimia yang biasa digunakan oleh masyarakat susah didapat dan harganya juga melambung tinggi. Sedangkan Keberadaan pupuk subsidi, kualitasnya dibawah pupuk non subsidi dan persediaannya juga terbatas.

Diharapkan Keberadaan pupuk organik ini menjadi solusi dalam usaha tani dimasa mendatang, mengingat harganya juga cukup murah, serta ramah lingkungan. Dilain fihak makanan hasil pertanian organik merupakan makanan yang sehat (healthy food).

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90