Guru Salah Pola Didik

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Almarhum pahlawan sertifikasi, Prof.Dr.H.Mohamad Surya mengapresiasi tulisan Saya yang dimuat di koran Pikiran Rakyat. Saya kadang berbagi tulisan dengan beliau ketika tulisan kami berdua di muat di koran Pikiran Rakyat. Tulisan yang diapresiasi Prof.Surya adalah terkait pola mendidik anak di satuan pendidikan.

Saya coba ingat-ingat kembali substansi dari tulisan lama Saya tentang pola didik. Apa yang membuat Saya mengingat kembali ? Asbabnya adalah saat meeting terbatas dengan sejumlah guru dan wakasek di SMAN1 Parungpanjang. Saya motivasi para guru agar tetap semangat mengajar dan mendidik di era pandemi.

Dalam motivasi itu Saya tekankan bahwa seorang guru mata pelajaran harus benar-benar mengerti apa yang diinginkan anak dan masa depannya. Saya contohkan Bu Dini sebagai guru Mata pelajaran Kimia yang hadir dalam meeting itu.

Saya katakan kepada Bu Dini, “Bu Dini adalah guru Mata Pelajaran Kimia, Ibu harus benar-benar menjadi guru yang menarik, menyenangkan dan bersahabat dengan anak”. Saya katakan, faktanya Sang Anak mayoritas tidak terlalu peduli dengan mata pelajaran. Mereka mayoritas kurang tertarik dengan mata pelajaran, mata pelajaran apa pun.

Hanya beberapa anak yang menyukai mata pelajaran tertentu. Itu pun terutama bagi anak yang berada di sekolah kota favorit dan bercita-cita akan kuliah. Misal ingin menjadi ahli kimia atau guru kimia maka Ia menyukai mata pelajaran kimia. Mayoritas anak “tak peduli” dengan mata pelajaran. Kecuali “terpaksa” karena ada di jurusan yang Ia pilih atau dipilihkan oleh sekolah.

Memahami realitas anak yang tak menyukai mata pelajaran dan belajar kadang terpaksa, apa yang harus dilakukan ? Pola didik bagaimana agar mereka semangat belajar dan menyukai mata pelajaran ? Bagimana agar mereka mampu meraih kognitif sesuai target ? Mulailah dari hal sederhana. Jadilah guru yang benar-benar mencintai anak dan benar-benar mengapresiasi mereka dengan tulus secara personal.

Puji anak satu persatu sesuai unikasi positifnya. Selain pujian secara klasikal tentunya. Setiap anak menyimpan potensi positif yang bisa diapresiasi dan ditumbuhkembangkan oleh gurunya. Pepatah bijak mengatakan, “Setiap anak adalah bintang”. Perlakukan mereka sebagai bintang maka akan lahir bintang kelas dan bintang kepribadian masing-masing.

Seorang anak sekali lagi tidak terlalu membutuhkan mata pelajaran melainkan sangat membutuhkan ”Mata Hati” penuh cinta dari gurunya. Anak bukan makhluk akademik, Ia adalah makhluk yang butuh perhatian dan butuh motivasi. Maka melalui pendekatan dan pola didik yang baik sisi akademiknya bisa tumbuh menyertai.

Anak bersekolah pada hakekatnya bukan untuk mendapatkan nilai raport, angka-angka pencapaian kognitif semata. Anak didik dididik untuk menjadi manusia yang bertumbuh afektif, kognitif dan psikomotornya. Terutama afektif yang harus menjadi prioritas pola didik para guru. Afeksi anak didiklah yang menjadi dasar mental Ia bertumbuh atau bermasalah.

Guru jangan salah pola didik, bekerja berpola akademik minded. Guru tugas utamanya bukan menjejalkan mata pelajaran pada otak anak didik. Tugas utama guru adalah memanusiakan anak agar tumbuh menjadi lebih baik, mandiri, berakhalk mulia dan dewasa. Ini yang utama! Mata pelajaran adalah bagian dari “alat” agar anak didik bertumbuh dan berkarakter.

Faktanya setiap anak yang sudah lama menjadi alumni yang diingat dari gurunya bukan bagaimana gurunya menjelaskan mata pelajaran yang diampunya, melainkan bagaimana sikap, sifat dan kasih sayang gurunya pada mereka. Apa yang sudah gurunya lakukan dahulu pada saat mereka belajar bukan mata pelajaran apa yang mereka bawakan.

Faktanya setiap lulusan atau anak didik yang terjun dalam kehidupan tidak dihadapkan pada mata pelajaran atau hal-hal yang selalu akademik. Melainkan Ia dihadapkan dan berhadapan dengan sejumlah dinamika kehidupan. Universitas kehidupan pasca sekolah tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran. Faktanya hanya berkaitan dengan “Mata Hati” dan bagaimana berelasi dengan baik.

Hasil penelitian para ahli menyatakan sukses seseorang ditentukan 80 persen oleh sikap mental bukan mata pelajaran atau intelektual akademikus. Pola didik guru harus lebih mengembangkan, menekankan dan menargetkan tumbuh kembang sikap mental setiap anak didik. Anak didik jangan ditekan terlalu akademik melainkan distimulus semangat dan pengembangan karakternya.

