Fokus Bersabar Dalam Kesabaran

Penulis: Hj. Umnia Labibah, S.Th.I, M.Si (Pengurus MUI Banyumas, Mahasiswa program Doctoral UIN Walisongo)

Tidak semua hal yang ditemui dalam hidup sesuatu yang menyenangkan. Seringkali Allah menyisipkan soal-soal ujian kehidupan dalam bentuk kesusahan dan kesulitan yang beragam bentuk, ada yang low level hingga high level.

Menghadapi ujian-ujian hidup yang dibutuhkan adalah kesabaran. Kesabaran acap kali jadi pameo yang mudah diluncurkan dari mulut, nyatanya tak mudah dalam praktik. Karena besarnya nilai sabar, sehingga Sayyidina Ali pun menempatkan sabar sebagai pokok (ra’su) iman :”as-shobru minal iman bimanzilati ra’su minal jasadi, faidza dhahaba ra’su dhahabal iman”.

Kesabaran selalu dilekatkan dengan iman. Ini artinya, orang yang telah percaya pada Allah, akan selalu berprasangka baik pada hukmullah, ketetapan Allah, sehingga apa-apa yang diterimanya akan dijalani dengan sabar. Baik itu dalam kebaikan maupun dalam kesusahan.

Saking eratnya sabar dengan percaya, iman, berkali hadist-hadist nabi menautkan keduanya. Dikatakan sabar sebagian dari iman (as-shobru minal iman), sabar merupakan bagian dari puncak keimanan (as-shobru min dzirwatil iman), dan sabar juga menjadi tanda-tanda iman (as-shobru min sya’airillah).

Sesuatu yang bermakna tentu tak begitu saja mudah diraih. Untuk mencapai derajat sabar, tuhan terus saja menyajikan berbagai soal-soal ujian, baik yang bersifat harian, tengah semester, semester bahkan tahunan. Maka bersabar dalam kesabaran adalah proses menuju derajat yang bermakna yang harus terus dilatih. Dengan banyak menahan diri dan menerima dengan ikhlas. Hati yang ikhlas akan ringan menjalani ketetapan tuhan. Sehingga hidup menjadi riang.

Ganjaran juga tergantung seberapa besar usahanya, “al-ajru bi qodri ta’ab”. Sebuah makolah mengatakan sabar adalah jalan kesuksesan, as-sobru tanalu ma turidu. Dan al-Qur’an telah menyiapkan ganjaran yang besar dari sabar, yaitu “ajruhum bi ghoiri hisab” pahala yang tanpa batas (QS az zumar :10).

Untuk pahala yang tanpa batas, tentu dibutuhkan usaha yang tanpa batas. Bersabar yang tanpa batas, bukan sebaliknya saba ada batasnya. Mengapa? Karena batas sesungguhnya adalah takdir, kematian. Selama masih ada kehidupan, selama itu pula ujian akan ada, dan kesabaran akan terus ditempa. Meski tertatih, mari bersabar dalam mencapai kesabaran.

(48)