Dua Ayat Al-quran Yang Membuat Banyak Sahabat Nabi Menangis

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Bandung )-, Ada dua perkara yang sering menjadi benalu dalam kehidupan hati manusia yaitu riya (beramal agar dilihat orang lain) dan cinta dunia (beramal untuk mendapatkan dunia). Akhirnya manusia itu tidak mampu untuk mendapatkan keikhlasan. Makanya ketika kita sudah mengetahui pentingnya masalah ini sampai menjadi sepertiga dari bangunan ibadah kita. Setelah kita mempelajari ilmu menjadi orang yang siap memiliki gunting untuk memotong benalu di dalam hati kita. Ucap usatdz Oemar Mita LC pada ceramahnya akun youtube Moeslem_Mind

Barangsiapa yang dia beribadah tapi niatnya di dalam dia ibadah diniatkan untuk mencari kenikmatan dunia. Maka ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Hal itu menjadi ketakutan para ulama yang dikisahkan. Dalam beberapa riwayat ketika mereka mendapati suatu kenikmatan setelah mereka beribadah itu ketakutan. Sampai mereka itu berkata jangan-jangan kami dikasih oleh Alloh dunia ini yang kami dapatkan ini menggugurkan pahala Kami nanti di Akhirat.

Sahabat Nabi, Abdullah bin Mubarak meceritakan para sahabat seringnya menangis dan sedih saat membaca Alquran, tidak ada yang paling banyak menyebabkan para sahabat itu menangis. Kecuali 2 ayat-ayat yang paling banyak para sahabat itu menangis.

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak mem­peroleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Qur’an Surat Hud, ayat 15-16)

Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas, mengungkapkan bahwa sesungguhnya orang-orang yang suka riya (pamer dalam amalnya), maka pahala mereka diberikan di dunia ini. Demikian itu karena mereka tidak dianiaya barang sedikit pun.

Ibnu Abbas mengatakan, “Barang siapa yang beramal saleh untuk mencari keduniawian, seperti melakukan puasa, atau salat, atau bertahajud di malam hari, yang semuanya itu ia kerjakan hanya semata-mata untuk mencari keduniawian, maka Allah berfirman, ‘Aku akan memenuhi apa yang dicarinya di dunia, ini sebagai pembalasannya, sedangkan amalnya yang ia kerjakan untuk mencari keduniawian itu digugurkan, dan dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi’.”

Allah tegaskan siapa yang meninggal dalam kehidupan dunia hanya ingin dapat dunia saja. Maka kami akan berikan dunia itu kepadanya tidak dikurangi, tapi kelak dalam kehidupan di akhirat. Tidak mendapatkan apapun kecuali sia-sia apa yang mereka lakukan apa yang mereka usahakan. Karena dalam prakteknya banyak orang yang kemudian beramal agar mendapatkan sekeping dari dunia dengan ibadah.

Yang mereka lakukan menjadikan ibadah tidak diterima. Mereka beribadah hanya untuk supaya proyek berhasil. Banyak diantara kita yang tidak sadar kita ini beribadah tetapi tersembunyi di dalam hati kita ibadah itu, hanya untuk mendapatkan kenikmatan dunia di zaman fitnah. Amal ibadah sampai-sampai menjadi rusak disebabkan karena ingin mendapatkan kehidupan dunia. Sehingga di Ahirat timbangan amalnya tidak ada, karen niat ibadahnya sudah dibalas dengan kenikmatan di dunia.

(17)