Keluarga Guru Jatuh Menjemput Surga

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Orang beriman mengatakan,”Kita lahir dari rahmat Allah, hidup mencari rahmat Allah dan kembali pada rahmat Allah”. Hidup hakekatnya bagaikan tiga hari. Hari pertama telah berlalu, hari ini di jalani dan hari esok pun akan berakhir. Semua orang merasa bahwa waktu bergerak begitu cepat.

Setahun terasa sebulan, sebulan terasa seminggu, seminggu terasa sehari dan sehari terasa satu jam saja. Hidup hanyalah perlintasan cepat dan akan berakhir dalam keabadian yang penuh misteri. Sungguh beruntung orang-orang yang lahir dan hidup mulia, wafat syahid. Termasuk Isya Allah diantaranya adalah keluarga guru yang jatuh dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Sejumlah keluarga guru yang syahid jatuh dari pesawat itu diantaranya adalah “Ibu Rahmawati, Kepala Sekolah SD Kartika Pontianak Kota. Ibu Panca Widya Susanti, guru SMK 3. Ibu Mariani guru SDN 55 Pontianak Barat, dan Bapak Mohtar, guru SDN 16 Pontianak Timur.” Sungguh dihadapan kita terlihat kejatuhan pesawat itu adalah sebuah kecelakaan yang tragis dan mengerikan.

Namun kita yakin dihadapan Tuhan bagi keluarga guru yang jatuh dari pesawat adalah asbab mereka menjemput surga terbaiknya. Sahabat pembaca, satu pekerjaan yang paling mulia di muka bumi diantaranya adalah orang yang bekerja menuntut ilmu dan menebarkan ilmu. Orang yang mengajak dan memberi contoh. Para guru yang wafat adalah orang-orang termasuk di dalamnya.

Sebuah hadits mengatakan, “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.” Bukankah keluarga guru yang jatuh dari pesawat adalah keluarga penuntut ilmu? Sebuah perjalanan seorang penuntut ilmu (guru) adalah perjalanan ibadah. Setiap guru adalah penuntut ilmu. “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Yakinlah setiap guru soleh dan dedikatif perjalanan kemana pun adalah perjalanan ibadah. Setiap apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialami seorang guru biasanya menjadi “suplemen” pembelajaran di ruang kelas. Bahkan Saya saja yang tidak naik pesawat saat ini sedang “belajar” memahami syahidnya para guru yang jatuh dari pesawat.

Sebuah kata indah dari Nabi Muhammad mengatakan, “Jika seseorang bepergian dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan menjadikan perjalanannya seperti perjalanan menuju surga.” Kemana pun keluarga guru pergi, identik dan terkait dengan mencari ilmu dan menebarkan ilmu. Seorang guru yang baik, bila bepergian selalu menangkap makna dari apa yang dilihatnya dan dialaminya. Pengalaman adalah guru yang baik. Perjalanan adalah pengalaman dan pengalaman yang dimaknai adalah proses belajar.

Debagai Ketua Pengurus Besar PGRI, Saya mengucapkan “Belasungkawa dan mendoakan keluarga guru menjadi ahli Surga dan semua korban diampuni dosa-dosanya dan mendapatkan Surga terbaik amiiin yra”. Hidup adalah menunggu “panggilan pulang”, bisa “pulang” dari pesawat, kendaraan, rumah sakit atau tempat tidur saat tak merasakan sakit apa pun.

Bahkan ada satu lagi musibah di Sumedang. Sejumlah ahli Surga di Sumedang pun “dipanggil pulang”. Bukankah masyarakat, aparat yang sedang bertugas mendata dan menyelamatkan orang lain ikut tertimbun longsor ? Bukankah wafat terbaik adalah saat membantu dan menolong orang lain ?

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya ? Bukankah wafat saat ritual untuk kepentingan diri sendiri tidak lebih baik dari pada wafat saat membantu dan menolong orang lain ? Para pahlawan wafat saat membantu dan memperjuangkan orang lain bukan saat semedi atau sejenisnya.

Orang yang selalu melayani dan mensukseskan hajatan orang lain maka hajatnya akan Tuhan urus. Para guru, penumpang pesawat yang soleh saat hidupnya, terlihat seperti jatuh ke laut, padahal mereka naik ke Surga terbaiknya, amiin. Termasuk warga Sumedang yang soleh dan baik saat hidupnya, terlihat seperti tertimbun tanah padahal Tuhan menjemputnya menuju Surga terbaik, Amiin YRA.

(40)