Kepala Sekolah “Tendang” Guru Honorer

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Pedih, perih dan menyayat rasa ketika masih ada guru honorer di Sulawesi Selatan yang diduga diperlakukan tidak manusiawi. Lebih pedih lagi yang memperlakukan tak manusiawi itu adalah seorang kepala sekolah. Kepala sekolah idealnya menjadi “Ibu” bagi para guru di setiap satuan pendidikan.

Bila ada kepala sekolah yang berbuat dan bertindak tak manusiawi pada guru, apalagi guru honorer tentu terlalu. Rhoma Irama pasti mengatakan, “Teganya Ani” kalau kepala sekolah namanya Ibu Ani.

Ya, idealnya seorang kepala sekolah harus menjadi Ibu atau Bapak bagi warga satuan pendidikan. Jangan malah menjadi “Ibu Tiri” kasian guru dan warga sekolah. Tindakan kepala sekolah adalah wajah sekolah.

Bagaimana bisa seorang guru honorer yang sudah belasan tahun mengabdi “ditendang” mentalnya dengan pemecatan.

Hanya karena mengekspose nominal gaji di jejaring sosial, Ia dipecat. Kemana kompetensi kepala sekolah yang harusnya memberi solusi dan keputusan yang bijak. Memberi vonis pemecatan adalah sangat tak manusiawi.

Akankah terus berlanjut “penganiayaan” pada entitas guru honorer terjadi ? Faktanya guru honorer terdiskriminasi oleh empat penjuru angin derita. Harusnya empat angin diskrimintaif ini tak ada.

Pertama diskriminasi dari pemerintah. Kedua dari internal sistem satuan pendidikan. Ketiga dari rekan sejawat dan keempat dari masyarakat. Kempat angin negatif ini masih menerpa nasib dan martabat para guru honorer.

Malah masih ada pengurus organisasi profesi guru berkonflik dengan guru honorer. Makin nestapa nasib guru honorer. Kemana guru honorer mengadu ? Apa mesti mengadu ke PBB ? Rasanya tak elok.

Saat wabah memapar setahun ini, nasib guru honorer sudah puluhan tahun terpapar “covid finansial”. Mengapa? Karena bukannya sejahtera dan naik gaji malah dipecat!

Stooop ! Diskriminasi pada guru honorer. Saatnya para kepala sekolah, rekan sejawat, masyarakat dan pemerintah lebih peduli pada entitas mereka. Bila tidak ? Maka kita semua akan menanggung dosa dan dampak lain pada kehidupan kita semua.

(11)