Daerah Yang Terkendala Akses Internet Di Jabar Diprioritaskan Belajar Tatap Muka

Pewarta: Dwi Arifin

Koran Sinar Pagi (Bandung)-, Proses kegiatan belajar mengajar di tingkat sekolah menengah yang dirindukan siswa didik. Akan berlangsung pada awal bulan ini. Namun tidak semua sekolah di Jawa Barat dapat melaksanakan belajar secara tatap muka karena terkendala wabah corona yang belum pasti berakhirnya. Pembelajaran tatap muka diprioritaskan bagi sekolah yang terkendala akses internet. Sedangkan yang akses internetnya normal diarahkan suka rela melaksanakan secara online untuk keamanan siswanya.

Kemendikbud telah mengizinkan beberapa daerah untuk sekolah tatap muka di tengah pandemi ini. Beberapa sekolah pun sudah melakukan persiapkan dan simulasi pembelajaranya.

Namun memasuki awal tahun baru 2021, jumlah pasien positif covid 19 terus mengalami peningkatan. Melihat situasi tersebut, banyak pemerintah daerah membatalkan sekolah tatap muka dan kembali sekolah online.

Disaat pemerintah daerah lain membatalkan agenda pembelajaran tatap mukanya. Pemerintah provinsi Jabar berupaya tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Kadisdik Jabar Dedi Supendi menjelaskan, berdasarkan survei melalui dapodik, ada 1.743 sekolah (34,89%) sekolah yang siap melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, itu hanya dalam tahap pertama, yakni kesiapan sekolah.

Hingga saat ini menurutnya berdasarkan laporan Disdik kabupaten/kota di Jabar, ada 12 kabupaten/kota pembelajaran tatap muka secara parsial yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan perkembangan Covid-19 di wilayah tersebut. Di antaranya, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Garut.

“Parsial itu misalnya, di satu kabupaten ada kecamatan yang harus tatap muka, tapi ada juga yag belum diizinkan tatap muka,” jelasnya.

Sedangkan 15 kabupaten/kota lainnya, tambah Kadisdik, menetapkan melanjutkan pola belajar dari rumah (BDR). Antara lain, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kabupaten Bekasi. “Kabupaten/kota yang memilih BDR akan melakukan evaluasi kembali perkembangan Covid-19 di awal Februari 2021,” ungkapnya.

Terkait rencana tatap muka ini pilihannya adalah tatap muka dilakukan secara bertahap dengan prinsip sukarela dan tidak wajib. Artinya sukarela dan tidak wajib ini penerapannya secara parsial, misal di satu kecamatan diperbolehkan tatap muka, tapi di kecamatan lainnya yang berada di kabupaten yang sama, tidak diizinkan tatap muka sesuai rekomendasi satgas,” kata Dedi menjelaskan.

Secara umum, kata Dedi, 12 wilayah yang mengajukan belajar tatap muka berada di wilayah kabupaten yang terkendala dengan sinyal internet. Di antaranya Kabupaten Purwakarta, Kuningan, Garut, Cirebon, Pangandaran, Ciamis, Banjar dan Subang.

Kadisdik menegaskan, apapun pola pembelajarannya, satuan pendidikan di Jabar telah siap menyelenggarakan pembelajaran pada 11 Januari 2021. Terlebih, pihaknya sudah meluncurkan Kurikulum Masagi, yakni implementasi kurikulum nasional berbasis karakter dan based learning dengan kearifan lokal Jawa Barat.

Kurikulum Masagi memberikan fleksibilitas antara kurikulum nasional dan daerah. “Fleksibilitas tersebut juga akan memudahkan pembelajaran di masa adaptasi kebiasaan baru saat ini,” pungkasnya.

(139)