Habieb Riziek, Nikita Mirzani, Gisel dan Ade Londok

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Penulis Buku Darah Guru)

Pepatah bijak mengatakan, “Semua orang bisa menjadi guru”. Substansi dari pepatah ini diantaranya adalah apa pun dan siapa pun bisa memberi makna kehidupan pada kita. Termasuk viralnya sosok yang terkenal saat ini yakni Habieb Riziek, Nikita Mirzani, Gisel dan Ade Londok. Mereka semua bisa menjadi “guru” dalam kehidupan kita.

Tuhan hadirkan karakter Kabil dan Habil. Tuhan hadirkan Setan dan Malaikat. Tuhan hadirkan para Nabi dan musuhnya. Bahkan Tuhan siapkan neraka dan surga. Itulah kehidupan, banyak pelajaran yang bisa kita maknai. Belajar itu tidak hanya pada kisah orang baik-baik saja. Belajar itu bisa juga dari orang yang tersesat atau sangat jahat.

Kebaikan dan kejahatan bisa kita ambil maknanya bila keduanya kita pelajari. Sosok Nabi akhir zaman Muhammad SAW dan sosok Abu Jahal adalah dua karakter dari dua keluarga besar yang bersaing citra diri dan syiar ajaran. Kini di hadapan kita hadir Habieb Riziek, Nikita Mirzani, Gisel dan Ade Londok, semuanya memberikan pelajaran.

Kita bisa belajar dari Habieb Riziek yang sangat dikagumi pengagumnya. Ia tokoh ormas yang luar biasa kemampuan orasinya, akademisnya dan gambarnya ganteng tersebar di mana-mana. Kita bisa belajar dari “keunikan” Nikita Mirzani perempuan yang terkenal dan disebut Habieb Riziek sebagai lonte. Kita pun bisa memaknai “tayangan” Gisel yang pekan kemarin viral videonya. Semua adalah pelajaran.

Satu lagi sosok Ade Londok yang terkenal dengan bahasa kasarnya. Apa yang bisa kita lihat dan dengar dari Habieb Riziek, Nikita Mirzani, Gisel dan Ade londok adalah pembelajaran dari performa umat manusia. Sungguh hidup ini penuh warna dan dinamika yang aneh, unik, mengagetkan dan bahkan sangat ekstrim.

Seorang ulama mengatakan dunia ini bagi mayoritas orang bisa melenakan, mengagetkan dan bahkan bisa menjebaknya pada kelalaian. Namun bagi orang yang penuh iman, cukup wawasan dan punya cinta kasih maka segalanya akan baik-baik saja. Setiap umat manusia akan diminta pertanggung jawaban kelak. Pertanggung jawaban atas performa dan amalan kita.

Habieb Riziek, Nikita Mirzani, Gisel dan Ade Londok mereka punya “jamaah” tersendiri. Itulah kehidupan. Bahkan bukankah Abu Jahal jamaahnya ribuan saat itu. Abu Jahal sangat-sangat favorit sa’at itu bahkan julukannya adalah Abu al Hakam artinya tokoh yang bijaksana dan cerdas. Itu versi jama’ah kaum Quraisy. Semua manusia punya idola dan versi. Itulah misteri kehidupan.

Idealnya semua manusia menjadi pribadi mulia dan pemulia orang lain. Dalam ajaran agama dikatakan, ciri lain yang paling mononjol pada kepribadian orang mulia adalah beriman kepada Allah SWT dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran : “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Alashr [103]: 3).

Substansi dari ayat di atas adalah pentingnya “Nasehat Menasehati” supaya kita semua berada dalam rel kebenaran dan selalu sabar dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh kejutan. Saling hujat, saling benci, saling caci dan saling merendahkan derajat manusia bukanlah nasehat menasehati. Satu mengatakan Si Tukang Obat dan satu lagi mengatakan Si Lonte.

Semua kata dan tindakan menjelasakan kualitas diri dan karakter. Apa yang terlihat oleh kita baik atau buruk belumlah tentu demikian di hadapan Tuhan. Bukankah pernah ada kisah Si Pelacur masuk surga karena menyelamatkan seekor anjing yang kehausan ? Bukankah ada pula kisah seorang Kiai Barseso yang ahli ibadah namun akhirnya menjadi ahli neraka ? Itulah kehidupan, hasil akhir hanya Allah yang tahu dan tentukan !

(15)