Mengikuti Jejak Pemikiran Ulama

Penulis: Dwi Arifin (Jurnalis media cetak & online, Duta Perpustakaan Dispusipda Jabar)

Masalah Sosial adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan atau sebagai kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya. Seperti kemiskinan, kesombongan, kehilangan sesuatu yang dicintai, bencana dan kerusuhan. Masalah seperti itu sudah ada sejak dulu. Lalu bagaimanakah sikap para ulama dalam menyikapinya. Sehingga kisah-kisah mereka diabadikan dalam kitab-kitab. Dan seperti apa jejak pemikiran mereka, mari kita simak beberapa kisahnya untuk kita teladani hikmahnya.

Sikap seseorang menghadapi sesuatu yang menimpanya, sangat tergantung dengan pemikirannya,. Sedangkan pemikirannya sangat terpengaruhi oleh ilmu yang tumbuh diantara kesucian hatinya atau terkotori nafsunya?
Misalnya, ada ulama yang dicaci maki, justru beliau membiarkan orang yang mencacinya? Karena ulama tersebut menyadari apa yang menjadi alasan orang mencaci makinya. Tidak sebanding dengan banyaknya keburukan yang tersembunyi atau bahkan tidak diketahui oleh orang yang mencacinya.

Ada juga ulama yang diuji dengan harus diamputasi kakinya seperti Urwah Bin Zubair murid sahabat Nabi. Sebelum diamputasi sang dokter menawari dengan minuman yang memabukan agar rasa sakitnya tak terasa. Namun ulama tersebut menolak. Pada saat yang tak jauh beda, ulama tersebut kehilangan anaknya karena tertendang Unta yang dipelihara. Yang menarik ulama itu hanya bersikap dengan lapang dada, dan ungkapannya diabadikan dalam kitab-kitab para ulama setelahnya. “ Alloh berikan aku dua tangan, dan dua kaki. Alloh ambil satu kakiku, dan aku masih memiliki banyak sisanya. Sedangkan Alloh ambil satu anakku dan aku masih memiliki banyak anak-anak untuk menemaniku.

Sikap ulama Indonesia juga sangat menarik. Seperti sikap Buya Hamka, beliau dipenjara oleh lawan politiknya, namun saat orang yang mempenjarakannya meninggal dunia. Dan berwasiat ingin disholatkan olehnya. Maka Buya Hamka datang dengan lapang dada.
Ulama memang istimewa sikapnya. Bahkan pada orang yang berniat jahat padanya. Cerita lain, sang ulama didatangi orang yang masuk berniat mencuri. Lalu ulama tersebut justru mempersilahkan menyediakan makan malam untuknya. Dan bersedih melihat tamunya/sang pencuri tidak menemukan barang berharga di rumahnya.

Dalam hal keihklasan kita bisa meneladani Sufyan Ats-Tsauri. Beliau ulama yang saat terperosok ke dalam sumur, tidak mau ditolong oleh muridnya. Karena takut amal mengajar murid-muridnya langsung dibalas didunia saat muridnya menolong dirinya.

Disisi lain, kepedulian ulama terhadap umatnya, mereka menghimpun kitab dengan waktu yang lama dan kurang tidurnya agar ilmunya bisa dinikmati oleh umat setelahnya. Mereka juga berjalan dengan jarak berbulan-bulan dari Barat ke Timur ke penjuru dunia.

Dari kisah-kisah diatas sungguh indah untuk menjadi pelipur lara. Apalagi sampai dijadikan jalan hidup manusia pasti akan terasa bahagianya. Pemikiran ulama sungguh luas tidak seperti manusia biasa. Maka sudah semestinya kita membaca kitab-kitabnya lalu meneladani kisah-kisahnya

(21)