Jejak Perjuangan Pendidikan SD Hingga Doktoral Sang Kadisdik Muda Jawa Barat

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kota Bandung)-, Pendidikan sering disebut sebagai gerbang utama pembangunan bangsa. Selain itu juga kaum akademisi sepakat bahwa pendidikan merupakan investasi masa depan untuk mencapai cita-cita. Lalu seperti apakah proses pendidikan orang-orang yang dinilai sukses saat ini?… bagaimana mereka menjalaninya dan apa yang diraihnya ?…  

Koransinarpagijuara.com secara khusus menelusuri kisah perjalanan H. Dedi Supandi, S.STP., M.Si Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Menurut jejak digital https://id.wikipedia.org H. Dedi Supandi, S.STP., M.Si (lahir di Majalengka, Jawa Barat, 12 Juni 1976; umur 45 tahun) adalah birokrat di negara Indonesia yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sejak 12 Juni 2020 menggantikan Dewi Sartika. Beliau dilantik setelah proses penjaringan Kadisdik yang cukup panjang dan lama. Dedi terpilih atas penunjukan langsung dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Dari data yang ada, tercatat awal masuk ke lembaga pendidikan H. Dedi Supandi, S.STP., M.Si, berawal dari menjadi siswa hingga mahasiswa. Beliau menjalani proses pendidikannya di sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

  • SD Negeri Bumi Asih Majalengka (1983–1989)
  • SMP Negeri 1 Rajagaluh Majalengka (1989–1992)
  • SMA Negeri 1 Majalengka (1992–1995)
  • Sarjana S-1 Ilmu Pemerintahan STPDN (1995–1999)[4]
  • Magister S-2 Administarsi Pemerintahan Daerah STPDN (2004–2005)
  • Studi Program Doktoral S-3 di IPDN (2020–sekarang)

Saat ditemui koransinarpagijuara.com diwaktu luangnya, H. Dedi Supandi, S.STP., M.Si, bercerita tentang proses pendidikan yang ditempuhnya hingga kisah asmara dibangku sekolahnya. Saya ini memiliki orang tua, bapak seorang petani bibit yang kadang-kadang setiap bulan itu pasti jual bibit ke Sumatera atau kedaerah lainya. Saat itu beliau punya pabrik. Namun dalam perijinannya dipersulit oleh Camat setempat. Dan akhirnya bapak mengungkapkan “kamu cari sekolah yang kira-kira kamu bisa jadi Camat. Nanti anak bapak harus jadi Camat, agar tidak mempersulit & jangan menyakiti mereka para pengusaha. Dari ucapan do’a itu, saya sempat jadi Lurah dan Camat di Kota Bandung”, ungkapnya

Dedi menceritakan saya terlahir di Majalengka di sebuah Kampung Kecamatan Rajagaluh. Jadi kalau dari Daerah Joglo naik ke atas, di sana itu bagian dari Lembah kaki Gunung Ciremai. Dari rumah saya ke Jalan Raya itu itu kurang lebih 3 KM. Jadi kalau Saya berangkat sekolah jam 4.50 subuh harus sudah keluar berangkat dari rumah. Kalau telat saya pasti lari-lari menuju Jalan Raya agar sampai sekolah tidak telat. Pada saat itu sekolah masuk jam 7 pagi.

Setelah jalan 3 kilo itu kadang lari-lari pagi terus baru berhenti di Jalan Raya untuk menunggu naik angkot. Setelah naik angkot nyampe terminal jalan kaki lagi ke sekolah. Saya sekolah dulu di SMP sampai SMAN 1 Majalengka, katanya sih SMAN favorit. Nah kalau ada yang di hadapan suami dirumah, itu istri saya kekasih, kisah cintanya tumbuh saat di bangku sekolah.

Awal masuk pendidikan di perguruan tinggi, saya masuk jalur ikatan dinas. Ceritanya saat itu saya masuk di Unpad, pada saat saya lagi Penataran P4. Waktu itu setelah ospek, ada Bapak nyusul bahwa kamu diterima di STPDN dan saran dari orang tua untuk beralih ke sana. Awalnya saya nggak mau itu, karena udah betah di Unpad. Namun akhirnya kembali apa yang menjadi saran orang tua pilih saya jalani.

Saat itu kampus STPDN dikenal dengan sekolah tanpa biaya. Saya berpikir, karena Saya anak pertama. Dan  punya adik 2, kedua-duanya perempuan. Ya, udahlah saya pilih STPDN, biarkan nanti biaya dari orang tua bisa untuk menyekolahkan adik-adik saja.

Menurutnya, sekolah itu bukan suatu yang mudah dan bukan alasan, karena kita kesulitan berhenti tidak maju untuk melanjutkan pendidikan. Saya sarankan pada adik-adik yang sedang menempuh pendidikannya. Terus berupaya belajar hebat. Gembira saat belajar, kalau bicara belajar jadi tidak ada yang namanya terlambat untuk belajar. Karena belajar itu tidak ada yang terlambat, karena usia atau kurang biaya misalnya. Belajar itu kalau serius rutin akan bermanfaat untuk kita di masa depan.

Pos terkait

banner 468x60