Untuk Bapak Jokowi Dan Menteri Terkait

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Bapak Jokowi Saya pengagum Bapak. Saya bukan PNS yang masuk kategori 72 persen. Tulisan di media cetak dan dua buku khusus terkait Bapak, Saya tulis. Bapak orang yang sangat hebat dan Saya kagumi. Tulisan-tulisan Saya tentang Bapak, terdokumentasi dengan baik. Namun maaf Bapak Jokowi, melalui tulisan ini Saya akan narasikan sebuah derita panjang rakyat Bapak.

Rakyat yang mana? Rakyat entitas guru honorer kategori dua yang tertinggal menjadi PNS dan PPPK. Sebagian guru honorer kategori dua, beberapa sudah meninggal dunia membawa derita panjangnya ke alam kubur. Bapak Jokowi yang Saya muliakan dan Saya kagumi, hari ini Saya ditelephon perwakilan guru honorer kategori dua.

Mereka mengaspirasikan derita panjangnya sebagai pahlawan pendidik usia tua. Usia mereka banyak yang di atas 50 tahun. Diantara para pengabdi itu adalah Ibu Rr. Dyan Candrasari. N, S.Pd., Ia sudah mengabdi pada negara sejak 1990. Entitas mereka awalnya sangat berharap mengikuti sahabat lainnya yang sudah lolos menjadi PNS. Kini harapan itu tiada.

Satu lagi adalah Ibu Tita sugihartati 52 tahun, Ia mengajar sejak bulan Juli tahun 2004. Dari aspirasi yang mereka inginkan substansinya sama yakni “Mohon kepada pemerintah agar guru yang usia nya di atas 50 tahun tolong di prioritas kan” Mereka para guru tua meminta keadilan pada pemerintah melalui Bapak Jokowi sebagai Presidennya.

Sebagai pendidik, pengurus organisasi profesi guru, Saya setuju dan sepakat bila pemerintah ingin mengamalkan Pancasila terutama sila ke dua yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, adakan jalur khusus jadikan mereka ASN PPPK, karena tak memungkinkan menjadi ASN PNS karena aturan baru. Mereka tidak harus diadukan atau seleksi bersama para guru muda.

Mengapa mereka tidak harus beradu dengan guru muda? Pepatah bijak mengatakan “Orang yang berjasa jauh lebih utama dari orang yang pintar namun baru mau memulai kerja atau berjuang”. Para tenaga honorer guru dan tenaga honorer lainnya di republik ini yang sudah berusia lanjut dan berprestasi (mengabdi lama non UMR/UMP/UMK) segera loloskan jalur ASN PPPK! Portofolio dedikasi mereka lebih dari cukup!

Dalam kisah keagamaan seorang ulama menceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khatab mendapatkan seorang Ibu tua (metafora honorer kategri dua) memasak batu untuk “mengelabui” anak-anaknya yang kelaparan agar tertidur. Ini persis dengan nasib para guru honorer kategori dua yang sudah pada berumur dan sengsara membiayai anak-anaknya.

Betapa indahnya bila Bapak Jokowi bagaikan Khaifah Umar bin Khatab memanggul sendiri karung beras dan diberikan pada Ibu tua yang kelaparan. Mengapa tidak, yang mulia Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo “memanggul sekarung” SK diterimanya para guru honorer tua kategori dua, dimuliakan menjadi PPPK tanpa tes! Mereka sudah bukan waktunya di tes lagi melainkan dimuliakan!

Sehat selalu Bapak Presidenku, semoga Bapak mendengar jeritan pinggiran para guru honorer tua kategori dua. Saya percaya dalam kepemimpinan Bapak tidak ada guru yang merasa dizolimi. Kami menunggu waktu perintah Bapak pada pembantu Bapak agar memuliakan mereka (guru honorer kategori dua) sesuai Pancasila sila ke dua!

(70)