Nabi Muhammad pun diutus bukan untuk misi akademik melainkan misi akhlak, misi mental karakter. Sukses seseorang itu terkait karakternya bukan akademiknya. Hal yang berbau pengetahuan, keterampilan tidak lebih penting dari akhlak dan karakter. Makanya menciptaan generasi berkarakter dan berakhlak mulia jauh lebih sulit dari menciptakan anak pintar dan terampil.

Mendidik itu tak mudah, beda dengan mengajar. Mendidik itu sangat identik dengan guru. Mengajar bisa dilakukan oleh bukan guru sekali pun. Guru adalah pendidik dan pengajar. Namun wajah dan performa guru harus lebih mengemuka sebagai pendidik bukan “Tukang Ngajar”. Makanya tekanan seorang guru harus lebih kuat pedagogiknya dibanding kompetensi lainnya. Mengenali karakteristik anak didik terkait pedagogik dan terkait pola didik yang akan diterapkan agar anak berkarakter.

Kebanyak guru lebih menyukai pola didik klasikal. Semua anak dianggap sama dan dianggap barisan pendengar di ruang kelas. Pola didik klasikal terasa bagaikan “industri” mencetak anak-anak naik kelas dan lulus sekolah. Pola didik personal dari hati ke hati pun perlu dilakukan untuk menambal kelemahan pembelajaran klasikal.

Apa yang harus dilakukan para guru ? Jangan sampai salah pola didik. Mayoritas guru bahkan pemerintah bisa jadi terlibat dalam kesalahan kolosal pola didik anak. Terutama dahoeloe. Bukankah saat adanya UN anak didik digiring menjadi “pemuja angka” dan “penghamba” mata pelajaran yang di UN kan ?

Pengalaman era UN jauh lebih “Lost Generation” dibanding era pandemi corona. Mengapa Saya katakan demikian ? Saat era UN terjadi “aborsi” kejujuran kolektif dari Sabang sampai Merauke. Bisa dipastikan mayoritas sekolah terlibat “aborsi” nilai-nilai kejujuran. Padahal kejujuran adalah inti dari pendidikan. Masih ingat tragedi SDN Gadel ? Anak jujur diusir ?

Rekayasa nilai UN benar-benar masif, marak, semarak dan terstruktur. Para kepala daerah, Kepala Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru dan anak didik “seirama” dalam ketidakjujuran. Ini rekaman “abad kegelapan” yang menggiring pola didik pada angka dan akademik minded. Mengabaikan mentalitas kejujuran memuja dan berhamba pada angka-angka yang menentukan keulusan dan citra politik sekaligus.

Stop pola didik yang menyesatkan dan menyengsarakan anak pada masa depan. Mulai pola baru dengan mengutamakan penguatan non mata pelajaran melainkan mentalitas,, akhlak dan karakter. Hadirlah para guru dihadapan anak didik sebagai teman, mentor, apresiator dan solutor usia fase pancaroba mereka.

Gagal mata pelajaran bisa remedial. Gagal pelajaran kehidupan jauh lebih sulit. Pelajaran kehidupan lebih penting dari mata pelajaran. Sosok guru harus lebih menekankan mata pelajaran kehidupan (akhlak/karakter) dibanding mata pelajaran yang diampu. Itu intinya pola didik yang yang lebih dibutuhkan.

Mengapa banyak penganguran dan sarjana yang menganggur ? Karena saat Ia sekolah terlalu banyak dijejali mata pelajaran dan mata kulliah. Guru dan dosen lupa bahwa anak didik dan mahasiswa akan berhadapan dengan “monster” realitas kehidupan yang tidak membutuhkan mata pelajaran. Melainkan hanya membutuhkan “keterampilan” berkahlak, mentalitas dan adaptasi.

Bisa juga mengapa banyak orang korupsi. Banyak orang mudah sakit hati. Banyak orang penyuka hoaxs. Banyak orang nyinyiran dan bau anyir. Banyak orang sulit move on. Banyak orang kikir memuji dan mengapresiasi. Banyak orang gandrung politik identitas. Banyak orang miskin dan pemalas. Mudah menyalahkan dan siapa pun disalahkan. Ini namanya eror kolektif, bahaya !

Kebangsaan kita sukses dan gagal pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh TNI, Polisi dan Politisi. Sukses masa depan kebangsaan kita terkait erat dengan SDM kita. Apakah mayoritas SDM kita lugu meminjam istilah Prof.Dr. LJenderal Purn. Hendropriyono atau smart dan berkarakter ? Bila bangsa kita mayoritas lugu maka dipastikan kita akan terus penuh konflik.

Sementara bangsa lain sudah mendayung dan melaju dengan kencang menuju pulau harapan. Kita masih berebut peranan dan bahkan berebut “identitas” mengedepankan teriak dan saling hujat. Begitu mudah teriak memanggil Tuhan namun begitu lugu ketika dihadapkan pada kompetisi dan tuntutan akselerasi perubahan jaman. Quo Vadis bangsa dan negeri tercinta Republik Indonesia ?

Tidak ada jalan lain memperbaiki bangsa kita selain melaui proses jalan panjang. Jalan panjang itu tidak pragmatis politis dan menghalalkan segala cara. Melainkan jalan yang halal yang panjang yakni proses pendidikan. Hanya ditangan para guru-guru yang hebat bangsa ini akan menjadi lebih hebat. Tentu kita berharap tidak ada lagi nasib getir guru honorer yang dipecat atau bergaji sangat rendah.

(8)