Merasa Namanya Dicatut, Ketua BPD Tambaksari Angkat Bicara

Pewarta : A Y Saputra

Koran SINAR PAGI, Kabupaten Ciamis,- Pendirian Pertashop dan Mini Market yang berlokasi di Desa Tambaksari menuai kontroversi di kalangan masyarakat, pasalnya tak sedikit yang mengaku terkena imbas dari permasalahan yang terjadi, termasuk Ketua BPD yang merasa namanya dicantumkan dalam daftar hadir saat sosialisasi.

“Saya merasa tersinggung dengan berdirinya Pertashop, dimana beredar kabar di masyarakat pendiriannya dimotori oleh BPD dan kepala desa, padahal saya hanya hadir satu kali dalam rapat teknis saja, yang waktu itu dilaksanakan diruang kepala desa,” tutur Nendo, Ketua BPD Tambaksari, kepada koransinarpagijuara.com, Selasa (06/10/20).

Untuk kelanjutannya, dia mengaku tidak tahu – menahu, “Tiba – tiba saja ada undangan peresmian Pertashop, yang ironisnya undangan tersebut ditandatangani oleh kepala desa, bukan oleh pihak pengusaha,” katanya.

Dengan kejadian ini, dia bertanya – tanya Pertashop ini milik siapa ? kepala desa atau pengusaha ?, namun sampai saat ini dia mengaku belum mendapat kejelasan dari pihak desa.

“Kami merasa dimanfaatkan oleh pihak desa, kami harap ada keterbukaan dari pihak desa kepada lembaga saat ada program,” ujarnya, kesal.

Sementara Kepala Desa Tambaksari, H Tarsa Sujana saat ditemui ditempat kerjanya mengatakan, pihaknya telah mengundang BPD saat rapat teknis dan sosialisasi sebanyak dua kali namun tidak hadir.

“Komitmen dengan pihak perusahaan, pihak desa akan menerima fee sebesar Rp.1 juta tiap bulan,” ungkapnya.

Terkait tuduhan pencatutan nama BPD, H Tarsa membantah hal tersebut, “Kami tidak merasa mencatut nama lembaga BPD, namun waktu ada sosialisasi, waktu itu pihak pengusaha meminta cukup empat orang perwakilan saja yang hadir dan saya menurut saja,” kata Kades.

Selanjutnya, terkait dengan surat undangan peresmian yang ditandatanganinya, Kepala Desa Tambaksari, H Tarsa mengatakan hal itu atas permintaan dari pihak pengusaha.

“Surat Undangan itu memang saya yang tanda tangan, itupun atas permintaan dari pihak pengusaha,” imbuhnya.

Salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, Pemerintahan Desa Tambaksari benar – benar melumpuhkan perekonomian warganya, diamana yang semula berjejer Pom Bensin Mini milik warga, akibat adanya Pertashop, sekarang kehilangan omsetnya.

“Apalagi kalau sudah selesai Mini Marketnya, kami yakin pedagang disekitarnya akan berkurang pendapatannya,” pungkasnya.

(223)