Pemda Harus Menganalisa Lebih Jauh Dampak PJJ

Pewarta : Fitri

Koran SINAR PAGI, Kab.Garut – Pandemi covid-19 ini sangat mempengaruhi akan stabilitasasi negara, terutama dalam aspek pendidikan, dari awalnya dilaksanakan secara kebiasaan pembelajaran itu adalah tatap muka, menjadi pembelajaran jarak jauh.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyadari banyak persoalan yang terjadi selama penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19. Bahkan, semakin lama kebijakan itu dilakukan justru telah berdampak negatif terhadap anak.

Mendikbud Nadiem Makarim menyampaikan dampak negatif itu meliputi ancaman putus sekolah, terhambatnya tumbuh kembang anak, tekanan psikososial hingga terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang dialami anak.

M Abdussalim pengurus besar Mahasiswa Keguruan Indonesia (MKI) mengatakan Dampak negatif yang terjadi pada siswa itu suatu hal yang real. “Kalau terus menerus (pembelajaran jarak jauh) dilaksanakan, bisa menjadi suatu resiko yang menimbulkan akan ketidak seimbangannya pemikiran,,” ujarnya.

Ia mengatakan banyak orang tua yang tidak faham dengan peran fungsi orang tua, di tambah lagi faktor ekonomi yang mendorong anak terpaksa bekerja membantu keuangan keluarga akibat terdampak pandemi.

Disisi lain, banyak orang tua yang tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar apabila pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka. Kondisi itu menyebabkan anak berpotensi terancam putus sekolah. ujar dia. (21/11/20)

Ditambah juga proses tumbuh kembang karakter dan pemikiran siswa menjadi terhambat.

Abdus juga mengatakan terkait dengan kebijakan dinas pendidikan kabupaten Garut yang mengatakan bahwa pembelajaran tatap muka akan di laksanakan kalau sudah ada vaksin covid-19. Di kutip dari media online pikiran rakyat. (21/11/20).

“Dari kebijakan tersebut, seharusnya dinas pendidikan bisa lebih menganalisa jauh terhadap dampak yang mengarah akan terbunuh nya karakter dan pemikiran bangsa, bukan hanya berfikir sesuatu hal yang bersifat material, tetapi in materialnya juga harus di pertimbangkan. Keluh kesah siswa dan guru bahkan sampai orang tua juga mengeluh dengan PJJ (pembelajaran jarak jauh),” tegas Abdussalim

Sementara, Moh. Sehabudin mahasiswa Universitas Garut fakultas pendidikan Islam dan keguruan, beliau mengatakan bahwa Perbedaan kebijakan ketika berbicara kerumunan masa, kerumunan pasar, kerumunan pariwisata dan juga kerumunan demonstrasi, itu adalah salah satu bukti yang jelas meskipun kabupaten Garut sedang ada di posisi zona orange.

“Saya yang sedang melaksanakan PLP (program latihan propesi) merasakan sulitnya pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini supaya kena subtansi materi pembelajaran yang saya berikan kepada siswa, bukan hanya persoalan akses jaringan dan juga handphone, tetapi pendekatan emosional dan juga sosial antara peserta didik degan peserta didik dan pendidik dengan peserta didik yang dipengaruhi akan keterbatasan media sosial, ujarnya.

(11)