Menyoal Entitas Kepala Sekolah

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN 1 Parungpanjang)

Kepala sekolah dahulu adalah tugas tambahan, tidak utama. Saat itu pemerintah belum memahami dengan baik pentingnya tugas kepala sekolah dalam dunia pendidikan kita. Kini pemerintah sudah mulai memahami strategisnya peran kepala sekolah dalam mendonkrak majunya pendidikan. Kini kepala sekolah sudah bukan tugas tambahan lagi.

Kalau Saya bertanya, siapa yang tahu persis jumlah siswa? Siapa yang tahu persis jumlah guru? Siapa yang tahu persis kemampuan atau kompetensi guru daam melayani anak didik? Siapa yang tahu persis derita guru honorer? Siapa yang tahu persis dinamika dunia pendidikan di daerah? Siapa yang tahu persis tuntutan dan dinamika masyarakat terkait pendidikan. Siapa yang tahu persisi kekurangan guru dan TU di satuan pendidikan?

Puluhan pertanyaan terkait tuntutan realitas pendidikan di lapangan dapat dijawab oleh orang yang terlibat, melihat, menangani, menjiwai dan berasal dari seorang guru. Siapa? Tiada lain adalah para kepala sekolah. Seorang kepala sekolah bisa lebih hebat dari Menteri Pendidikan. Apa buktinya? Seorang Mendikbud pasti tidak tahu persis jumlah guru se Indonesia. Bagaimana dinamika pendidikan seluruh Indonesia, padahal wilayah tanggung jawabnya.

Beda dengan seorang kepala sekolah dalam wilayah tanggung jawabnya di satuan pendidikan. Ia sangat tahu persis jumlah guru, TU dan bagaimana dinamika pendidik dan proses pendidikan di satuan pendidikan. Bahkan seorang kepala sekolah tahu persis bangunan fisik sekolah dari gerbang sampai belakang sekolahan. Mulai dari bangunan yang retak-retak, rusak, mau ambruk dan butuh bantuan negara, orangtua dan pihak swasta.

Mendikbud sebaiknya lebih membangun kedekatan, kemesraan dan komunikasi terjadwal secara periodik dengan entitas kepala sekolah. Para kepala sekolah lah yang tahu persis sekolah dan dinamika pendidikan, mulai dari pendidikan di daerah tertinggal sampai daerah tinggal landas. Kepala sekolah adalah manajer dan leader di garis depan dan wajah utama pendidikan yakni sekolahan.

Kuasai, kendalikan, arahkan dan perintahkan para kepala sekolah untuk bergerak masif membangun pendidikan Indonesia. Insyaallah dunia pendidikan kita melalui tangan dingin kepala sekolah 60 persen masalah pendidikan dapat terselesaikan. Mengapa entitas kepala sekolah memberi jaminan setidaknya 60 persen urusan pendidikan bisa diatasi? Faktanya memang mereka adalah bagian melekat dari dunia real pendidikan.

Ketika dana POP yang jumlahnya ratusan milyar mau diberikan pada ormas penggerak. Rasanya belum tentu tepat. Dalam organisasi penggerak bahkan dalam organisasi profesi guru penggerak pun kadang ada sejumalah orang yang bukan guru, tidak terkait pendidikan. Beda dengan entitas kepala sekolah. Ia berasal dari guru terpilih, setiap hari dengan guru, anak didik, selalu di sekolahan dan selalu mendapatkan masukan dan kritik dari masyarakat. Ormas penggerak belum tentu tahu persis terkait pendidikan karena berada di luar medan pendidikan.

Bahkan menurut Saya mengangkat guru dan TU untuk menjadi PNS atau PPPK pun cukup oleh kepala sekolah. Mengapa? Kepala sekolah tahu persis kebutuhan guru dan TU di lapangan. Tahu persis kemampuan guru dan TU di lapangan. Seorang kepala sekolah bisa melakukan seleksi proses lapangan. Guru yang mengajar dan mendidik sangat baik dan dicintai anak didik. Ajukan oleh kepala sekolah sebagai pegawai yang layak di ASN/PPPK kan.

Begitu pun mengenai TU, satpam sekolahan yang sangat baik bekerja dan dibutuhkan. Ajukan oleh kepala sekolah dengan sejumlah bukti alasan kelayakan dan administrasi yang sesuai aturan. Kepala sekolah bisa menjadi penentu seseorang layak atau tidak menjadi ASN/PPPK di satuan pendidikan berdasarkan fakta kinerja lapangan. Plus bantuan verifikasi pengawas sekolah dan komite sekolah. Bila ada kepala sekolah KKN dan menyelewengkan proses rekrutmen, berikan sanksi yang tegas!

KKKS, MKKS, AKSI dan sejumlah entitas himpunan para kepala sekolah harus “dimanjakan” oleh pemerintah. Kementerian Pendidikan “wajib” menjadikan para kepala sekolah sebagai “Kopasusnya” dunia pendidikan kita. Entitas kepala sekolah adalah “pasukan khusus” yang harus dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai terjadi, malah para kepala sekolah menjadi “paduan suara” pesanan politik, bukan paduan potensi yang menyuarakan idealisme pendidikan.

Terakhir Saya cuit pendapat Prof. Ibrahim Bafadal, Ia mengatakan “Ada sekolah tidak baik, walau dipimpin oleh kepala sekolah yang baik. Tapi, tidak ada sekolah baik dengan kepala sekolah yang tidak baik”. Silahkan dimaknai. Substansinya adalah betapa wajah sekolah sangat terkait dengan wajah kepala sekolahnya. Begitu pun wajah pendidikan di seluruh Indonesia akan banyak ditentukan oleh wajah kolektif puluhan ribu sosok kepala sekolah.

Makanya setiap Mendikbud idealnya sangat kolaboratif masif dengan entitas kepala sekolah. Kepala sekolah adalah kunci. Entitasnya harus berdaulat, merdeka, sejahtera dan berdaya untuk membangun satuan pendidikan dan secara bersama-sama mengusung sukses tujuan pendidikan nasional. Harta terbaik dan termahal di semua negara adalah anak didik, dan kepala sekolah bersama guru adalah pelayan pendidikan terdepan!

(15)