Poros Milenial di Pilkada Kabupaten Sukabumi Jadi Wadah Aspirasi Anak Muda Berpolitik

  • Whatsapp
banner 468x60

Pewarta : Ayi Suherman

Koran SINAR PAGI, Kab.Sukabumi – Suhu politik mendekati pelaksanaan pemilihan Bupati dan wakil bupati di Kabupaten Sukabumi yang tinggal beberapa bulan lagi semakin panas ditunjukan para tim sukses di media sosial.

Hal itu mengundang keprihatinan dari kelompok pemuda yang tergabung dalam poros milenial, agar para elit politik dan tim sukses ataupun buzzer bisa memberikan contoh dan pemahaman kepada para anak muda soal politik sesungguhnya.

“Hari ini kita deklarai poros perubahan, karena kita melihat bahwa di lini media sosial, baik tim sukses maupun juga para buzzer itu dengan mudah menggeser perdebatan politiknya kearah yang tidak produktif atau tidak kearah substansial.

Oleh karena itu poros milenial hadir guna menampung aspirasi kaum muda untuk mengambil alih diskusi nya kearah yang lebih bermutu,” ujar ketua Forum Poros Milenial M. Roy Tahsin. (07/08/20)

Dijelaskan Roy Tahsin, ada dua penyebab atau fakto para tim sukses dan buzzer melakukan politik seperti itu, yakni tidak adanya perlembagaan politik yang tumbuh membudayakan demokrasi, alasan lain karena mereka tidak ingin naik kelas dalam memahami demokrasi.

“Kami ingin pemuda memahami dinamika politik, ikut serta dalam kontalasi dengan menghadirkan argumen yang bermutu, debatnya dalam tataran visi misi calon, tim sukses hari ini harusnya memperlihatkan sifat elitisnya dalam politik pencalonan tadi,” jelasnya.

“Jadi poros millenial ini wadah untuk kalangan pemuda, dimana kaum muda ini memiliki progresif dan revolusioner, kita ingin menampung kaum milenial untuk terlibat memberikan nuansa baru dalam memahami dinamika politik di Kabupaten Sukabumi,” sambungnya.

“Masih kata Roy Tahsin tidak ada segmentasi milenial artinya siapapun bisa bergabung bagi yang ingin melakukan upaya ke arah yang lebih baik bisa bergabung diskusi bersama poros milenial.

“Kami melihat para elit politisi saat ini seolah larut dalam euforia para netizen, kita bisa lihat di media sosial gagasan-gagasan yang di sampaikan tim sukses maupun bakal calon bupati serta wakilnya tidak terjadi.

Yang ada caci maki, saling sudut menyudutkan, mereka memunculkan identitas satu calon tertentu itu dilihat dari tingkat kesolehannya, padahal kita ini mau memilih calon bupati bukan wakil tuhan.” tandasnya.

Pos terkait

banner 468x60