Rihlah Ilmiah Syubbanul Uluum Bahas Tafsiran Karunia Alloh Di QS. Yunus 58

Pewarta: Dwi Arifin
Koran SINAR PAGI (Kabupaten Bandung)-, Menyambut kedatangan bulan Ramadhan, majelis Syubbanul Uluum menyelenggarakan Rihlah Ilmiah pada 2-3 April 2021 di lokasi Alam Curug Tilu Cipelah Rancabali dengan tema Ramadhan Terindah. Para peserta yang hadir dibekali ilmu tentang kemuliaan ramadhan hingga persiapan agenda ibadah terbaiknya.

Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag pembina majelis Syubbanul Uluum menyampaikan secara khusus tafsiran QS. Yunus 58, Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”

Banyak manusia yang mencari sensasi, hiburan, mencari kebahagian, melepas kesedihan, dan melampiaskan tekanan. Namun mereka menempuh jalan yang salah sehingga menambah masalah, padahal Alloh telah memberikan jalan untuk kebahagian hamba-Nya. Diantaranya dengan hari raya umat islam, sholat, berbuka shaum, tilawah, tadabur alam dan tidur.

Menurut Tafsir Ibnu Kasir, karunia yang dimaksud ialah hidayah dalam agama. Sedangkan menurut Imam Al Qurthubi dalam resumenya menjelaskan bahwa karunia yang dimaksud ialah apa-apa yang Alloh berikan, menumbuhkan hambanya semakin kenal dan cinta kepada Alloh dan Rosulnya.

Orang yang mendapatkan karunia dan rahmat Alloh, dapat kita lihat contohnya dari para sahabat Nabi. Mereka lebih mencintai Alloh dan rosulnya, dari pada harta, keluarganya bahkan dirinya sendirinya. Seperti Bilal Bin Robah, Syuaib Bin Sinan, Washy, Saad Bin Abi Waqqos. Mereka para sahabat, ada yang ditindih batu bahkan tertusuk 3 anak panah, namun karena manisnya iman. Mereka tidak mengeluh pada rosulnya, sebagai bukti Alloh dan Rosulnya lebih dicintai dari pada dirinya.

Ustadz Ruslan menyimpulkan Kita hadir disini dengan rela dan tidak terpaksa dalam rangka menyambut ramadhan merupakan hidayah dan karunia Alloh. Karena perkumpulan ini merupakan perkumpulan yang ada pengamalan Al qur’annya. Ingatlah pesan Imam As-syafi’i setiap majelis perkumpulan yang tidak ada nilai-nila qur’an didalamnya, maka itu merupakan hal sendagurau yang tidak bermanfaat. Maka sudah semestinya setiap gerak kita, harus melihat terlebih dahulu apakah ada karunia dan rahamat Alloh di dalamnya.

(15)