Menyoal Modus Mengikuti PSP

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang)

Menarik mencermati program PSP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Apa yang menarik? Diantaranya adalah adanya sebuah dinamika minat dan dugaan latar belakang mengikuti PSP. PSP adalah Program Sekolah Penggerak yang tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas belajar siswa. Meningkatnya kualitas belajar akan melahirkan pelajar berkarakter dalam wujud Pelajar Pancasila.

Sekolah harus diintervensi agar “Mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan beraklhak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global”. Ini visi pendidikan Indonesia yang diinginkan, dan PSP adalah diantara katalisasinya.

Pemerintah telah dan sedang melakukan intervensi melalui PSP agar lahir sekolah yang lebih baik. Setidaknya saat ini dari 34 provinsi dan ratusan ribu sekolah negeri dan swasta dari semua jenjang terseleksi 5.019 Kepala Sekolah lolos tahap 1. Program PSP adalah program baru yang masih berkelindan dengan visi Merdeka Belajar. Merdeka Belajar bentuk katalisasinya adalah PSP. Intervensi PSP membutuhkan keseriusan dan periode khusus.

Intervensi sekolah penggerak agar lahir Pelajar Pancasila minimal 3 tahun. Makanya syarat mengikuti program sekolah penggerak (PSP) harus “bersedia” satu periode menjadi kepala sekolah di sekolah yang saat ini mendaftar PSP. Ini menjadi menarik disoal. Ada sejumlah motivasi atau “modus” mengapa para kepala sekolah mengikuti PSP ?

Modus pertama adalah suka tantangan ! Ini modus personal. Sejumlah orang adrenalinnya terstimulus kalau ada tantangan. Sejumlah kepala sekolah yang enerjik “gatel” dan “haus” melihat sebuah seleksi bawaannya ingin ikut. Klejotan ingin berkompetisi. Itulah diantara kepala sekolah yang memiiki motivasi berprestasi dan narcistik tinggi. Kadang ada sejumlah kepala sekolah yang punya “birahi” berprestasi tinggi.

Modus kedua adalah keinginan serius cius membangun sekolah. Ini modus organisasional. Sejumlah kepala sekolah merasa dimana Ia bertugas sekolahnya benar-benar memerlukan “bantuan” pemerintah dalam segala hal yang menjadi impian bersama entitas sekolah. Ia berharap bila sekolahnya menjadi sekolah penggerak akan ada “supplier” khusus dari pemerintah untuk sekolah dimana Ia tugas.

Modus ketiga adalah keinginan agar tidak dipindah. Misal seorang kepala sekolah yang merasa pas, cocok, beruntung dan nyaman di sekolah yang saat ini bertugas, maka mengikuti PSP adalah diantara “cara cerdas” agar tidak kena rotasi. Sekolah besar, favorit, ternama dan “sejahtera” enggan untuk ditinggalkan. Bukankah tidak sedikit kepala sekolah yang bertugas “enggan” pindah ? PSP adalah “BPJS” bagaikan “jaminan sosial” agar tetap di sekolah yang disukai.

Modus keempat adalah karir. Bagi kepala sekolah muda di bawah 40 tahun, mengikuti PSP bisa menjadi tangga karir yang baik. Bukankah bagi kepala sekolah muda sangat banyak peluang dan tantangan ke depan yang bisa diraih ? Bisa jadi seorang kepala sekolah terbaik dalam program PSP “naik derajat” loncat karir. Best practicenya terkait PSP bisa jadi portofolio terbaik untuk tangga karir.

Tidak ada satu pun manusia yang tak luput dari modus atau zero mudus. Semuanya bermodus, kadar dan kekentalan modusnya saja yang berbeda. Terutama bagi manusia-manusia yang punya ambisi dan “birahi” tinggi atau hiper motivasi. Bagi mereka melihat kompetisi dan tantangan bagaikan melihat “dimensi bohay” yang harus ditaklukan. Itulah sedikit diantara entitas hipermotivate.

Mohon maaf tulisan ini agak “menusuk” pada realitas keberagaman modus diantara para peserta PSP. Bagi yang lolos tahap 1, selamat berjuang ke jenjang tahap 2. Bagi yang tidak lolos selamat “liburan” dari nuansa kompetisi. Bagi yang tidak ikut karena mau pensiun semoga sehat selalu. Bagi Kepala sekolah muda yang tidak ikut semoga tetap muda dan teruslah menaikan kapasitas manajerial.

(54)